Dari Riau Mandiri kito baco:
Ribuan WNI Dijual ke AS Tiap Tahun
________________________________
Batam- Ribuan Warga Negara Indonesia (WNI) dijual ke Amerika Serikat setiap
tahun, kata R Barlow, perwakilan Departemen Kehakiman AS di Batam, Kamis (3/4).
Ia mengatakan penjualan manusia (trafficking in person) WNI ke AS umumnya untuk
dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga. "Ada juga penjualan bayi dan
perempuan untuk pekerja seks, namun tidak terlalu banyak," katanya di sela-sela
seminar tentang perdanganan manusia yang diselenggarakan Kedutaan Besar AS dan
Perancis untuk Indonesia.
Barlow mengatakan ada dua modus penjualan WNI ke AS, yaitu dengan penipuan dan
pemerasan. Para pelaku perdagangan manusia biasanya menipu calon TKI dengan
berjanji untuk mempekerjakan mereka pada bidang tertentu, namun, ketika tiba di
AS, bukan pekerjaan itu yang harus dilakukannya.
Lewat Internet
Penipuan juga dilakukan melalui internet yang menjaring WNI dengan janji
memberikan "green card" gratis. Biasanya, perusahaan yang aktif di dunia maya
itu menjaring WNI dengan janji pekerjaan formal di AS. "Itu tidak benar, tidak
ada pengurusan 'green card' seperti itu," ujarnya.
Sedangkan, perdagangan manusia dengan modus pemerasan dilakukan dengan memotong
gaji seenaknya dengan alasan PJTKI telah mengeluarkan dana besar, hingga WNI
tidak bisa lepas dari pekerjaan tersebut karena terlilit hutang. Ia mengatakan
jika aparat keamanan AS menemukan korban perdagangan manusia, khususnya dari
Indonesia, maka pemerintah AS akan memulihkan trauma mereka di
penampungan-penampungan.
Setelah itu, pemerintah AS memberikan opsi untuk menjadi warga negara AS atau
dipulangkan kembali ke Indonesia. "Kami memiliki kebijakan khusus untuk itu,
sehingga rangkaian syarat untuk menjadi Warga Negara AS tidak perlu dilalui,"
katanya.
Ia menambahkan, jika WNI memilih mengubah kewarganegaraan, maka pemerintah AS
akan memberikan pelatihan ketenagakerjaan khusus, agar ia bisa mandiri di AS.
Sebaliknya, jika korban perdagangan manusia memilih tetap menjadi WNI, maka
pemerintah AS akan mengirimkannya kembali ke Indonesia.
Namun, pemerintah AS melakukan investigasi untuk mengetahui apakah seseorang
korban perdagangan manusia atau warga asing yang menyelundup ke AS. "Tidak
perlu pengadilan untuk mengetahuinya, hanya investigasi," katanya. Pemerintah
AS memberikan perhatian lebih kepada kasus perdagangan orang.
Menurut Barlow, perdangan orang tidak hanya berdampak pada negara asal korban
namun juga seluruh dunia, karena telah menjadi masalah global. Sebelumnya,
pemerintah AS memberikan bantuan 15 kapal untuk Polisi Perairan Kepulauan Riau
untuk memantau perairan agar perdagangan manusia dari Indonesia ke Singapura
dan Malaysia tidak terjadi.Pemerintah AS juga memberikan sebuah laboraturium
forensik yang dapat mengetes DNA. (rplk,ivi)
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---