Burhan yang memang bocah polos dan selalu hidup sederhana, tidak pernah menyangka bahwa di luar lingkungannya ada hal-hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dia melihat semua kejadian di tempat itu dengan bingung dan merasa aneh dengan semua tingkah laku orang-orang yang ada di sana. Matanya menatap tajam sekitarnya dan keningnya berkerut tanda tidak mengerti, tapi nalurinya mengatakan bahwa semua yang terjadi tersebut merupakan hal yang salah tidak sesuai dengan semua ajaran kebaikan yang dia terima selama ini. Ketika matanya beradu pandang dengan salah satu pria yang ada di dekat api unggun itu, dia merasa semua bulu kuduknya berdiri dan perasaan ngeri seakan menyelimuti dirinya, otomatis dia bergerak berlindung di belakang Masnan dengan memegang jubah panjangnya. Belum pernah sepanjang hidupnya Burhan merasakan kengerian seperti ini, dia merasa orang itu menatap dia seakan ingin menelannya terlihat jakun orang itu turun naik seakan setiap saat akan melahapnya.
Tapi walaupun begitu bocah inipun bukan bocah sembarangan, dia merupakan bocah pilihan untuk mengatasi sang angkara murka, wajahnya tetap tenang dan sinar matanya tetap tajam menatap semua yang terjadi. Di wajahnya tidak ada guratan takut, kuatir atau apapun, seolah tenang dan teduh saja, hanya Masnan yang tahu betapa ketakutannya anak ini, dia merasakan tubuh anak ini gemetar dan tangannya mencengkram erat jubahnya serta jantungnya berdebar keras di kakinya. Sempat Masnan menoleh untuk memberikan ketenangan pada anak ini, tapi begitu melihat wajahnya yang tenang tidak mencerminkan ketakutannya sama sekali, Masnan dibuat kagum sekali, inilah wajah yang akan bisa menipu orang di meja judi tanpa orang tahu dia sudah menipu. Dia melihat 3 orang yang ada di api unggun itu memancarkan sinar kekaguman yang sama dengannya ketika melihat wajah tenang Burhan. Dalam hati ketiga orang itu langsung punya dugaan bocah ini pasti didikan orang hebat, dan pria yang bersamanya pasti juga orang hebat karena mereka melihat gerakan yang mantap dari pria itu dan wajah yang dingin memandang mereka dengan mata yang tajam memiriskan hati. Mereka tahu mereka berhadapan dengan orang yang berilmu tinggi juga, karena itu mereka harus hati-hati dan tidak boleh salah langkah, sekali salah nyawa taruhannya. Mereka sudah melihat nyawa mereka menjadi taruhan dalam penyelesaian mereka dengan pria gagah itu. Tapi mereka tidak takut selain ilmu mereka sudah meningkat secara personal dibandingkan dulu dan mereka juga menyempurnakan ilmu pukulan mereka dengan bimbingan guru baru mereka yang sangat mumpuni itu. Desa ini merupakan korban kedua setelah lama mereka menyembunyikan diri untuk menyembuhkan diri dan berlatih meningkatkan ilmu silat mereka. Dendam mereka kepada suami isteri Pendekar dari Bukit Naga selalu membara, semua cacat yang ada di tubuh mereka merupakan hasil karya sepasang pendekar ini tapi mereka tahu mereka belum bisa menandingi pasangan pendekar itu bahkan dengan ilmu andalan mereka yang terbarupun masih belum mampu menandingi gabungan ilmu kedua pendekar itu. Oleh karenanya mereka harus mempunyai rencana yang matang agar bisa menghancurkan musuh mereka itu kalau perlu menggunakan cara licik supaya berhasil. Sebelum rencana itu terlaksana mereka ingin menguji coba ilmu mereka yang sudah disempurnakan, karena saat ini mereka bertemu dengan orang yang kelihatannya bisa menandingi mereka. Melihat cara pria gagah itu bergerak dan sinar matanya, kelihatan bahwa orang ini berisi pasti mempunyai tenaga dalam yang hebat karena bisa mengeluarkan sinar mata yang tajam jernih. Sakti yang melihat bocah bersama pria gagah itu, merasa sangat baik sekali peruntungannya karena baru sekali ini dia melihat bocah pilihan yang jarang sekali bisa ditemui, berwajah gagah dan menyiratkan ketenangan, mempunyai sepasang mata yang bening teduh menghanyutkan setiap dia memandang mata bocah itu dia merasa dia ingin menenggelamkan diri ke dalam keteduhan mata bening itu. Hasratnya menjadi menggila setiap kali memandang wajah bocah itu belum lagi bentuk tubuhnya yang tegap gagah dengan dada bidang sungguh sebuah kombinasi yang nyaris sempurna yang dimiliki seorang bocah laki-laki, dia yakin jika bocah ini besar nanti pasti akan banyak sekali gadis-gadis jatuh hati padanya. Tapi hal ini tidak boleh terjadi hanya dia seorang yang boleh memiliki bocah sempurna ini, dia tidak akan membaginya dengan orang lain. Jika dia tidak dapat bocah ini maka tidak ada orang lain yang boleh memilikinya juga, dia sudah merencanakan jika mereka kalah nanti minimal bocah ini harus mati, dia cemburu dan iri membayangkan orang lain yang memiliki bocah ini. Sungguh pikiran orang gila dan sakit batinnya sampai bisa memikirkan hal seperti itu.. Epen yang sudah tergiur melihat kuda milik pria gagah itu langsung buka mulutnya,"Hai saudara, siapa awak (kamu) ini? Apakah datang ke sini ingin ikut berpesta bersama kami ? Hahahhaa.." Masnan menahan kemarahannya, karena dia tahu jika emosinya naik maka dia tidak akan bisa tenang memikirkan situasi di sini, dengan suara lantang mencerminkan kegagahannya dia menyahut," Namaku Masnan, dan ini muridku Burhan, aku tahu siapa kalian. Kalian merupakan pimpinan dari perkumpulan Kalajengking Merah yang bergelar Iblis Muka Setan, Iblis Mata Juling dan Iblis Gila Bocah." "Wah Pinyak, hebat dia bisa tahu siapa kita tapi dia kurang ajar mengatakan kau si mata juling..hahahaha" kata Epen, dia sengaja mengatakan seperti itu karena dia tahu temannya itu paling benci dibilang mata juling. Benar saja pria yang bermata juling itu langsung naik darah mendengar Masnan memanggil dia juling, dia merasa matanya adalah keistimewaannya yang bisa melihat segala arah dalam waktu bersamaan sekarang dihina orang dengan kata juling, langsung saja dia membuang ayam dan gadis yang ada di pangkuannya, berdiri dan bersiap ingin menyerang Masnan, tapi untung keburu ditahan temannya yang bernama Sakti. "Sabar dulu teman, kalau kau mau menghajar dia boleh saja tapi aku harus menyelamatkan dulu bocah kesayanganku itu supaya tidak kena hajaranmu. Dan lagian waktu kita masih panjang untuk mengerjai dia...hahahaha.. janganlah cepat kita mengotori tangan kita biar anak-anak saja yang menyelesaikannya,"kata Sakti dengan congkak, dia memang yang paling licik diantara mereka, dengan mengorbankan anak buah mereka dia bisa mengukur kekuatan lawannya terlebih dahulu sebelum dia turun tangan, kalaupun akhrinya dia turun tangan, lawannya sudah terkuras tenaga melawan anak buahnya itu. "Anak-anak hayo siap-siap kalian untuk menghadapi mainan baru."kata Sakti kepada anak buahnya. Begitu mendengar komando dari pimpinan mereka, segera mereka meninggalkan apapun yang sedang mereka kerjakan untuk siap-siap menyerang musuh. Di sini terlihat betapa hebatnya kepatuhan anak buah kepada para pimpinannya, padahal ada beberapa diantara mereka sedang melampiaskan nafsu binatangnya, biasanya tidak mudah untuk membuat orang yang sedang di puncak gairah menghentikan kegiatannya hanya berdasarkan perintah, tapi mereka melakukan hal itu dengan tertibnya bahkan sudah membentuk barisan walau ada beberapa diantara mereka tetap dalam kondisi memperbaiki pakaian mereka yang berantakan. Bersambung.... --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet. - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting. - Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi. - Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
