Sanak palanta Yth :
Beberapa waktu belakangan ini saya punya hobby baru , yakni senang membaca dan
mengoleksi beberapa cerita pendek ( Cerpen ) yang bertebaran dibeberapa media ,
sampai saat ini sudah terkumpul lebih kurang 30 cerita pendek dan 3 buku
kumpulan cerpen , apabila menurut saya ceritanya menarik dan ada kaitan dengan
Minang maka mesti saya teruskan ( forward ) ke palanta . semoga sanak palanta
tidak ada yang keberatan dengan perilaku saya ini
Wassalam : zul amry piliang ( menjelang 61 th di jimbaran bali )
Nostalgia
Minggu, 04 Mei 2008 (Padangekspres)
Pengarang : Ragdi F Dave .
Peringatan bahaya itu membuat kami terpaksa bermalam di luar
rumah. Listrik padam. Walau langit terang ditaburi bintang-bintang, tetapi
suasana tetap tak menyenangkan. Karpet ruang tamu dibentang di atas rumput
halaman bersama tikar yang biasanya hanya tersandar di belakang pintu kamar
Ibu. Terpal biru ukuran delapan kali dua setengah meter yang kupasang untuk
antisipasi bila hujan tiba-tiba turun, bergoyang-goyang dikirai angin. Sepi.
Orang-orang telah pergi. Bapak dan Ibu duduk bersebelahan. Diam. Bapak
memangku Setiadi, anak Kak Peri yang duduk gelisah di dekat lampu lentera.
Maktuo (kakak perempuan Bapak) duduk di samping Ibu dengan tubuh terbungkus
mukena. Kak Peri terus mengutak-atik tombol telepon selulernya. Jaringan
terganggu. Tetapi dia tetap mencoba. Menghubungi Bang Fatwa, suaminya, yang
sedang berada di Jakarta.
"Kenapa kita tidur di luar, Ngku?" Setiadi kecil bertanya cempreng.
Nyinyir.
"Tidur sajalah, Adi. Nanti kamu habis dimakan nyamuk." sahut Bapak.
Ibu menyelimutkan kain sarung ke tubuh Setiadi.
Maktuo khusuk sendiri. Komat-kamit mengiringi putaran tasbih di tangannya.
Dari jauh terdengar raungan sirene. Entah ambulans. Entah polisi patroli.
Bapak telah mematikan radio. "Kita tak akan pergi ke mana-mana." katanya
tadi. "Kalau kita memang sudah harus mati, kita akan mati juga, walau lari ke
ujung dunia."
Walikota telah mengatakan bahwa daerah tempat kami tinggal tak akan
tercapai gelombang tsunami. Rumah kami dijamin aman karena jauh dan cukup
tinggi dari laut. Yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan bangunan runtuh.
Maka malam ini kami memilih menginap di halaman, walau para tetangga telah
lari sejak goncangan ketiga menghentak usai Magrib tadi diiringi listrik yang
total mati. Kami telah memilih tak pergi. Bukan karena benar-benar yakin pada
seruan walikota yang gemar membangun plaza itu, tetapi karena telah bosan
untuk terus-terusan lari. Maktuo, Ibu, dan Bapak sudah tak sanggup lagi mesti
berdesak-desakkan di atas mobil mengungsi ke ketinggian. Begitupun Kak Peri.
Aku sendiri tak begitu acuh. Aku sudah jemu dengan kecemasan-kecemasan itu.
Kutuangkan kopi dari cerek ke cangkir. Meneguknya. Rumah tampak lebih
rapuh dan menyedihkan. Sudah banyak retak-retak di dindingnya. Catnya
kelupas-kelupas. Kasihan bila kami meninggalkannya sendirian.
Angin masih bertiup. Bumi rasanya terus juga bergetar-getar.
Kak Peri merebahkan tubuhnya ke dekat kaki Maktuo yang berselonjor. Ibu
memijit-mijit kakinya yang reumatik. Bapak merapatkan jaket dan mengetatkan
belitan syal di lehernya. Maktuo terus berzikir dalam kelumunan mukena. Aku
mengambil kasur gulung ke dalam rumah. Sempat Ibu melarang. Tapi goncangan
sudah reda. Kecuali ilusi. Kubentangkan kasur di atas tikar di luar naungan
terpal. Merebahkan badan. Melihat bintang-bintang. Apakah di bintang ada
setan?
Lengang. Setiadi telah tertidur di pangkuan Bapak. Hanya suara napas
tertekan dan lirih zikir Maktuo. Tiba-tiba bumi bergemeretak. Kak Peri
berseru. Bapak berseru. Ibu berseru. Maktuo berseru. Menyebut nama Tuhan.
***
Lalu beratus-ratus detik kemudian hanya sunyi.
Sampai Bapak berdehem, membuat cekaman itu cair. "Mari kita santai saja.
Alam sedang mengajak bercanda. Tak seharusnya kita serius." katanya.
Mulutku asam. Bunyi gemuruh rumah masih terngiang-ngiang di telinga. Ada
loteng yang runtuh. Apakah hantu itu akan keluar dari laut dan menemukan kami
sekeluarga sedang berkerumun di halaman seperti mangsa yang tolol?
"Ap, ambilkanlah maktuomu minum." perintah Bapak.
Aku segera bangkit dan mengambilkan secangkir air putih untuk Maktuo.
Perbekalan memang telah dipersiapkan Ibu sejak teror itu datang beberapa hari
yang lalu. Tersedia juga ember besar berisi air untuk berwudhuk dan kompor.
Setelah Maktuo minum, Ibu dan Kak Peri menggilir cangkir itu.
"Mari kita isi malam ini dengan bercerita," Kata Bapak. "Sudah lama rasanya.
Sejak hari raya."
Percakapan pun merayap di antara malam yang remang dan nyamuk-nyamuk kurang
ajar yang terus berdengung.
Ibu menjerang air di periuk untuk menambah kopi yang tinggal sedikit.
Maktuo telah berhenti berzikir. Dia duduk tenang-tenang seperti pengemis
pikun di depan swalayan. Kak Peri duduk serius dekat lentera yang bernyala
lindap. Setiadi kini tidur di haribaannya.
Cerita didominasi oleh Bapak. Kadang dia terkekeh-kekeh ketika berhasil
menghadirkan ingatan yang lucu. Maktuo akan terbatuk-batuk jadinya. Ibu
senyum-senyum. Kak Peri terkikik sambil menyumpal mulutnya sendiri. Bapak
suka sekali mengulang-ulang kisah lama. Tentang rumah tua kami, tentang
peristiwa hari raya demi hari raya, tentang...
Suara Bapak menjadi serak.
"Aku teringat pada Kamaruzzaman. Ya, si Kam yang rumahnya di tepi sungai
Batang Lembang di Sinapa Piliang. Dia anggota Kompi Negro dari Resimen III
Batalion Lembang yang dipimpin Idris Madjidi. Saat orang Bagolak dulu, aku
punya masalah dengannya. Dan dia tertembak..."
***
Aku mencintai Rakena, gadis Lukah Pandan yang berhidung lancip dan
bertubuh semampai berisi. Sering aku mengamati dia sedang menjunjung kambut
(bakul) meniti pematang sawah mengantar nasi untuk ayahnya. Tetapi ternyata
dia lebih suka pada si Kam bangsat itu. Dia selalu menunggu-nunggu anak itu
pulang dari SGA. Bagaimana tak akan sakit hatiku, aku yang mengejar-ngejar,
tetapi dia malah terpikat pada orang lain. Dia tak suka padaku karena aku tak
bersekolah. Bangsat! Mau apa dia dengan sekolah? Puih! Orang hanya butuh
makan dan bersawah.
Suatu petang, sebelum api mengepul di atas nagari-nagari salingka Kubuang
Tigobaleh, aku telah mendatangi Rakena dengan baik-baik. Kukatakan padanya,
"Dik, apa yang kauinginkan? Rumah? Sawah? Atau emas?"
Dia baru pulang dari sawah, membawa pucuk ubi dalam kambut.
"Tak tahukah Uda bahwa orang akan berperang? Orang laki-laki telah mengemas
senjata untuk gerilya. Uda masih bersenang hati juga?!"
"Aku juga akan berjuang! Tetapi jawab aku dulu, Rakena. Kalau kau mau,
keluargaku akan datang segera ke rumahmu!"
"Kata Uda Kam, keadaan telah genting. Nasution telah menaklukkan Painan,
Bukittinggi, dan Padang. Djuanda telah menahan Sjafruddin, Sjafei, dan
kawan-kawan. Kolonel-kolonel terdesak. Tak patut bila masih memikirkan diri
sendiri!" "Apa yang kauucapkan, Rakena? Dari mana kau tahu semua itu?!"
"Uda Kam yang cerita. Dia dapat kabar dari RRI Bukittinggi. Itulah, karena
Uda tidak sekolah. Uda Kam sekarang telah bergabung dengan Kompi Negro,
menjadi tentara pelajar untuk membela negri ini."
Rakena berlari setelah memungut kambutnya. Rambutnya tergerai dari kain
selendang yang lepas sebagian. Dua bulan kemudian dia ditemukan mati
tertembak di tepi parak (kebun). Kata orang-orang, dia ketahuan oleh tentara
menyelundupkan senjata ke Koto Ilalang.
Dendamku pada Kamaruzzaman semakin menjadi. Maka, ketika mendapat kabar
bahwa dia akan menyeberang ke Sulik Aie dari Koto Ilalang, aku pun memberi
tahu Tentara Pusat. Di Sumani dia tertembak.
***
Telah hampir Subuh. Bapak berhenti bercerita. Cahaya lentera yang redup
membuat matanya tampak berkaca-kaca, atau memang dia menangis? Maktuo
tersandar ke ember besar berisi air untuk berwudhuk. Tertidur. Di pipinya
tampak ada leleh air mata yang telah kering. Kak Peri bergelung memagut
Setiadi. Ibu diam dekat kompor yang masih menyala. Bunyi air menggelegak
bergolak-golak di tengah hening yang menyakitkan dada.
Ketika pulang ke Solok saat hari raya beberapa tahun lalu, aku sempat mampir
ke sebuah rumah di tepi sungai Batang Lembang dekat Masjid Lubuak Sikarah itu
bersama seorang sepupu yang tinggal di kampung.
Di rumah tua itu aku bertemu dengan seorang lelaki tua yang duduk bersandar
ke dinding papan. Dia tersenyum padaku dan mempersilakanku mencicipi tapai
ketan yang disuguhkan istrinya.
"Kalau bukan karena perang itu, Nak, tak akan pernah ada jembatan, jalan,
dan sekolah-sekolah di sini." Katanya padaku dalam percakapan yang canggung.
"Tetapi sayang, sejarah menganggapnya pemberontakan, padahal kami hanya
menyampaikan aspirasi kami yang seolah hanya anak tiri. Perang saudara memang
pahit."
Waktu itu aku tidak tahu benar siapa dia, kecuali bahwa namanya
Kamaruzzaman, pernah ikut berperang semasa Bagolak, dan kaki kanannya buntung
sebatas paha.
Cerita Bapak yang sebentar ini membuat perutku mual. Aku pergi ke sumur
untuk kumur-kumur dan muntah. Gempa sudah tak ada. Rumah hampir rubuh. Ketika
balik, kulihat tubuh Bapak yang ringkih oleh komplikasi penyakit itu
bergetar-getar dan kudengar dia tersedu sampai batuk-batuk.
***
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---