Sekali lai ambo nyatokan, ambo sangat menikmati tulisan sanak
Darwin Bahar. Acok2lah nanulih sanak di RN. Kalau ado blog-nyo
agiah tahulah kami. Nan ambo sanang ado nilai2 kritis didalam
tulisan itu.

ajoduta/61/usa

On Sun, May 4, 2008 at 11:34 AM, Darwin Bahar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>
> Rabu, 30 April 2008.
>
> Setiap pagi dalam perjalanan ke kantor, biasanya saya minta Ridwan
> pengemudi yang biasa menjemput saya, untuk membeli sarapan nasi gurih
> atau lontong sayur di dua tempat favorit saya yang tidak jauh dari
> tempat kos saya di Rawa Sakti, Peniti. Sarapan tersebut biasanya saya
> santap di kantor setelah menulis tugas-tugas hari itu untuk asisten saya
> Ayu, dara manis 21 tahun asal Bireun yang cerdas, kritis sekaligus
> impulsif, dara yang selalu mengenakan busana muslim yang modis dan
> genah. Hari Rabu itu, saya minta Ridwan untuk liwat warung nasi gurih
> langganan saya. Setelah memberi uang sepuluh ribu rupiah untuk membeli
> dua bungkus nasi gurih untuk dia dan saya, saya ikut turun dan minta
> Ridwan memesankan buat saya kopi Aceh pakai susu kental manis.
>
> Kopi dihidangkan di gelas kecil tanpa diaduk, sehingga pembeli dapat
> mengaduk sendiri sesuai dengan kemanisan dan kegurihan yang
> diinginkannya seperti yang saya lakukan ketika itu. Kopi Aceh aromanya
> tidak luar bisa, tetapi ketika kopi yang diproses secara khusus itu
> melewati tenggorokan, kita merasakan kenikmatan yang sukar dilukiskan
> dengan kata-kata. Karena hanya memerlukan separuh dari susu kental yang
> ada di dasar gelas, saya menyuruh Ridwan untuk meminta pemilik warung
> mengisinya kembali dengan kopi, yang sepertinya baru selesai diproses
> sehingga busanya terlihat jelas di permukaan cairan. Setelah saya aduk
> rata dengan susu, dalam bilangn detik saya kembali merasakan sensasi di
> kerongkongan saya.
>
> Kamis, 1 Mei 2008, lewat tengah hari di Bandara Iskandar Muda.
>
> Langit berawan, udara panas di ujung utara pulau Sumatera itu tentu saja
> tidak terasa di ruang tunggu keberangkatan yang ber-AC itu. Angin
> semilir tidak mampu menggerakkan pepohonan di sekitar kawasan Bandara.
> Penumpang pesawat Boeing 737-400 Garuda GA 143 penerbangan Banda
> Aceh-Jakarta lewat Medan terlambat boarding sekitar 20 menit.
>
> Dalam sebuah suratnya kepada saya, Elceem mengibaratkan kehidupan
> bagaikan perjalanan panjang sebuah kereta api jarak jauh. Di setiap
> setasiun, ada yang masih tetap bersama kita, dan ada yang tidak.
>
> Saya boarding dengan "one way ticket". Artinya kopi Aceh yang saya teguk
> kemarin pagi di warung nasi gurih langganan saya, sangat mungkin
> merupakan kopi Aceh terakhir yang saya nikmati sepanjang hidup di sebuah
> warung kopi di Aceh, dan Aceh, tempat saya bekerja selama lebih sembilan
> bulan terakhir ini, akan merupakan setasiun yang akan segera dilewati
> oleh kereta kehidupan saya. Kecuali beberapa hal yang masih harus saya
> sempurnakan di Jakarta, seluruh tugas-tugas saya di Aceh sudah tuntas.
> Insya Allah, tanggal 1 Juni nanti, sebuah tugas baru menunggu saya di
> Semarang.
>
> Sebagai seorang yang memilih dan menikmati kehidupan asketik, rumah dan
> keluarga adalah tempat yang paling teduh dan damai bagi saya di muka
> bumi ini. Pulang ke rumah untuk cuti atau selesai tugas seperti ini
> adalah saat-saat yang saya tunggu, kadang kala dengan perasaan tidak
> sabar. Tetapi pada saat yang sama hari itu saya juga merasa sedih. Hal
> itu merupakan pertanda saya mencintai Aceh yang mungkin akan saya
> tinggalkan untuk selama-lamanya, perasaan yang sudah ada ada pada saya,
> jauh sebelum saya bertugas di sana, yang tercermin dari posting-posting
> saya sejak enam tahun terakhir ini. Cinta yang tidak berkurang walaupun
> idealisasi saya mengenai peranan Islam di Aceh ada yang perlu saya
> revisi berdasarkan realitas yang saya hadapi sehari-sehari pelaksanaan
> syariat Islam di Provinsi ini yang diformalkan dengan Undang-Undang.
> Walaupun saya bukan orang Aceh, saya termasuk yang gundah terhadap masa
> depan Aceh, terutama setelah para LSM internasional pergi, dan dana
> miliaran dolar berhenti dikucurkan oleh para sponsor dan lembaga donor,
> sementara kehidupan mayoritas warga Aceh tidak banyak mengalami
> perubahan. Hal itu tampak dengan meningkatnya kriminalitas dan perusakan
> lingkungan akibat pembalakan hutan secara liar dan penggalian pasir dari
> sungai secara tidak semena-mena yang juga melibatkan masyarakat
> setempat, yang berakibat menurunnya secara drastis kuantitas dan
> kualitas air baku PDAM-PDAM di sana, terutama PDAM Tirta Daroy di
> Ibukota Provinsi Banda Aceh.
