Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu
‘BALAHAN’
Masih terngiang di telingaku peringatan itu, ketika dulu kami terlibat dalam
sebuah diskusi.
‘Sudah tiga kali kau kunjungi negeri itu, kau belum pernah bertemu mereka?
Balahan kita itu? Kenapa begitu?’
‘Kali pertama aku kesana, aku berjumpa dengan mamak. Beliau sangat senang
ketika itu. Kami berbincang dalam bahasa kampung kita yang totok. Beliau
memperkenalkan aku kepada anak-anak beliau yang langsung sangat akrab denganku.
Ketika aku berkunjung lagi beberapa tahun kemudian, aku jumpai anak-anak mamak
itu yang tetap sangat akrab. Aku jadi lupa bertanya tentang karib kita yang
lain. Maklumlah kunjungan ke rumah anak-anak mamak itu hanya sebentar saja.
Begitu juga halnya ketika aku datang lagi untuk ketiga kalinya.’
‘Hubungan yang sudah kau bina dengan anak pisang kita itu sangat baik. Tapi
saudara mara kita sendiri tetap pula harus didatangi. Kalau kau berkunjung lagi
kesana, kau harus mengunjungi mereka. Mereka itu balahan kita (saudara sepayung
dalam persukuan yang tinggal terpisah di rantau lain).’
‘Aku tahu. Insya Allah aku akan berusaha mencari mereka kalau aku kesana lagi
nanti,’ jawabku.
‘Kau kan tahu, nama-nama mereka itu ada dalam ranji. Dan nama-nama itu tidak
lengkap. Kau harus melengkapinya.’
‘Meskipun mereka tidak tertarik lagi dengan sistim kekerabatan kita?’
‘Belum tentu. Paling tidak kau dapat menunjukkan kepada mereka bahwa antara
kita ada sauh bersauh. Kait berkait dalam kekeluargaan.’
*****
Dengan izin Allah kesempatan berkunjung itu datang pula kembali. Kali ini aku
berniat benar untuk mencari balahan kami itu. Aku membawa selembar besar ranji
untuk kutunjukkan kepada mereka. Seandainya saja mereka tertarik untuk
melihatnya.
Aku mendapatkan nomor hp saudara sepupu itu. Begitu sampai di kotanya, aku
segera menelpon sambil memperkenalkan diriku, yang adalah sepupunya menurut
cara di kampung. Sambutannya biasa-biasa saja. Tidak terlalu meriah dan tidak
pula dingin. Aku menanyakan keadaan mereka, keadaan etek yang adalah ibunya dan
etek satunya lagi, adik ibunya. Kami berbicara di telepon sedikit berbasa basi.
Aku utarakan keinginanku untuk bertemu dengannya, sekaligus dengan ibu dan
eteknya. Dia menyambut keinginanku itu kembali biasa-biasa saja.
‘Telepon aku kapan kau akan datang, nanti aku beritahu alamat kami. Kau bisa
mendapatkannya dengan mudah dengan taxi,’ katanya.
‘Insya Allah,’ jawabku. ‘Sementara itu tolong kau sampaikan salamku kepada
ibumu dan kepada etek,’ tambahku.
Aku sedang di kamar mandi ketika hp ku berdering, pagi-pagi keesokan harinya.
Istriku yang mengangkat. Di sebelah sana terdengar suara yang mengatakan ingin
berbicara denganku, orang yang menelponnya tadi malam, katanya kepada istriku.
Istriku menyerahkan hp itu kepadaku dan aku menjawab sapaannya.
‘Aku Jamal. Aku minta maaf. Aku telah memberi tahu etek tentang pembicaraan
tadi malam dan dia meminta bertemu dengan kau hari ini. Bisa?’ tanyanya.
‘Insya Allah,’ jawabku. ‘Berikan alamatmu, aku akan mencarinya dengan taksi
nanti sesudah shalat zuhur.’
‘Maaf. Aku sedang sakit. Aku tidak bisa keluar. Akan kukirim sopir. Dimana kau
bisa menunggunya?’
‘Tidak usah repot-repot. Berikan saja alamatmu,’ jawabku.
‘Kau tunggu di depan rumah sakit Djiyad. Di dekat pintu Raja Abdul Aziz. Aku
menyuruh sopir mencarimu kesana. OK?’
‘Baiklah. Dengan satu lagi syarat. Kau harus mengijinkan aku untuk kembali ke
mesjid untuk shalat asar.’
‘Insya Allah. Kau tunggu ya...’
Kami menunggu di tempat yang disepakati itu sesudah selesai shalat zuhur. Agak
lama. Mungkin karena jalanan macet. Hp ku berdering. Suara perempuan. Kali ini
fasih berbahasa Indonesia. Dia menyuruhku pindah ke dekat hotel Balad ? karena
jalan sangat macet, katanya. Mana aku tahu lokasi hotel Balad. Aku tidak tahu
dimana tempatnya, aku akan tetap menunggu disini, jawabku.
Cukup lama kami berbicara di telepon untuk mengetahui posisi kami. Sampai
akhirnya dia sudah berada sekitar tiga meter dariku. Istriku memberi tahu,
bahwa aku sedang berbicara dengan wanita itu, katanya sambil menunjuk kepada
seorang wanita berabaya hitam tanpa cadar, mungkin agar dapat kukenali. Aku
memperhatikan wanita itu yang masih saja berbicara kepadaku melalui hp nya.
‘Kau berbicara kepadaku ?’ tanyaku mendekatinya sambil tersenyum.
‘Hah, akhirnya. Muhammad Dafiq?’ tanyanya sambil menarik nafas lega.
‘Ya,’ jawabku pendek.
‘Mari kita ke sana. Mobil tidak dapat masuk kesini. Ditahan polisi di sebelah
sana,’ katanya.
‘Ini istriku,’ aku memperkenalkan istriku kepadanya.
Mereka bersalaman.
Dimobil ada wanita lain lagi yang ternyata adalah kakaknya yang sayangnya tidak
bisa berbahasa Indonesia. Sopir mereka orang Sunda, tapi baru bekerja dan tidak
terlalu tahu jalan.
Kami menaiki kendaraan itu menuju ke rumahnya. Entah dibagian mana kota.
*****
‘Kenapa kalian yang datang menjemput kami? Maksudku, kenapa tidak diserahkan
sama si Akang ini saja?’ tanyaku waktu kami sudah di dalam mobil.
‘Dia belum terlalu faham jalan-jalan di kota ini. Dan Jamal, kakakku lagi sakit
kaki, dia menyuruh kami menjemput kalian,’ jawabnya.
‘Hebat sekali bahasa Indonesiamu. Dimana kamu belajar ?’ tanyaku.
‘Aku belajar dengan ibu. Dan aku sudah beberapa kali berkunjung ke Malaysia,
jadi aku bisa,’ jawabnya.
‘Dan kau?’ tanyaku kepada saudaranya.
Wanita itu hanya tersipu dan tidak menjawab.
‘Dia tidak bisa,’ kata adiknya menjelaskan.
Kami melalui jalan mulus dan sepi seperti ke arah luar kota di bawah teriknya
panas.
‘Kita sengaja memilih jalan ini karena lebih sepi meski jadi tambah jauh,’ kata
sepupu wanitaku itu.
Dia langsung akrab dengan istriku. Mereka bercakap-cakap entah apa saja.
Tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah album foto untuk diperlihatkannya kepada
istriku sambil menjelaskan siapa-siapa yang ada di dalam foto itu. Istriku
rupanya mengenali beberapa wajah yang sudah pernah bertemu dengan kami dan
berusaha menunjukkan kepadaku. Tangan sepupuku itu segera menahan tangan
istriku sambil mengatakan.
‘Dia tidak boleh melihatnya,’ menunjuk kepadaku sambil tersenyum.
‘Kenapa?’ tanya istriku agak heran.
‘Dia bukan mahram orang-orang di foto ini,’ jawabnya.
Aku langsung faham maksudnya.
Setelah beberapa menit berkendaraan akhirnya kami sampai di sebuah komplek
perumahan. Masih dalam kota. Beriringan kami memasuki rumah dalam bangunan
bertingkat itu. Di dalamnya terdapat apartemen-apartemen. Sepupu wanita itu
menjelaskan sambil lalu penghuni masing-masing apartemen itu. Kami naik lift
untuk ke tingkat tiga, memasuki apartemen besar yang dihuni ibu mereka.
Jamal sudah menanti disana. Dia menggunakan tongkat penyangga karena lututnya
baru dioperasi. Kami bersalaman. Aku dikenalkan kepada etek, yang namanya sama
dengan nama ibuku. Wajahnya asli Minang, tidak dapat dipungkiri sedikitpun.
Tapi dia tidak bisa berbahasa Minang bahkan tidak bisa berbahasa Indonesia
kecuali sekadar menanyakan ‘apa kabar’. Aku menanyakan dimana ibu Jamal. Dia
mengatakan sebentar lagi ibunya akan keluar. Setelah kami duduk
berbincang-bincang beberapa menit, ibu tua itu dibawa masuk di atas kursi roda.
Wajahnyapun sangat Minang. Penglihatan dan pendengarannya sudah sangat
terbatas, tapi suaranya masih baik. Dia menyapaku dalam bahasa Indonesia.
