Tulisan kanda Suryadi hariko di Padang Ekspress
Salam
Is St Marajo 39+

Yang Terang dan Samar tentang Sultan Alam Bagagarsyah 
Kamis, 24 April 2008 
Oleh : Suryadi, Dosen dan Peneliti Pada Opleiding Talen en Culturen van 
Indonesië, Universiteit Leiden, Belanda
Rupanya tim perumus pengusulan Sultan Alam Bagagarsyah (SAB) menjadi 
pahlawan nasional telah membentuk tim kecil untuk penyusunan "narasi buku 
tentang Sultan Alam Bagagarsyah" (Padang Ekspres, 22-4-2008). Agar tidak 
terjadi pengulangan-pengulangan, tentu ada baiknya tim merujuk 
tulisan-tulisan yang ditulis orang mengenai SAB, misalnya tulisan Jafri 
Datuak Bandaro Lubuak Sati terbitan Sanggar Budaya Minangkabau-Negeri 
Sembilan, Padang (2002), artikel Sultan Serdang, Tuanku Luckman Sinar 
Basarshah-II, "Sejarah Sultan Alam Bagagar Shah dalam Kemelut Perang 
Paderi" (Waspada, 6-4-2008).
Dengan demikian tim dapat lebih berkonsentrasi kepada pencarian 
kepustakaan, terutama sumber pertama tentang SAB. Misalnya, apakah nama 
akhir SAB ditulis "Bagagarsyah" (satu kata) atau "Bagagar Shah"(seperti 
ditulis Tuanku Luckman Sinar). Apakah ada sketsa dirinya dibuat pelukis 
Belanda atau ada keterangan naratif mengenai fisiknya yang memungkinkan 
kita membuat sketsa wajahnya (supaya jangan sampai salah seperti yang 
pernah terjadi pada Pahlawan Nasional Raja Ali Haji dari Riau [Aswandi 
Syahri, Batam Pos, November 2004]). 
Pengusulan SAB menjadi pahlawan nasional patut disambut positif. Jika 
Pemerintah nanti menyetujuinya, itu mungkin dapat jadi paubek hati orang 
Minangkabau. Gelar itu tentu dapat dijadikan semacam simbol abadi 
pemersatu kembali Minangkabau yang pernah tercabik Perang Paderi sekaligus 
siratan kepada generasi Minangkabau kini dan akan datang untuk tidak lagi 
mencari (-cari) ketidakcocokan antara adat Minangkabau dan Islam. 
Namun, dalam mewujudkan cita-cita pengangkatan SAB menjadi pahlawan 
nasional, kita tentu harus cermat dan tetap berpegang pada prinsip ingek 
sabalun kanai, kulimek sabalun abih. Artinya, harus dikumpulkan bukti 
sebanyak mungkin mengenai riwayat hidup, kepribadian, dan perjuangan SAB 
serta posisi sosial-politiknya selama Perang Paderi sampai dibuang ke 
Batavia dan wafat di sana pada 1849. Agar di belakang hari tidak muncul 
kritikan negatif mengenai status kepahlawanan SAB, seperti yang baru-baru 
ini ditujukan kepada Tuanku Imam Bonjol. 
Artikel Tuanku Luckman Sinar yang telah disebutkan di atas secara umum 
telah memberikan gambaran mengenai posisi politis SAB dalam Perang Paderi. 
Dari tulisan itu didapat kesan bahwa ada sedikit banyak 'bantuan' Belanda 
yang memungkinkan SAB berhasil menduduki singgasana Pagaruyung yang memang 
menjadi haknya setelah Kaum Paderi berusaha menghapus dinasti 'keturunan' 
Iskandar Zulkarnain itu.  Namun, belakangan ternyata beliau berbalik 
memusuhi Belanda. Menurut saya, Tim Perumus (melalui tim kecil tadi) harus 
dapat menjelaskan kontradiksi ini. 
Apapun alasannya, baik pribadi maupun atas nama rakyat, termasuk dugaan 
bahwa SAB ingin mengukuhkan kembali imperium Minangkabau, seperti 
dituduhkan Kompeni, perlawanannya terhadap Belanda tentu menjadi salah 
satu point positif bagi pengusulan cucu Raja Muningsyah ini menjadi 
pahlawan nasional. Sebaliknya, banyak  hal yang masih perlu ditelusuri 
lebih jauh yang terkait dengan kiprah SAB pada periode awal kembalinya 
beliau dari pelarian bersama kakeknya di Lubuk Jambi sampai saat turunnya 
keputusan Belanda memberhentikannya sebagai Regen Tanahdatar. 
Tim perumus harus mampu membuktikan, dengan bersandar pada kepustakaan 
yang dapat dipertanggungjawabkan, bahwa kepribadian SAB dan kiprah 
politiknya pada periode itu tidak berpotensi memberi kecacatan apabila 
beliau nanti diangkat menjadi pahlawan nasional. Sehubungan dengan itu, 
salah satu hal yang paling penting untuk dijelaskan adalah siapa 
sesungguhnya yang membunuh mediator "Said Salimoe'l Djafried" yang diminta 
Belanda menjadi penghubung dengan pihak Paderi di Darek? Dalam sejarah 
banyak ulama keturunan Arab yang dipercaya menjadi mediator antara pihak 
Kompeni dan pemimpin pribumi yang bertikai karena kharisma 
religiusnya--sebut saja seperti Habib Abdurrahman az-Zahir semasa Perang 
Aceh, dll. 
Said al-Djafried sukses menjembatani Kaum Paderi dan Belanda sehingga 
kedua pihak yang sedang berperang itu melakukan gencatan senjata dan 
bersedia menandatangani kesepakan damai di Padang pada 15 November 1825 
(De Stuers 1849, Jilid I:106). Namun, pada misi berikutnya ke Darek, Said 
al-Djafried beserta seorang Arab lain yang menemaninya dibunuh di sebuah 
surau di Tanahdatar. Tentang siapa pembunuhnya, muncul kabar yang simpang 
siur. Ada yang menduga pembunuhan itu dilakukan oleh orang-orang suruhan 
Regen Tanahdatar (yang waktu itu dijabat oleh SAB) yang khawatir akan 
dicopot dari jabatannya. Kaum Paderi mendesak De Stuers agar Regen SAB 
segera diganti dan mereka mengusulkan Said al-Djafried sebagai 
penggantinya. 
Mereka menganggap Regen Tanahdatar itu gagal menghapuskan 
kebiasaan-kebiasaan adat yang dianggap bertentangan dengan Islam seperti 
menyabung ayam dan main judi. Tetapi ada juga dugaan pembunuhan itu 
dilakukan oleh orang-orang Tuanku Lintau, Panglima Paderi di Tanahdatar, 
walau alasan logisnya sangat lemah. Menurut hemat saya, poin ini--yang 
kebentulan menyangkut nama SAB--perlu ditelusuri dan sangat penting 
dijelaskan dan diklarifikasi dalam "narasi buku tentang SAB" yang akan 
ditulis oleh Tim Kecil yang sudah dibentuk itu, supaya tidak menimbulkan 
preseden di belakang hari. 
***
Lain dari itu, posisi SAB dalam 'penyerahan' darek kepada Belanda di 
Padang , yang dilakukan di bawah sumpah menjujung Al-Quran dan disaksikan 
oleh Panglima Padang, Sultan Mansyur Alamsyah, dan wakilnya, Tuanku 
Bandaro Rajo Johan, pada 21 Februari 1821 (Amran 1981:409) harus jelas 
juga. Demikian pula halnya sejumlah keterangan dalam beberapa kepustakaan 
klasik yang memberi gambaran seorang-olah keluarga Pagaruyung yang 
'diselamatkan' Kompeni di Padang menjadi informan bagi Belanda yang sedang 
menyusun strategi untuk menginvasi darek.

