Minggu, 20 April 2008 (Republika On Line )
"Gede amat periuknya!" celetuk seorang wisatawan, suatu hari, di Museum
Tambang Bukit Asam, Sawahlunto. Ukuran periuk nasi itu memang sangat besar,
bahkan dapat dibilang periuk raksasa. Di sekitar periuk itu, juga ditata
alat-alat dapur dan perlengkapan makan yang serba raksasa. Ada periuk sayur
raksasa, ada penggorengan (wajan) raksasa, ada pula dandang raksasa dan tempat
sambal raksasa.
Uniknya, alat-alat dapur dan makan yang serba raksasa itu bukan barang-barang
mainan, atau sekadar untuk menciptakan kesan angker. Tapi, itu semua
benar-benar alat dapur dan alat makan yang dulu dipakai sehari-hari. "Semuanya
untuk menyediakan makan para pekerja tambang yang jumlahnya ribuan," kata
pemandu museum.
Alat-alat dapur raksasa itu bukan hanya menggambarkan banyaknya jumlah
pekerja tambang yang harus disediakan makannya, tapi juga kejayaan perusahaan
Tambang Batubara Bukit Asam dan Ombilin di masa lalu. Sisa-sisa masa kejayaan
itu kini teronggok bisu di dalam museum. Gedung museum itu dulu juga merupakan
pusat pertambangan batubara Bukit Asam, yang kini dikembangkan menjadi objek
wisata tambang, karena sudah tidak berproduksi. Di museum itu juga tersimpan
berbagai peralatan pertambangan, seperti topi kulit, baju penambang, kampak,
baju mandor, dan baju koki.
Sisa kejayaan lainnya adalah Museum Gudang Ransum di Kelurahan Air Dingin,
yang dulu merupakan bagian tidak terpisahkan dari prosesi pertambangan di
Sawahlunto. Bangunan ini didirikan tahun 1894, untuk melayani ribuan buruh
tambang yang dikenal sebagai orang rantai (orang hukuman). Mereka berasal dari
berbagai daerah di Pulau Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera.
Bangunan utama gudang tersebut terdiri dari dapur umum, dapur gudang es,
gudang makanan mentah, gudang beras, menara asap dari Power Stom, dan rumah
potong. Di kawasan ini juga terdapat klinik TBO, bekas rumah Barisan Muka
(Zaman Jepang), barak karyawan, Gedung Pementasan Kesenian (GPK), perumahan
karyawan, dan gudang mobil. Tidak jauh dari museum tambang, ada museum kereta
api dan kawasan kota tua yang juga menjadi sisa kejayaan pabrik batubara Bukit
Asam dan Ombilin.
Ada banyak koleksi indoor dan outdoor museum berupa peralatan dan
gerbong-gerbong tua yang pernah dipergunakan pada saat pabrik batubara Ombilin
dan Bukit Asam masih berproduksi. Juga terdapat beberapa lokomotif tua, dengan
sederet gerbong, yang disiapkan sebagai KA Wisata. "Di museum itu wisatawan
dapat mencarter KA Wisata untuk ke Teluk Bayur," kata seorang pemandu museum.
Dari depan Museum KA itu wisatawan dapat melihat pusat Kota Lama Sawahlunto,
dengan berbagai bangunan tua peninggalan Belanda dan Pecinaan. Beberapa
kilometer dari museum tambang, wisatawan juga masih dapat menyaksikan
bekas-bekas galian tambang batubara yang mirip lorong-lorong raksasa.
Lorong-lorong yang merupakan representasi Kawasan Pertambangan Dalam itu,
antara lain dapat dilihat di Sawah Rasau dan Sawahluwung.
Di sini dapat disaksikan proses pemindahan batubara dari perut bumi ke areal
penyaringan dengan menggunakan lesban. Di areal ini juga dapat disaksikan mulut
tambang yang sudah tidak beroperasi serta besi-besi tua lori yang pernah
dipakai di tambang dalam.
Sedangkan daerah reklamasi tambang terbuka ada di Talawi, sekitar 7 Km dari
pusat kota Sawahlunto. Di tambang terbuka ini dapat diketahui proses dan sistem
penambangan permukaan bumi. Banyak danau bekas galian tambang, seperti Danau
Simauang, dan Danau Tanah Hitam seluas 160 ha. Kawasan ini sedang dikembangkan
sebagai kawasan wisata air, area pacuan kuda, area motorcros, road race,
camping ground, sepeda gunung, dan lapangan golf.
Kota tambang
Sejak zaman Belanda dulu Sawahlunto memang dikenal sebagai kota tambang.
Menurut buku Menapak Pesona Ranah Minang, kelahiran kota tambang Sawahlunto
tidak terlepas dari kebijakan ekonomi regional Pemerintah Kolonial Belanda di
Sumatera Barat pada abad ke-19. Ketika itu, Belanda menyusun program
pembangunan ekonomi yang dikenal dengan Proyek Tiga Serangkai.
Proyek tersebut meliputi pembangunan Tambang Batubara Ombilin (TBO),
pembangunan jalur rel kereta api, dan pembangunan Pelabuhan Teluk Bayur. Selain
ke arah Teluk Bayur, jalur KA juga dibangun ke jurusan Solok, Padang, dan Muara
Kalaban. Setelah beroperasi lebih dari 100 tahun, pada 1998 terjadi stagnasi
produksi Batubara Ombilin. Ujungnya, pada tahun 2000, aktivitas transportasi KA
dari Sawahlunto ke Padang dihentikan. Kini tinggal jalan KA Sawahlunto-Muaro
Kalaban yang dimanfaatkan untuk jalur KA Wisata.
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---