Aku mengeluarkan lembaran ranji yang besar itu. Aku tunjukkan nama-nama yang
tertera di ranji itu. Aku tunjukkan nama inyiak buyut. Nama adik-adik beliau.
Aku tunjukkan nama nenek buyutku, nama nenekku, ibuku sampai ke namaku di dalam
ranji. Inilah nenek buyut yang dulu kembali ke kampung kataku. Telunjukku
bergeser ke kanan. Aku tunjukkan nama nenek buyutnya, neneknya, ibunya
bersaudara. Dan nenek ini yang dulu bertahan tinggal disini, kataku.
Dia mengamati ranji itu dengan seksama.
‘Kenapa namaku dan adik-adiku tidak ada disini? Bukankah seharusnya namaku juga
dimasukkan karena kelihatannya posisi kita sama?’ tanyanya.
‘Benar,’ jawabku. ‘Namamu akan aku tulis disini. Mari kita lengkapi data ini.
Seperti yang aku jelaskan padamu, ‘pohon keluarga’ ini ditulis berdasarkan
garis ibu. Nama-nama melalui garis ibu ditulis berkelanjutan sementara nama
kita, laki-laki berhenti sampai anak-anak kita saja. Orang Minang menyebut
anak-anak kita itu anak pisang dalam persukuan,’ aku mencoba menjelaskan.
‘Jadi, namaku dan nama anak-anakku boleh masuk kedalamnya?’ tanyanya antusias.
‘Ya. Namamu, nama istri dan anak-anakmu kita tuliskan disini, tapi berhenti
sampai disitu saja. Kecuali nama-nama adik perempuanmu. Kalau dia punya anak
perempuan lagi, nama-nama itu akan berlanjut dalam ranji ini,’ tambahku.
‘Dan nama suami perempuan-perempuan itu?’
‘Ya, dan nama suami setiap perempuan itu, bila ada juga nama daerah asalnya,’
jawabku.
‘Baik. Sekarang kau lengkapi data itu. Tuliskan nama ayahku, nama suami ibuku.
Beliau berasal dari Lampung. Dan nama kami bersaudara,’ katanya.
Aku mengikuti yang dikatakannya, menuliskan nama-nama itu. Cukup banyak
nama-nama yang belum masuk ke dalam catatan ranji ini. Termasuk nama-nama
anak-anak mak eteknya (adik ibunya yang sudah almarhum) yang punya dua orang
istri dan enam orang anak.
Etek yang namanya sama dengan nama ibuku tersipu-sipu melihat kami melengkapi
data ranji itu.
Jamal menterjemahkan bahwa nama ibuku sama dengan namanya. Bahkan nama nenek
kami rupanya juga sama. Etek itu tertawa mendengar keterangan itu. Melalui
Jamal dia menanyakan apakah ibuku masih ada, yang aku jawab sudah tidak ada.
Kami makan siang bersama. Cukup mengejutkan bahwa masakan mereka adalah masakan
Minang. Ada rendang ayam, goreng ikan balado dan sayur berkuah santan. Walau
rasanya sudah tidak asli.
Kami berbincang-bincang sambil makan (praktis hanya aku dan Jamal). Aku baru
tahu bahwa etek yang muda tidak tinggal disini tapi di tempat iparnya, istri
adiknya almarhum. Karena obrolan yang panjang aku tidak jadi bisa pergi shalat
asar ke mesjid. Jamal mengajakku shalat berjamaah dan memintaku jadi imam.
Aku tanyakan pula apakah mereka tidak ada kontak dengan cucu-cucu inyiak buyut,
yang ternyata memang hampir tidak ada. Jamal balik bertanya kepadaku apakah aku
mengenal mereka. Aku jawab sejujurnya aku belum mengenal mereka satupun tapi
nanti malam aku akan menemui salah satu dari mereka.
‘Mereka tinggal di kota ini? tanyanya.
‘Ya, mereka tinggal dikota ini,’ jawabku.
‘Jam berapa kau berjanji ke tempat mereka?’
‘Sesudah shalat isya, insya Allah,’ jawabku.
‘Mereka akan menjemputmu?’
‘Insya Allah,’ jawabku.
Sementara itu etek muda mengatakan sesuatu kepada Jamal. Rupanya dia menyuruh
agar kami besok siang makan di rumahnya. Di rumah tempat dia tinggal dengan
adik iparnya. Tentu aku tidak mungkin menolaknya.
Pertemuan itu kami akhiri menjelang senja. Aku mohon diri karena akan shalat
magrib di mesjid. Pertemuan yang sangat berkesan.
*****
di http://lembangalam.multiply.com dan www.palantalembangalam.blogspot.com
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---