|
Membina Iman dan Kecerdasan dalam Era Pembangunan
Oleh : H Effendy Koesnar (Dt
Bagindo Said), Penulis, mantan Wapimred SKH SEMANGAT, Sekarang Dosen Luar
Biasa Fak.Dakwah IAIN.
TERNYATA usul Ka Pendam Wardjono mendapat
sambutan baik Panglima Panoedjoe. Tinggal lagi menjadi beban Ka Pendam
melakukan berbagai persiapan, antaranya pendekatan kepada Pt Rumah Gadang
sebagai Badan Hukum penerbit SKH Aman Makmur. Pendekatan dengan pihak Pt
Rumah Gadang tak begitu sulit, kaena sewaktu SKH Aman Makmur terbit,
kerjasama dengan Komando begitu akrab. Selain Mayor Wardjono dan Mayor Iman
Soeparto, SKH Aman Makmur juga intim dengan beberapa perwira lainnya, seperti
Letkol Syarwani dan Mayor A. Syahdin (mantan Bupati Agam dan Limapuluh Kota).
Ditambah
lagi, kegelisahan para wartawan melihat suasana yang semakin hangat akibat
perlakuan PKI, sedangkan mesin ketik belum dapat dimanfaatkan.
Tri Ubaya Cakti Cikal Bakal SKH SEMANGAT
Tanggal
17 April 1965, tepat 6 tahun usia Kodam III/17 Agustus dihitung sejak
kelahirannya 17 April 1959, Tri Ubaya Cakti hadir di tangan pembaca,
masyarakat Sumbar dan Riau. Walau disebut sebagai Edisi Khusus HUT-VI Kodam
III/17 Agustus, penampilannya juga seperti
surat kabar biasa. Menghidangkan berita,
editorial, pojok, gambar-gambar, opini dari beberapa orang penulis serta
iklan. Penerbitan perdana ini memang lebih banyak bercerita tentang kelahiran
Kodam III/17 Agustus di Sumbar-Riau. Pemberitaan, di samping tetap
membangkitkan semangat masyarakat yang masih loyo, juga menghidangkan hiburan
yang disukai pembaca. Namun berangsur-angsur berkat usaha Tri Ubaya Cakti
yang dimotori mantan wartawan SKH Aman Makmur, semangat masyarakat mulai
bangkit.
Lama
juga kehadiran Edisi Khusus peringatan HUT-VI Kodam III/17 Agustus ini di
tengah masyarakat Sumbar-Riau. Kalau tak salah sampai 40 hari dihitung sejak
17 April 1965. Berbagai masalah dihadapi pengelolanya. Terutama serangan
Suara Persatuan dengan Pimrednya Zulkifli Sulaiman. Tajuk Rencana dan
Pojok terompet PKI itu, dengan lancangnya menyerang Tri Ubaya Cakti..
Ditulisnya, wartawan Tri Ubaya Cakti, Hantu Gentayangan alm. Aman Makmur.
Namun segala kesulitan dapat diatasi. Termasuk material seperti kertas,
ada-ada saja penyumbang yang menyerahkan kertas. Apalagi percetakan milik
Haluan sedang dikuasai PEPELRADA Sumbar-Riau.
Sungguhpun
demikian, pengelola tetap berusaha menjadikan
surat kabar resmi, selain Edisi Khusus
HUT-VI Kodam III. Pertama melakukan pendekatan kepada penerbit SKH Berita
Yudha di Jakarta, sehingga nama Tri Ubaya Cakti beralih menjadi Warta Yudha.
Sayangnya tidak didapat kesefakatan sehingga usaha beralih kepada penerbit
SKH Angkatan Bersenjata yang dipimpin Brigjen H. Soegandhi. MDP Pandoe
bersama dengan Mayor Wardjono dan Mayor Iman Soeparto (kedua nama terakhir
alm) berusaha ke Departemen Penerangan di Jakarta mendapatkan Surat Izin
Terbit resmi. Berbagai persyaratan yang diperlukan untuk mendapatkan Surat
Izin Terbit (SIT).
Badan Hukum Penerbitnya YASEBANG
Salah
satu persyaratan menurut UU Pokok Pers waktu itu (UU No. 11/66) penerbitan
surat kabar harus
memiliki badan hukum tersendiri. Salah satu Badan Hukum yang ada di Kodam III
hanyalah YASEBANG (Yayasan Kesejahteraan Pembangunan) Kodam III/17 Agustus
dengan Akta Notaris Hasan Qalbi No. 16 tanggal 16 April 1964. Begitu
juga permodalan pertama secara resmi dengan pengalihan modal Pt Rumah Gadang
menjadi modal YASEBANG guna penerbitan SKH Angkatan Bersenjata Edisi Padang.
Peralihan modal PT Rumah Gadang tersebut atas persetujuan pemiliknya,
berdasarkan Surat Keputusan Pangdam III/17 Agustus selaku Ketua PEPELRADA..
Ringkasnya,
SIT diperdapat dengan memberikan izin kepada Brigjen H Soegandhi sebagai
Penanggung Jawab menerbitkan SKH Angkatan Bersenjata Edisi Padang. Sejak itu
nama Warta Yudha beralih menjadi SKH
ANGKATAN BERSENJATA Edisi Padang, Penanggung jawab setempat dipercayakan
kepada Mayor Wardjono.
Lima bulan Penerbitan
Angkatan Bersenjata berjalan, Ka Puspen Hankam Brigjen Soegandhi mengadakan
pembekalan pengetahuan bagi wartawan untuk menyamakan visi dan missi
surat kabar Harian Angkatan Bersenjata di seluruh
Indonesia .
Puspen Hankam membekali watawannya dengan pengetahuan Jurnalistik,
grafika serta manajemen persuratkabaran. Termasuk ilmu perang urat syaraf
menghadapi musuh. Selain wartawan, Puspen Hankam juga memberikan
kesempatan kepada Penerangan/Humas masing-masing Angkatan dan POLRI di
daerah. Instrukturnya kebanyakan pratisi pes, mantan penerbit Media
Massa yang dicabut SITnya
di Jakarta
serta beberapa orang Pamen ABRI sesuai keahliannya. Pimpinan Harian Angkatan
Bersenjata Edisi Padang menugaskan Zuiyen Rais dan Pasni Sata mengikuti
pembekalan tersebut. Pangdam III/17 Agustus menugaskan Letnan Dahrul Aswad
(terakhir Mayor, Alm) dan Effendy Koesnar (Penulis). POLRI menugaskan
Inspektur Dua Nasrun Dt Rajo Sungut Melanjutkan missi Aman Makmur yang
disetujui komando, Angkatan Bersenjata menjadi bacaan yang disenangi
masyarakat. Sehingga pernah terjadi Agen Kota Padang meminta tambahan
suratkabar setelah selesai cetak. Untunglah klay (susunan timah bertulisan
berita) masih di atas mesin cetak. Diulanglah mencetak memenuhi permintaan
distributor.
Melonjak
drastisnya tiras SKH Angkatan Bersenjata, karena penghidangan berita
bersambung "Peristiwa Bandar Betsi". Pembunuhan sadis salah
seorang BUTERPRA (Bintara Umum Territorial Perlawanan Rakyat) oleh BTI
(Barisan Tani Indonesia )
di Sumatera Utara. Surat Kabar lainnya tidak memuat berita tersebut..
Sehingga tiras Angkatan Bersenjata pernah mencapai tiras puncak seperti
yang pernah didapat Aman Makmur.
Musim Beralih Zaman Bertukar
Kebijakan
keras pemerintah terhadap bekas PRRI mulai melunak, sebagai kelanjutan
pemberian amnesti. Hak milik perorangan maupun Badan Hukum berupa gedung,
kantor dan bangunan lainnya yang selama pergolakan daerah dikuasai Kodam
dikembalikan kepada pemiliknya. Percetakan HALUAN bersama penerbitannya,
sertra percetakan Sri Dharma yang dikuasai PEPELRADA dikembalikan kepada
pemiliknya. Kecuali bekas percetakan SKH Suara Persatuan milik PKI
tetap dikuasai KODAM III/17 AGUSTUS.
Kembalinya
percetakan Haluan kepada pemiliknya, menjadikan SKH Angkatan Bersenjata
mengupah kepada Haluan. Waktu bernama Percetakan PENDAMAG, Semangat hanya
menyisihkan biaya percetakan seperti tinta, matriys dll. Dengan beralihnya
PENDAMAG kepada pemiliknya, Penerbitan Angkatan Bersenjata jadi menyusut.
Malah tagihan biaya cetak dari Percetakan Haluan tak terpenuhi.
Lebih
terasa kesulitan, setelah pimpinan HALUAN menerbitkan kembali suratkabarnya,
dipimpin Rivai Marlaut, diganti oleh Chairul Harun, dilanjutkan oleh Annas
Lubuk, perhatian pembaca beralih dari Angkatan Bersenjata kepada Haluan.
Peralihan dinilai wajar, karena penampilan Haluan jelas lebih baik dari
Angkatan Bersenjata. Hurufnya bagus, karena dilengkapi pemiliknya sesuai
kebutuhan. Sebaliknya bahan percetakan untuk Angkatan Bersenjata dinapikan,
sehingga sulit dibaca.
Karena
kehabisan matrijs "t", percetakan menggantinya dengan huruf
"f" seperti menuliskan "totok" percetakan
menggantinya dengan "fofok". Pernah ditegur Pak Hatta,
"Nama saya "Hatta", bukan Haffa yang ditulis Skh
"AB" . Membengkaknya hutang kepada Haluan, Kodam dalam hal ini
YASEBANG mengambil kebijakan, pindah kantor dan cetak ke Jalan Sungai Bong 14
(Jln. Imam Bonjol sekarang). Percetakan Srana Dwipa (bekas milik PKI)
direhab sedemikian rupa, sehingga layak mencetak suratkabar. Sementara usaha
penerbitan berjalan lancar tapi karena peralatan cetak perlu diganti,
adakalanya tak terlaksana semestinya. Kesulitan ditambah lagi, karena mesin
cetak yang dipakai adalah mesin cetak tua yang sering rusak. Akibatnya
penampilan Angkatan Bersenjata semakin melorot.
Begitu
pula Aman Makmur menerbitkan kembali suratkabarnya yang terhenti sejak Maret
1965. Disefakati tenaga dan asset yang ada dibagi dua, masing-masing kembali
ke Aman Makmur dan separohnya tetap di Angkatan Bersenjata. Wartawaan yang
bertahan di Angkatan Bersenjata, Zuiyen Rais, Rajalis Kamil dan MS Sukma
Jaya. Namun kesulitan belum teratasi, penampilan surat kabar semakin
tertinggal dari suratkabar yang ada seperti SKH Haluan yang semakin menarik,
karena betul-betul dikelola secara bisnis pers. Pimpinan Umum Angkatan
Bersenjata Kolonel Burhani bersama Ketua Yayasan Letkol Iman Soeparto, SH
sepakat melakukan pengurangan karyawan. Terjadilah penyusutan tenaga
Kerja,
baik karyawan penerbit maupun percetakan. Karyawan pecetakan ada yang ditampung
Percetakan Haluan. Zuiyen Rais dan Rajalis Kamil dan MS. Sukma Jaya mulanya
ingin bertahan di Angkatan Bersenjata, tapi entah apa sebabnya hanya MS Sukma
Jaya yang tetap bertahan dan ditunjuk sebagai Pimred.
Beralih nama menjadi SEMANGAT
Berdasar
Instruksi Menhankam PANGAB Jenderal A.H. Nasution, seluruh suratkabar Harian
Angkatan Bersenjata yang diterbitkan KODAM di Indonesia ditiadakan. Bila akan
menerbitkan juga harus berganti nama dengan nama lain selain Angkatan
Bersenjata. Kapendam Letkol Drs. Saafrudin Bahar selaku Penaggungjawab
bersama Wakil Pimpinan Umum A.A. Navis memilih SEMANGAT sebagai
pengganti nama Angkatan Bersenjata. Sedangkan motto yang ditulis di bawah
nama adalah "Membina Iman dan Kecerdasan Dalam Era Pembangunan".
Nama dan motto itu tetap dipakai sampai akhir hayatnya.
Walau
berganti nama dilengkapi dengan motto, SEMANGAT tak luput dari berbagai
kesulitan. Berbagai kebijakan dilakukan untuk pengatasi kesulitan, antaranya
berkali-kali melakukan perubahan piminan redaksi sesudah M.S. Sukma Jaya.
Tersebutlah beberapa nama, antaranya Kamardi Rais Dt. P. Simulie, Makmur
Hendrik, Drs.Yanuar Abdullah, tapi sama sekali tidak mengatasi
kesulitan yang ditanggungkan media massa anti komunis ini. Diusahakan lagi
oleh Kapendam Saafrudin Bahar mengusulkan "langganan wajib" bagi
personil KODAM dari bintara sanpai jenderal dan PNS golongan II ke atas.
Sementara kebijakan itu cukup membantu, tapi lama-lama juga tidak bertahan.
Para langganan wajib itu ada antaranya, mau membaca
SEMANGAT keberatan membayar uang langganan.
Ada pula yang meninggal, tetapi tetap
dikirimi suratkabar, uang langganan tak dapat diterima.
Bekerjasama dengan Pt Riza Mitra Medan
Pangdam
III/17 Agustus dalam hal ini Brijen Soelarso memandang kerjasama antara Kodam
I/Bukit Barisan dengwn Pt Riza Mitra menerbitkan SKH Bukit Barisan berjalan
baik dan menmguntungkan kedua belah pihak. Kebaikan dan keberuntungan itu
ingin dipakaikan untuk mengurangi kesulitan Harian Semangat. Didapatlah
kesepakatan dengan Direktur Pt Riza Mitra Medan. Disepakatilah antaranya,
pemindahan gedung dari Jalan Imam Bonjol 14 ke Gedung Balai Prajurit nasih di
Jalan Imam Bonjol.
Perpindahan
ke gedung yang lebih besar, karena Riza Mitra menyediakan mesin cetak offset
pengganti Snel Press di Srana Dwipa. Selain penyediaan mesin cetak Riza Mitra
juga menyediakan Pimpinan Redaksi pengganti MS. Sukma Jaya, dalam hal
ini Zakariya Yamin (Alm), seorang wartawan senior angkatan H.Kasuma
(Alm), Pimpina Umum Haluan. Saran Pt Riza Mitra tak dapat persetujuan pihak
Semangat, karena proses penggantian Pimred memerluka prosedure panjang.
Kecuali jabatan Pimpinan Usaha yang semula dijabat Effendy Koesnar (Penulis)
beralih menjadi Wakil Pimpian Usaha yang ditunjuk Pt Riza Mitra.
(bersambung)
|