Sejauh yang saya ketahui, nada tuduhan seperti itu tak terdengar ditujukan 
kepada Inggris yang juga sudah melindungi sisa dinasti Pagaruyung di 
Padang sebelum Sumatera Barat diserahkan lagi kepada Belanda. Berbeda 
dengan Belanda, Inggris di Sumatera yang dipimpin oleh Thomas Stamford 
Raffles tidak berniat campur tangan lebih jauh dalam konflik sesama orang 
Minang itu. Justru Raffles punya rencana besar membangun ekonomi Sumatera 
Barat yang akan memberi kejayaan kepada Kerajaan Britania (Radjab 
1954:39-40). 

Minat Raffles untuk membangun Minangkabau--tentu saja tetap dalam 
perspektif kolonisasi Eropa terhadap Asia, tapi jelas berbeda dengan 
cara-cara yang dilakukan Belanda--terefleksi dari perjalanannya ke 
Pagaruyung (16-30 Juli 1818) dimana dia ditemani oleh ahli geologi dan 
botani untuk mengumpulkan data mengenai potensi ekonomi Sumatera Barat. 
Ekspedisi ilmiah yang awal tentang alam Minangkabau yang penuh tantangan 
itu digambarkan dalam "Syair Peri Tuan Raffles Pegi ke Minangkabau" yang 
terbit dalam Jurnal Malayan Miscellanies (lihat: Raimy Ché-Ross 2003). 
Terlambat tiga bulan dari  jadwal yang ditetapkan bosnya, Lord Hasting, di 
Calcutta, dengan berat hati Thomas Stamford Raffles harus menyerahkan 
Sumatera Barat kepada Belanda yang punya karakter kolonialis yang berbeda 
dengan Inggris pada bulan Mei 1819. 

Penyerahan itu telah membelokkan satu jalur jalan sejarah Minangkabau, 
yang di dalamnya SAB menjadi salah seorang aktornya, dan yang juga telah 
menyebabkan mimpi tentang kota Padang yang maju, kaya dan makmur akhirnya 
diwujudkan Raffles di sebuah pulau berawa yang penuh lipan dan buaya di 
ujung Selat Malaka, yang kini jadi sebuah kota utama dunia: 
Singapura.(***)


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke