Tari Toga Kerajaan Siguntur yang Nyaris Punah Oleh: Syofiardi Bachyul Jb/ PadangKini.com
<http://padangkini.com/foto/mozaik/Mozaik-Tari%20Siguntur.jpg> SENJA baru datang di Kenagarian Siguntur, pinggir sungai Batang Hari, Kabupaten Dharmasraya. Di halaman rumah gadang Kerajaan Siguntur yang berbentuk rumah adat Minangkabau yang bergonjong, Sang Raja duduk di kursi singgasana. Tangan kanannya memegang tongkat menatap lurus penuh wibawa. Di kiri-kanannya, dua hulubalang berpakaian merah memegang pedang panjang tua yang tak lagi berkilau. Empat perempuan, tiga di antaranya tua, bersiap dengan alat musik tradisional mereka. Seorang di antara perempuan tua itu seperti terjepit di tengah gantungan dua buah gong besar. Di tangannya tergenggam sepotong kayu pemukul, siap diketukkan kiri dan kanan. Seorang perempuan tua lainnya duduk di belakang deretan talempong atau gong-gong kecil yang tersusun berdasarkan nada. Seorang lainnya memegang gendang panjang di pangkuan, dan seorang lagi memegang gong lebih kecil. Lalu masuklah enam perempuan muda penari dengan selendang merah tipis di tangan, membentuk dua barisan mengambil posisi di hadapan raja. Menyusul kemudian delapan pendendang muda, putra dan putri, empat di kiri dan empat di kanan, mengapit penari. Maka musik pun dimulai, lalu tari, dan dendang. Pendendang menyampaikan syair serentak dalam bahasa Minang dialek Siguntur yang khas, mirip dialek Payakumbuh. Menyampaikan kisah yang syairnya berkali-kali diulang, namun tetap enak didengar. Penari memainkan selendang. Melenggok kiri dan kanan, kadang berputar. Beberapa menit menjelang 25 menit waktu pertunjukan, seorang berpakaian hitam, mirip pakaian silat Minang, masuk bersimpuh minta ampun di hadapan Raja. Lalu Sang Raja mengampuninya dan berpesan agar perbuatannya tidak diulangi lagi. Maka pertunjukan Tari Toga, tari tradisonal Kerajaan Siguntur pun usai. Para pemain, termasuk yang menjadi Sang Raja yang semuanya masih remaja itu mengganti kostumnya. Tari Larangan Tari Toga yang artinya "Tari Larangan" adalah tari tradisional kuno Kerajaan Siguntur, kerajaan yang masih berhubungan dengan Kerajaan Minangkabau di Pagaruyung dan konon masih berhubungan dengan Kerajaan Malayu Dharmasraya di zaman Hindu-Buddha. Karena masih berhubungan dengan Minangkabau dan Malayu, beberapa gerak tari ini mirip dengan tari minang dan melayu. Menurut Pewaris Kerajaan Siguntur, Tari Toga merupakan tari resmi kerajaan sejak zaman Kerajaan Dharmasraya yang berpusat di Siguntur pada abad ke-14. Tari ini masih dipakai ketika Kerajaan Hindu-Buddha itu beralih ke Islam yang salah satu di antaranya menjadi Kerajaan Siguntur sejak abad ke-15 atau tahun 1673 dengan raja Islam pertama Sutan Abdul Jalil Sutan Syah Tuanku Bagindo Ratu. Waktu itu Tari Toga menjadi tari resmi kerajaan dan ditampilkan pada upacara penobatan raja (batagak gala), pesta perkawinan keluarga raja, upacara turun mandi anak raja, perayaan kemenangan pertempuran, dan gelanggang mencari jodoh putri raja. Ketika Belanda berhasil masuk ke Siguntur pada 1908 dan raja-raja di Siguntur dan sekitarnya terpaksa mengakui kedaulatan Pemerintahan Kolonial Belanda, raja kehilangan kedaulatannya. Banyak benda kerajaan yang diambil, termasuk tambo (riwayat kerajaan yang tertulis) dan aktivitas kesenian kerajaan, termasuk Tari Toga, pun vakum sudah. "Tari Toga nyaris hilang, tari itu sudah lama tidak dimainkan dan hanya diingat dengan cerita turun-temurun, saya mengumpulkan informasi lagi dan menghidupkan kembali pada 1989," kata Tuan Putri Marhasnida, salah seorang pewaris Kerajaan Siguntur kepada PadangKini.com. Marhasnida adalah adik sepupu raja sekarang, Sultan Hendri Tuanku Bagindo Ratu. Ketika dirintis Marhasnida pada 1980-an, para penari dan pendendang sudah banyak yang meninggal. Untunglah ada seorang kakek yang usianya sudah lebih 80 tahun. Ia bekas pendendang yang masih hidup. Sang kakek masih hafal semua dendang Tari Toga karena sejak tidak lagi berdendang, ia sering melantunkan dendangnya ketika Batobo. Batobo adalah membersihkan kebun atau menyabit di sawah bersama-sama, 30 sampai 60 orang. Si pendendang selalu Batobo agar orang-orang tak bosan bekerja seharian, ia disuruh berdendang sambil bekerja. "Itulah sebabnya syair tetap diingat, sedangkan tarinya masih ada seorang nenek yang sudah bungkuk mengingatnya, dari ingatan itulah saya susun kembali dan melatih remaja di keluarga Kerajaan Siguntur untuk menarikan Tari Toga," kata sarjana pendidikan seni Institut Kejuruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang (kini Universitas Negeri Padang) yang kini menjadi guru kesenian di SMP Negeri II Pulau Punjung, Dharmasraya itu. Tari Toga modifikasi Marhasnida ini kemudian ditampilkan di Radio Republik Indonesia (RRI) Padang pada 1990 dan dimainkan dalam berbagai acara Kerajaan Siguntur, termasuk menyambut peserta "Arung Sejarah Bahari Ekspedisi Pamalayu" yang diselenggarakan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang, akhir Desember tahun lalu. Cerita Hukuman Raja Syair Tari Toga berisi cerita tentang seorang laki-laki yang baik hati bernama Sutan Elok yang mati ditanduk kerbau. Si pemilik kerbau bernama Bujang Salamaik dibawa ke hadapan raja untuk diadili. Raja akhirnya mengeluarkan titah agar ia dihukum pancung, hukuman biasa di zaman Kerajaan Dharmasraya. Mendengar hukuman itu, maka Cati Bilang Pandai, penasehat raja, yang digambarkan dengan deretan pendendang, berdendang menghibur raja. Kata Cati, kenapa kerbau yang membunuh tapi pemiliknya yang dihukum mati. Dendang yang disampaikan bersama-sama itu akhirnya menghibur raja dari kegundahannya dan mengampuni si pemilik kerbau dengan pesan agar si Bujang Salamaik tidak melakukan kesalahan lagi memelihara ternaknya. "Dulu dendang dan tarinyanya sampai 7 jam dan dilakukan para pemain yang usianya di atas 40 tahun, sekarang tidak selama itu dan penarinya saya pilih yang muda-muda biar gampang melatihnya," ujar Marhasnida. Sebenarnya, Tari Toga dengan dendang Bujang Salamaik hanya satu dari beberapa dendang lainnya yang pernah hidup di Kerajaan Siguntur yang dilantunkan dalam Tari Toga. Sayang, hanya kisah Bujang Salamaik itu yang tersisa. Dendang lainnya, seperti Dendang Ameh, hanya diingat oleh generasi yang tinggal judulnya tanpa mengetahui isi dendangnya. "Untunglah kami cepat merekam ingatan tentang Tari Toga dan cerita Bujang Salamaik yang artinya pemuda yang selamat dari hukuman raja, jika terlambat semuanya akan tinggal cerita kenangan," katanya.** Copyright © 2008 www.padangkini.com All Rights Reserved. Need Business Long Distance, Voice PRI, and <http://longdistance-t1.com/> Business VOIP service? Compare free Long Distance Price Quotes from over 30 providers! <http://www.addpro.com/> Search Engine Submission AddMe - Search Engine Optimization <http://www.addme.com/> <http://www.quickregister.net/> Click here to submit your site to the search engines for free! <http://s5.shinystat.com/cgi-bin/shinystatv.cgi?USER=padangkini&NH=1> <http://www.shinystat.com/> Free blog counters --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet. - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting. - Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi. - Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