>
> Aceh itu daerah yang kaya SDA, tetapi rakyatnya miskin. Pendapatan
> regional perkapitanya di luar minyak bumi waktu hanya sekitar USD 600,
> atau lebih kurang separuh agak rata-rata Indonesia.
>
> Kecintaan saya kepada Aceh juga akan diikat oleh kenangan terhadap
> indahnya suara azan yang dikumandangkan dari menara-menara mesjid yang
> juga rata-rata agung dan indah, atau kidung salawat kepada Sang
> Junjungan yang dilantunkan dengan aksen lokal dari Masjid belakang rumah
> yang memukau dan mengharukan, atau suara wirid di sebuah Masjid yang
> saya dengar seakan-akan berasal dari alam yang lain.
>
> Kecintaan saya kepada Aceh tentunya juga tidak dapat dipisahkan dengan
> cinta altruistik saya kepada Ayu, yang dengan kecerdasan dan
> sensitvitasnya, saya percaya pada suatu saat akan menjadi salah seorang
> Cut Nyak Dien masa kini yang sangat waktu ini sangat dibutuhkan Aceh
>
> Tidak lama kemudian, saya merasakan pesawat mulai bergerak, tetapi
> berhenti sekitar 10 menit, sebelum masuk landasan pacu. Hal serupa yang
> sering saya alami sebelum ini di Bandara Sukarno-Hatta, sesuatu yang
> sangat mengherankan saya. Kalau pesawat dianggap belum aman untuk
> take-off, mengapa tidak disuruh menunggu di apron saja dulu. Entah
> berapa liter avtur yang disuling dengan biaya mahal dari minyak bumi
> yang bersifat irreversible dan harganya semakin melangit, yang terbuang
> sia-sia saat pesawat harus menunggu sebelum masuk landasan pacu. Pesawat
> udara kan tidak sama dengan mikrolet, yang mesinnya dapat dihidup dan
> dimatikan sang sopir sesuka hatinya.
>
> Kita ini bangsa miskin, tetapi cabar.
>
> Saya memilih seat dekat jendela kiri beberapa baris dari belakang
> sehingga dapat menikmati pemandangan laut dan pulau-pulau kecil di Utara
> Banda Aceh, yang mungkin untuk terakhir kalinya.
>
> Sejak peristiwa terbakarnya bangunan Bandara Polonia beberapa bulan yang
> lalu, penumpang transit Garuda selalu diminta tetap tinggal di pesawat
> selama pesawat berhenti di sana. Tidak lama trdengar suara Pilot dari
> cockpit, yang meminta agar semua penumpang kembali ke tempat duduk tanpa
> memasang sabuk pengaman, karena pesawat akan mengisi avtur. Penumpang
> juga diminta tidak ke kekamar kecil dulu. Tetapi yang terjadi di kabin
> adalah "business as usual". Seorang penumpang bule justru bangun dari
> tempat duduknya dan bergerak ke kamar kecil tidak lama setelah
> pemberitahuan yang dikumnadangkan dalam Bahasa Indonesia dan Inggris
> baru saja menghilang dari pendengaran, dan awak kabin terlihat cuek saja
> melihat hal tersebut. Anomali ini juga agaknya mencerminkan budaya dan
> perilaku manusia Indonesia kotemporer. Sang Pemimpin merasa telah
> melakukan tugasnya apabila sudah mengatakan atau memerintahkan sesuatu,
> dan para pejabat di tingkat bawah akan melaksanakan suka-suka sesuai
> dengan kondisi dan "mood"nya. Semua baru ribut dan saling menyalahkan
> jika penyimpangan-penyimpangan di lapangan berakibat fatal.
>
> "Mana mama?" tanya saya kepada anak sulung kami Iben yang mengambil alih
> troli berisi bagasi dari tangan saya begitu saya keluar dari ruang
> kedatangan Bandara Sukarno-Hatta. "Menunggu di depan," jawab Iben
> singkat. Saya segera sadar, pada usianya yang mendekati 60 tahun serta
> mengidap beberapa penyakit tua, Kur tidak mampu lagi berdiri lama-lama
> di depan kaca pembatas seperti sedia kala. Saya berjalan dengan cepat
> mendahului Iben, dan ketika melihat Kur, dengan setengah berlari saya
> mendekat dan mendekapnya erat-erat untuk melepaskan rindu yang nyaris
> membuat dada saya hampir pecah, serta mencium dengan gemas dan dalam
> pipi perempuan yang sudah hampir 42 tahun menjadi istri, teman dan
> kekasih saya, pipi yang sudah mulai berkerut di makan usia dan
> digelayuti lemak. Tetapi cinta dan rasa sayang kepadanya saat ini jauh
> lebih besar dari pada ketika saya baru menyuntingnya di usianya yang
> baru 17 tahun, atau pada saat tahun berada puncak kecantikan dan
> kematangannya sebagai wanita di usia antara 30 – 40 tahun.
>
> Dan pada saat itu sebuah setasiun, baru saja dilewati kereta kehidupan
> saya.
>
> Wassalam, Darwin
> Depok, 4 Mei 2008
>
>
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke