Alaikumsalam ww

Pak Saaf, kalau kesal saja, tidak akan menyelesaikan masalah. Sekiranya masih 
bisa, mungkin perlu dirubah "iramanya" supaya jangan seperti batu jatuh ke 
lubuk... Entah bagaimana caranya...? Jadi mari sama-sama kita jaga aja dulu 
endurance kita bersama, kok lai masih bisa...:)

Rasanya isu PENDIDIKAN sudah perlu diangkat dan ditelaah juga. Bgmn melahirkan 
BUDAYA MALU satu sama lain. Walaupun saya bukan ahli agama, tetapi rasanya yg 
diterjemahkan sbg malu itu tidaklah hanya "aurat". Tetapi juga sikap dan tata 
cara kita... Malulah kito kalau panyalasaian berbagai hal jo bacakak...! Maaf 
ka nan ahli kalau ambo salah pulo interpretasinyo... Saya khawatir kalau porsi 
adat, budaya, pariwisata, dll saja, sedangkan yg pokok permasalahan utk menuju 
kearah itu semua malah belum tersentuh, yaitu pendidikan... 

Saya setuju dg bbrp pendapat yg mempertanyakan: "Apa hasil diskusi kita disini 
secara nyata dan yang bisa dilaksanakan utk meningkatkan ekonomi Sumbar...?". 
Saya juga belum bisa menjawab secara gamblang. Sejauh diskusi bisa kita jaga 
dalam kerangka etika yang bisa diterima semua pihak, tidak saling menghujat dan 
tidak membebani, kita lakukan saja lah dulu. Cepat atau lambat, mudah-mudahan 
ada hasil positifnya. Minimal silaturrahmi terbentuk dulu...

Setidaknya anggota pasif di milis ini, rasanya banyak yg punya akses ke 
pusat-pusat kekuasaan... Kalau dulu banyak dindiang nan batalingo, kini banyak 
komputer nan indak batali nan ka manyampaikan...:) Sudah banyak Wi-Fi atau 
Blackberry soalnyo kini...:)) Mohon maaf sebelumnya, terima kasih.

Wassalam,
Nofrins/47+


----- Original Message ----
From: Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Cc: Edy UTAMA <[EMAIL PROTECTED]>; Ilhamdi TAUFIK <[EMAIL PROTECTED]>; 
masoedabidin748 abidin <[EMAIL PROTECTED]>; MH Bachtiar Abna SH <[EMAIL 
PROTECTED]>; "Dra. Adriyetti AMIR, SU" <[EMAIL PROTECTED]>; Warni DARWIS 
<[EMAIL PROTECTED]>; Prof Dr Taufik ABDULLAH <[EMAIL PROTECTED]>; ismailtaufiq 
Taufiqismail <[EMAIL PROTECTED]>; Prof Dr Djohermansyah DJOHAN <[EMAIL 
PROTECTED]>; Dr Mochtar NAIM <[EMAIL PROTECTED]>; Nuraini prapdanu <[EMAIL 
PROTECTED]>; Ir. Yulnofrins NAPILUS <[EMAIL PROTECTED]>; Indra J Piliang 
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, May 3, 2008 2:22:47 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Cakak Antarnagari - PRIHATIN ---> Lantas Apa ?


Assalamualaikum w.w Bung Zulfan,

Welcome aboard !  Tak ada yang dapat -- atau perlu-- saya bantah  dari 
pandangan Bung Zulfan tentang Ranah. Memang demikianlah keadaannya.

Seperti Bung juga, saya sudah kadung tertarik dengan kompleksitas masalah Ranah 
ini, yang akarnya saya lihat, antara lain, pada suatu sisi terletak pada 
konservatisme dan ketidakmampuan para pemimpinnya untuk menyerap dan 
mengkonsolidasikan secara jernih demikian banyak gelombang perubahan yang 
menghantam daerah ini sejak tahun 1275, pada sisi yang lain pada ketidakacuhan 
dan rasa puas diri terhadap urgensi  mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi 
masa depan. Dengan kata lain, masyarakat kita di Ranah belum terbiasa 'berfikir 
strategis'. Semuanya dibiarkan mengambang, dan  kata-kata indah. dipandang 
sebagai suatu solusi. Hentakan Bung IJP dan data Bung Zulfan saya harap dapat 
menyadarkan kita semua bahwa 'penyakit Minang' ini sesungguhnya sudak kronis.

Rekan saya, Yulnofrins Napilus, yang selama ini demikian bersemangat 
''berminang-minang' kelihatannya sudah mulai kesal. Saya khawatir cepat atau 
lambat saya sendiri juga akan 'ketularan' pula. Masalahnya adalah : sampai 
berapa lama kita, orang Rantau ini,  bisa tahan jika segala ataupun sebagian 
besar yang kita sampaikan terkesan 'bagaikan batu jatuh di lubuk' belaka ? NATO 
( No Action, Talk Only). 

Namun, kita jangan putus asa. Justru ketidakacuhan itu perlu kita anggap 
sebagai suatu  tantangan. Bagaimana kalau kita yang [masih] berpeduli terhadap 
masalah kronis Ranah ini, dan mempunyai sedikit bekal ilmu dan pengalaman,  
mengadakan 'strategic sessions' untuk membahas SWOT serta merumuskan suatu 
solusi alternatif bagi Ranah ? Temanya 'political economy'. Soal diterima atau 
tidak diterima -- atau soal didukung atau 'ditubo' -- itu soal nanti saja. 
Itung-itung sebagai amal jariah.

Bagaimana kalau Gebu Minang kita jadikan forumnya ? Kebetulan saya masih 
menjadi Ketua Dewan Penasehat [ walau pernah menyatakan ingin meletakkan 
'jabatan' tetapi ditolak. ]. 


Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, 71 th, Jakarta)
--- On Sat, 5/3/08, Zulfan Tadjoeddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Zulfan Tadjoeddin <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Cakak Antarnagari - PRIHATIN
To: [email protected]
Date: Saturday, May 3, 2008, 9:56 AM


Bung Indra, Pak Saaf, Pak Jamal dan sanak sapalanta,
 
Kasus Cakak antar nagari di Solok seharusnya menjadi 'wake-up call' untuk 
Minangkabau, terutama yg di ranah. Menurut literatur konflik yg saya baca, ini 
adalah salah satu ciri keterbelakangan atau langkah menuju keterbelakangan 
(involusi). Ada yang salah dalam tubuh kita (Minangkabau secara umum, ranah dan 
rantau). Saya kuatir, nasib 'Minangkabau di Indonesia' akan mengarah seperti 
keadaan 'Bangladesh di dunia internasional', yaitu: 'diasporanya santiang2, 
tetapi di kampuang kacau-balau'. Ini tidak berarti saya pesimis, harapan harus 
tetap ada.
 
Ada paradox yang cukup kasat mata. Disatu sisi Minangkabau boleh bangga dengan 
budanya-nya yg adi-luhung, kiprah orang2nya di perantauan dan, yg terakhir, 
Pilkada Sumbar adalah salah satu yg terbaik di Indonesia (artinya cukup matang 
dalam berdemokrasi di tingkat lokal). Tetapi disisi lain: (1) ekonomi lokal 
sumbar stagnant (tdk kompetitif walau tingkat regional, lihat sektor industri, 
pendidikan, pariwisata dll), (2) secara traditional bergantung pada remintance 
(ini tidak sehat, lihat Phillipines), (3) di dalam terbelah (lihat dikotomi 
ranah-rantau, saling cemeeh), (4) memiliki banyak dimensi negative atau 
ambivalence dari budayanya yg perlu di reformasi (kalau memang mau maju), (5) 
berbagai dimesi kemiskinan semakin tampak (busung lapar, putus sekolah, 
pengangguran, dll), dan (6) DLL. Semuanya saling terkait. Dan jangan lupa, 
ekonomi Sumbar sangat tergantung pada sektor pemerintah (APBD) yg sebagian 
besar berasal dari kasihan ombak Jakarta, ini diukur
 dengan rasio APBD terdapat PDRB. Sumbar sangat gamang menghadapi 
desentralisasi.  
 
Ini memang bukan pengamatan yg up-to-date, hanya sebatas ota-ota palanta. 
Tetapi seperti yg Indra katakan, ini persoalan serius. Sayangnya, sejauh ini, 
persoalan serius ini hanya sebatas ota-ota palanta saja, ini tidak cukup. Belum 
kelihatan upaya2 serius yg memadai untuk memikirnya. Saya belum pernah membaca 
semacam kajian political economy of Minangkabau yang mampu membaca persoalan2 
ini dari perspektif yang lebih luas (atau mungkin sudah ada?). Pertanyaannya 
adalah mengapa tidak ada? Bukankah disporanya bertebaran dimana-mana? Bukankah 
di ranah sendiri banyak profesor dan doktor? Mungkin ada yg bisa memberi 
pencerahan.
 
Salam
Zulfan Tadjoeddin (35)
 
________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. 


      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke