Pluralisme: Karena Agama Tak Mendamaikan 2 Mei, 2008
Wacana Pluralisme yang berkembang akhir-akhir ini di Indonesia telah
menyita perhatian banyak kalangan Islam terutama para akademisi. Sebagaimana
ketika sebuah pemikiran diperkenalkan ke ranah publik, Pluralisme telah
membelah para akademisi tersebut pada 2 kutub, pro dan kontra.
Pluralisme agama berkehendak untuk menciptakan tatanan dunia yang aman, damai
dan tentram (mungkin mirip dengan misi PBB, yang sampai saat ini tidak
kesampaian). Pengusung Pluralisme agama berpendapat penyebab terbesar konflik
dan peperangan adalah Doktrin Agama. Agama diindikasikan sebagai instutusi yang
melegalkan pembunuhan terhadap yang orang yang tidak loyal dan orang di luar
keyakinan (kafir). Ungkapan ini tentu dengan alasan yang cukup kuat. Dari zaman
dahulu sejak para Nabi-Nabi sampai hari ini, Perang atas nama agama telah
menghiasi catatan kelam dunia. Fakta yang paling dicatat sejarah adalah PERANG
SALIB yang melibatkan Islam dan Kristen.
Apa implikasi dari tuduhan ini ? Agama yang ada sekarang, telah menjadi batu
sandungan untuk mewujudkan perdamaian dunia. Sehingga diperlukan modifikasi dan
juga rekontruksi internal masing-masing agama terkait ajaran-ajarannya yang
ekslusif. Rekonstruksi itu terutama difokuskan pada masalah Kebenaran,
Keselamatan, dan Persepsi terhadap umat agama lain. Telah sama-sama kita
ketahui masing-masing agama memandang "agamanyalah yang benar - yang lain
salah". Agamanya saja yang menjanjikan tiket ke sorga, bukan agama lain. Dan,
saya yang beriman ,sedangkan yang lain KAFIR.
Oleh karena itu, pluralis mencoba untuk menegok inti ajaran masing-masing
agama. Mereka menilai titik sentral " kesombongan" agama terletak pada
pandangan akan Tuhan. Mereka menilai Tuhan telah memberikan anugerah dan
meridhai agama mereka. Yang lain, tak lebih dari kaum-kaum bodoh/sesat yang
telah ditinggalkan/dikutuk oleh Tuhan.
Pluralisme mengkritik tentang konsep keselamatan ekslusif ini dengan
mengatakan, "Tuhan adalah sosok yang Sempurna yang tidak bisa dicapai oleh
manusia". "Apa yang dipikirkan manusia tentang Tuhan, hanyalah sebatas
imajinasi dan persepsi berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya.
Keberagaman agama semata-mata disebabkan oleh perbedaan persepsi terhadap
Tuhan." Sehingga, kita tidak bisa menjustifikasi iman seseorang itu "unvalid".
Konsekuensi dari pandangan ini adalah tidak ada kebenaran absolut pada agama.
oleh karena itu, klaim-klaim kebenaran sepihak tidak dapat direstui..
Kalau kita perhatikan sekilas, pluralisme adalah konsep yang mencerahkan dan
memberi harapan bagi tumbuhnya toleransi. Pada puncaknya, agama-agama yang ada
sekarang akan "hilang". Para pemeluknya melebur menjadi satu dalam iman
"Universal Religion". Ketika tidak ada lagi beranekaragam agama, maka
konflik-konflik agama tidak akan menghiasi panggung sejarah umat manusia mulai
dideklarasikannya "Universal Religion".
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah memang sesederhana itu? Kalau
kita cermati lebih jauh, perang dan konflik yang ditenggarai disebabkan oleh
doktrin agama, tidak sepenuhnya benar. Sebagaimana yang tercantum dalam
kitab-kitab suci, agama sebenarnya hendak mengantarkan umatnya pada kondisi
yang "membahagiakan" melalui jalan kasih sayang, kebaikan dan cinta sesama umat
manusia. Namun dikarenakan kepentingan individu atau komunitas tertentu yang
menginginkan kekuasaan, dan melihat agama adalah jalan paling mudah untuk
digunakan sebagai kendaraan bagi pencapaian tujuannya (karena tidak memerlukan
banyak tenaga dan biaya, cukup mengutip ayat-ayat suci kemudian ditafsirkan
sekehendak hati, dengan sedikit kemampuan beretorika akan diperoleh sebuah
kesetiaan dan loyalitas penuh dari orang-orang yang beriman itu). Orang-orang
ini biasanya memiliki kedudukan dan prestise yang mumpuni di dalam komunitas
agama. sehingga fatwa-fatwanya telah berubah menjadi firman. Umat
yang tunduk pada "otoritas orang suci " ini terlena, tidak bisa lagi
membedakan antara firman (Tuhan) dan fatwa (manusiawi).
Jika memang otoritas keagamaan sangat rentan untuk dipolitisir oleh para
pemimpin-pemimpin agama, apakah pluralisme akan menjawab kegelisahan ini.
Menurut penulis, dalam tataran apapun ada otoritas. Hatta, dalam pluralismepun
ada otoritas, yaitu "Nabi-Nabi" yang mendakwahkan pluralisme.
Oleh karena itu solusi yang terbaik untuk menjawab tantangan pluralisme ini
adalah sikap toleran dan kasih sayang yang diajarkan oleh agama-agama harus
ditaati dengan baik oleh masing-masing pemeluknya. Kemudian peluang penggunaan
otoritas yang tidak semestinya, bisa dijembatani dengan sebuah proses kritik
internal.
Sesuatu yang murni objektif tidak bisa kita peroleh. Dalam tradisi filsafat,
sekarang berkembang metode intersubjektif. Dimana sesuatu itu dianggap benar
ketika ia (it-eng) disepakati kebenarannya oleh mayoritas komunitas ilmiah.
Oleh karena itu, hal yang bisa kita lakukan adalah dialog antar agama. bukan
pereduksian agama menjadi satu agama baru (pluralisme). Karena perbedaan adalah
kondisi alamiah yang tidak bisa dibantah oleh manusia. Konflik dan damai adalah
bagian dari "nature" tersebut. Langkah logis yang mampu kita lakukan hanya
meminimalisir potensi konflik.
Jika konflik tak dapat dihindarkan, ya begitulah kenyataan hidup. Bukankah
"manusia adalah serigala bagi manusia lain" (Thomas Hobes). Jangankan dengan
orang lain, dengan saudara sendiri , pacar (yang katanya orang yang paling
dicintai) atau istri, anak sendiripun sering seseorang terlibat pertengkaran.
Jika tesis yang benar adalah Konflik sesuatu kenyataan alamiah yang tidak
dapat dihindarkan oleh manusia. Maka siap-siaplah untuk berperang.
Anggun Gunawan (23 Th)
Filsafat UGM
Pariaman-Payakumbuh-Solok
http://grelovejogja.wordpress.com
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---