Masoed Abidin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Date: Sat, 19 Apr 2008 16:57:13 -0700
(PDT)
From: Masoed Abidin <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Belajarlah untuk mendemo diri sendiri
To: Rahima <[EMAIL PROTECTED]>
CC: Abdul Rahim Zainal Abidin Jabbar <[EMAIL PROTECTED]>,
suara Ulama <[EMAIL PROTECTED]>,
[email protected], edyutama <[EMAIL PROTECTED]>
Ananda Rahima [EMAIL PROTECTED]
moga selalu dalam hidayah Allah SWT. Amin.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
Ridha memang sangat mahal harganya,
Dari Anas bin Malik RA. Rasulullah SAW bersabda:
Besarnya suatu balasan amal tergantung pada besarnya cobaan yang diterima.
Karena sesungguhnya Allah, jika mencintai suatu kaum, maka ia timpakan bala'
pada mereka. Siapa yang ridha, baginya keridhaan Allah. Siapa yang marah, maka
baginya kemurkaan Allah." (HR. Turmudzi, [2320], Ibnu Majah [4021])
Memang ada peringatan Nabi SAW bahwa antara musibah dan kesalahan erat
hubungannya.
Peringatan Rasul SAW itu, mengajar kita agar jangan sekali-kali berbuat
kesalahan, supaya kita selalu terhindar dari bahaya.
Jika dosa manusia sudah terlalu banyak, sementara tidak ada lagi amal yang
bisa menghapuskannya. Maka Allah SWT menguji mereka dengan berbagai kesedihan,
supaya dosa-dosa mereka terhapus. (HR. Ahmad [24077],
Berkata Imam al-Mundziri, rawi-rawinya terpercaya, lihat Kanzul Ummal Imam
al-Hindi, nomor: 6787, Faidhul Qadir Imam al-Manawi nomor hadits: 838)
Dalam hal rezeki kita memang disuruh berusaha.
Namun yang sebaik usaha adalah dengan menggerakan tangan sendiri,
bertani ataupun berdagang (entrepreneur) itu.
Para guru dan ulama kita sejak dulu adalah pekerja ulet.
Adakalanya mereka punya toko kecil di pasar, walau hanya jual buku-buku
bekas, seperti Buya Nurman umpamanya.
Atau bertukang dan berdagang emas, seperti Inyik Abdurrahman Guguk Tinggi
yang hafidz Al Quran itu.
Ada pula yang punya kedai jual kopiah atau benang di tengah pasar
Bukittinggi, seperti Buya Dansat (orang Sianok yang hafal Quran juga), dan
menjadi Imam besar Masjid Raya Bukittinggi di tahun 1967.
Ada juga di antaranya yang bersawah dan beternak itik, seperti Inyik Syekh
Ibrahim Musa Parabek (yang termasuk pelopor pendidikan madrasah Sumatera
Thawalib Parabek itu)
Di antaranya, dan yang punya keterampian memasak, menjahit, di samping
berkebun-kebun kecil-kecil di kaki Singgalang, yang didatanginya hanya sekali
seminggu, seperti Ibunda Rahmah el Yunusiyah (yang telah melahirkan ribuan
serikandi ternama di seantero Nusantara dan Tanah Semenanjung, sampai ke Patani
dan Brunei Darussalam bahkan Fiji).
Bahkan ada yang lebih kreatif, menunggu orang di pintu pasar, dengan
menyediakan uang recehan yang sulit dicari di pasar, masa itu.
Dengan usaha itu dia bantu orang menukarnya,
satu rupiah di tukarnya dengan 100 sen, tidak dia kurangi.
Karena orang sudah merasa dengan jelas telah mendapatkan kemudahan, serta
merta orang mengucapkan terima kasih,
dan tidak jarang memberikan hadiah padanya.
Beliau tidak pernah menampungkan tangan,
tapi beliau berusaha membantu orang lain
Akhirnya Allah membantunya melalui tangan manusia-manusia lainnya.
Beliau adalah guru tua, salah seorang guru buya di Lambah Sianok dulu di
tahun 1949, yaitu Inyik Syekh Abdul Mu'in Lambah, jebolan Al Azhar juga ananda.
Walau di bawah desingan peluru dan ancaman tentara KNIL, ketika makanan susah
di dapat, beliau tetap tersenyum,
dan berkata kepada anak-anak didiknya dengan senyum manis,
"gerakkan tanganmu, Insya Allah..... Allah akan beri kamu rezeki.
Ketika seseorang hamba Allah yang baik mestinya memahami, kata guru tua itu,
bahwa di balik usaha kita itu ada tangan kekuasaan Allah SWT yang sedang
merancang sesuatu yang lebih baik sesudah itu. (inna ma'al 'ushry yusraa).
Dan jangan kalian lupa, kata beliau kepada kami yang masih kecil-kecil, bahwa
Allah SWT tidak pernah merancangkan sesuatu yang buruk untuk hamba-hambaNYA.
Dan satu lagi kata beliau, dengan suara lembut dan wajah cerah, bahwa
ingatlah oleh kalian .... bahwa ...Allah itu seiring dengan apa yang ada di
dalam persangkaan hamba-Nya jua....
Karena itu, kata beliau berharaplah selalu yang lebih baik kepada Allah SWT.
Pergiat dirimu.
Seringkali beliau tutup dengan sebuah doa yang kami disuruhnya menghafal dan
mengamalkannya.
Doa itu, menyadarkan kami yang masih bocah-bocah kecil itu bahwa apapun yang
terjadi di alam ini adalah atas kehendak dan izin yang Maha Kuasa.
Maka sikap terbaik adalah sabar pada terpaan awal kejadian dengan ridha,
berdo'a:
"Duhai Allah, hamba mohon kepada-Mu sikap ridha dalam menerima ketentuan-Mu"
Bertahun-tahun kemudian, Buya temukan di dalam riwayat Imam Ahmad dilaporkan,
bahwa ridha terhadap qadha', tawakkal setelah berusaha, syukur menghadapi
nikmat, dan sabar atas bala' (mushibah) adalah tuntunan para Nabi (Syara'a man
qablana) yang tetap dipelihara oleh Islam dan selalu ditekankan oleh Rasulullah
SAW dalam setiap tindakan keseharian kita.
Ananda.....,
Tampaknya pendidikan dulu itu,
lebih dahulu dititik tumpukan kepada pendidikan watak.
Alasnya iman dan keyakinan yang kokoh kepada Allah SWT.
Di atasnya itu, di asaskan kemauan bekerja keras,
yang akan menggerakkan dinamika kehidupan di mana saja.
Setelah itu di kunci dengan rajin,
serta selalu bertawakal kepada Allah SWT.
Ananda ....,
Ketika hari ini buya sudah merasakan berumur muda lagi, (sekitar 37
terbalik)Alhamdulillah, belum lagi berkeinginan mendaftar jadi PNS.
Buya mencoba menulis pengalaman-pengalaman,
sembari tidak pernah lupa terhadap ma'unah Allah SWT.
Jadi pesan-pesan guru kita dahulu, barangkali perlu diingat-ingat selalu,
Berburu ke Padang Datar,
Dapatlah rusa belang kaki,
Berguru kepalang ajar,
Bagaikan bunga kembang tak jadi.
Ini hanya sekedar renungan buya untuk ananda dan adik-adik,
yang tengah belajar di negeri orang, negeri para nabi,
yang sekarang disebut orang juga bumi seribu menara.
Salam maaf buya untuk semua,
Sampaikan salam untuk adik-adik ananda,
Ingatkan kepada mereka pesan berhikmah orang tua-tua kita ;
Hendak kaya kuat mencari,
Hendak pandai rajin belajar,
Hendak sehat hemat dipakai,
Hendak mulia tepati janji.
Moga Allah SWT memberkati semua.
Memang benar pandangan ananda...,
bahwa anak-anak kita masa datang ....,
>> sengaja kami berikan modal
>> skill, di luar mata pelajarannya.
>> Mereka harus memiliki
>> banyak keahlian, sikap mandiri, sehingga tidak
>> tergantung hidup hanya jadi pegawai negeri saja.
Tambahan dari Buya, sudah masanya kita menanamkan pandangan
kepada anak-anak generasi pengganti kita, bahwa ....
PNS adalah lapangan kerja yang pendapatannya baa agak kan
Pak Natsir bilang, jauhi civil effect !!!!
Karena itu Rasul SAW ingatkan bahwa 9 dari 10 pintu rezeki
tersedia di bidang perdagangan (entreprenueurship),
untuk membukanya raihlah ilmu banyak-banyak,
pacu diri untuk bekerja,
rajin jujur berprestasi,
perkuat rohani dengan iman dan tawakkal.
Wassalam,
Buya HMA
http://masoedabidin.wordpress.com
http://[EMAIL PROTECTED]
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---