Membuka Topeng "Negara Gagal"
Kamis, 17 April 2008
Indonesia dinyatakan sebagai negara gagal (failed state). Rakyat
tambah miskin dan terancam kelaparan, konglomerat tambah kaya. Kenapa?
[bagian pertama]

Oleh Amran Nasution *

Hidayatullah.com--Al Amin Nur Nasution ditangkap Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK), Kamis dinihari , 10 April 2008, di hotel mewah Ritz
Carlton, Jakarta. Bersama anggota Komisi Kehutanan DPR dan Ketua PPP
Wilayah Jambi itu diringkus pula Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten
Bintan, Azirwan, dua stafnya, dan seorang wanita muda.

KPK menuduh Amin menerima suap dari Azirwan guna mengalihkan fungsi
hutan lindung di Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Sebagai barang bukti
disita uang Rp 71 juta dan 33.000 dollar Singapore. Peristiwa ini
menjadi berita besar, terutama di segmen hiburan TV, karena Amin
adalah suami penyanyi terkenal Kristina.

Sore harinya, KPK menangkap dan menahan Gubernur Bank Indonesia (BI)
Burhanuddin Abdullah. Ia dituduh menyalah-gunakan Rp 100 milyar dana
Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) milik BI. Uang itu, Rp
68,5 milyar, dipakai membantu penyelesaian perkara pidana sejumlah
bekas pejabat BI. Diduga untuk menyuap para pejabat hukum. Sisanya, Rp
31,5 milyar, diberikan ke sejumlah anggota DPR. Waktu itu, tahun 2003,
DPR sedang membahas revisi Undang-Undang BI. Sejumlah anggota DPR
diperiksa, walau belum ada yang dinyatakan sebagai tersangka.

Tahun lalu, bekas Menteri Kelautan dan Perikanan Rochmin Dahuri yang
diadili dalam perkara penyalahgunaan keuangan di departemennya,
membongkar banyak nama politisi yang menerima uang darinya. Dunia
politik Indonesia pun terguncang. Para politisi ramai-ramai membantah.
Hanya mantan Ketua MPR Amien Rais yang berani tampil secara kesatria.
Ia mengakui menerima dana sekitar Rp 200 juta dari Rochmin dan ia
gunakan untuk kampanye pemilihan Presiden (Pilpres).

Tapi Amien tak kepalang tanggung. Ia sekalian bertekad membongkar
segala macam permainan dana politik yang terjadi selama ini, termasuk
bantuan dari Amerika Serikat untuk salah satu pasangan calon Presiden
(Capres).

Tekad Amien tak kesampaian. Ia kemudian bertemu Presiden SBY di
Lapangan Terbang Halim Perdanakusumah Jakarta, lalu isu dana politik
yang menjadi silang-sengketa itu diselesaikan secara ''adat''. Kasus
itu pun hilang dari wacana, dan Amien Rais tak pernah diadili dalam
urusan dana Rochmin. Klop.

Namun sesungguhnya masalah mendasar tak pernah diselesaikan. Maka
kasus Amien Rais, dana YPPI untuk DPR, atau kasus Al Amin Nasution dan
semacamnya akan terus bermunculan. Para anggota DPR atau kaum politisi
boleh marah pada group Slank. Tapi ejekan dalam lagu mereka bahwa di
mata Mafia Senayan UUD adalah singkatan dari Ujung-Ujungnya Duit, kian
lama akan kian sulit dibantah. Keterlibatan para politisi dengan
korupsi – baik di legislatif mau pun eksekutif -- adalah isu
sehari-hari.

Itu tak lain karena Indonesia telah terjebak dengan sistem politik
yang amat koruptif. Sebuah sistem yang menyebabkan para pelaku politik
harus melakukan korupsi untuk mempertahankan eksistensinya. Bagaima
bisa begitu?

Sejak reformasi 1998, Indonesia menggunakan sistem politik dan ekonomi
liberal. UUD 1945 dirombak, DPR kemudian memproduksi begitu banyak
undang-undang politik atau ekonomi yang pada prinsipnya adalah
liberal.

Sekadar contoh, pekan ini, DPR menyetujui undang-undang yang
menyebabkan seluruh pelabuhan laut di Indonesia bebas dikelola
perusahaan asing. Padahal negeri paling liberal Amerika Serikat saja
melarang pelabuhannya dikelola Dubai Port, sebuah BUMN dari Timur
Tengah.

Para pendukungnya menyebut Indonesia memasuki era demokratis. Inilah
sistem yang katanya ampuh merubuhkan tembok Berlin dan menggulung
komunisme di tahun 1990-an. Indonesia dipuja-puji sebagai negara
demokrasi terbesar setelah India dan Amerika.

Buku The End of History and the Last Man, yang ditulis Francis
Fukuyama, seorang neo-konservatif, di tahun 1992, bagi banyak
pendukung sistem liberal di sini, dijunjung seakan kitab suci. Mereka
menganggap seluruh dunia merindukan sistem demokrasi liberal, seperti
ditulis buku itu, termasuk Indonesia. (Setelah kegagalan Amerika
''menyebarkan demokrasi'' di Iraq, Fukuyama kerepotan dengan bukunya.
Pengajar Johns Hopkins University ini kemudian menjadi pengeritik
neo-konservatif, kelompok penghasut perang itu).

Dana 26 Juta Dollar dari Amerika

Padahal sebenarnya di tahun 1991, Profesor Samuel P.Huntington dari
Universitas Harvard, sudah memberi syarat bagaimana sebuah negara bisa
sukses beralih dari sistem otoritarianisme menjadi demokrasi (baca
sebagai demokrasi liberal) di dalam buku The Third Wave:
Democratization ini the Late Twentieth Century, yang sering jadi
rujukan itu.

Huntington menulis bahwa income per capita menjadi syarat
demokratisasi. Semakin tinggi income per capita atau pendapatan
rata-rata penduduk sebuah negara, semakin mulus peralihan terjadi.
Begitu sebaliknya. Negara dengan penduduk miskin yang beralih menjadi
demokratis, menurut studi Huntington, kebanyakan akan kembali lagi
menjadi otoritarianisme.

Indonesia jelas masuk kategori berpendapatan rendah . Tapi dalam
eforia reformasi 1998, siapa peduli petuah Huntington. Apalagi
kemudian ternyata ada dana 26 juta dollar dari lembaga donor
Pemerintah Amerika Serikat, US-AID, di balik hiruk-pikuk reformasi
(lihat artikel Tim Weiner, The New York Times, 20 Mei 1998). Suatu
jumlah yang cukup besar untuk menggerakkan apa saja di Indonesia.

Kini, telah 10 tahun reformasi berlangsung. Lihatlah betapa
menyedihkan keadaan negeri ini. Yang lebih memilukan sekaligus
memalukan, kini Indonesia termasuk di dalam indeks 60 negara gagal
tahun 2007 (failed state index 2007). Indeks itu dibuat Majalah
Foreign Policy yang berwibawa, bekerja sama dengan lembaga think-tank
Amerika, the Fund for Peace.

Banyak ukuran dalam membuat indeks itu. Tapi secara umum disebutkan,
antara lain, pemerintah pusat sangat lemah dan tak efektif, pelayanan
umum jelek, korupsi dan kriminalitas menyebar, dan ekonomi merosot.
Negara paling gagal adalah Sudan, Iraq, Somalia, dan Zimbabwe. Tapi
coba bayangkan Indonesia masuk satu jajaran dengan negeri itu, bersama
sejumlah negara Afrika, Asia, dan Amerika Latin, semacam Timor Timur,
Myanmar, Konggo, Haiti, Ethiopia, dan Uganda.

Hari-hari ini, berita radio, TV, dan koran dihiasi kisah penderitaan
anak-anak kurang gizi dan kelaparan. Nasi aking menjadi salah satu
menu rakyat. Itu terjadi hampir merata di seluruh Indonesia. Malah di
Makassar dan beberapa kota lain, dilaporkan orang meninggal dunia
karena berhari-hari tak tersentuh makanan.

Indonesia dinyatakankan badan kesehatan PBB, WHO, sebagai negara
dengan korban flu burung terbanyak di dunia. Penyakit HIV-AIDS
berkembang tak terkendali sampai ke daerah terpencil . Serangan diare
di mana-mana. Bemacam penyakit aneh – seperti lumpuh layu –
bermunculan. Pengangguran melonjak.

Artinya, kini kemiskinan telah merebak. Pantaslah Indonesia
dikategorikan negara gagal. PBB memperhitungkan hampir separuh
penduduk Indonesia hidup di bawah dua dollar perhari. Bagaimana orang
bisa hidup dengan uang Rp 18.000 sehari di tengah harga pangan
meloncat tak terkendali? berlanjut.. [www.hidayatullah.com]

*Penulis Direktur Institute for Policy Studies

Share this article

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke