SUARA PEMBARUAN DAILY
Sabtu 10 Mei 2008
________________________________
Hujan Tangis di Negeri Beras
AP/Aktion Deutschland Hilft
Warga di Yangon, Myanmar, berusaha membangun kembali rumahnya yang hancur,
Jumat (9/5). Foto ini dirilis oleh organisasi bantuan Jerman, Aktion
Deutschland Hilft (ADH). Junta militer masih membatasi akses bantuan. Mereka
bilang barang bantuan boleh masuk tetapi para staf asing tidak boleh ikut
serta.
yanmar tak hanya dikenal sebagai negeri yang diperintah oleh junta militer
tetapi juga sebagai salah satu lumbung beras di Asia Tenggara. Namun, serangan
Badai Topan Nargis Sabtu pekan lalu telah meluluhlantakan negeri itu. Keganasan
topan tidak berhenti pada data puluhan ribu orang yang meninggal atau hilang,
masih banyak korban selamat yang tidak mendapat pertolongan apa-apa. Untuk
makan pun mereka kesulitan. Hujan tangis dan ketakutan meliputi seluruh warga.
Beberapa orang yang selamat tiba dengan setengah telanjang, yang lainnya
memakai pakaian yang diambil dari korban-korban yang meninggal. Kota penghasil
beras di Myanmar, Labutta, satu-satunya daerah tinggi di dataran rendah yang
tergenang, telah menjadi daerah harapan bagi puluhan ribu orang yang selamat
dari amukan topan, yang kebanyakan kehilangan rumah dan anggota keluarganya.
Orang-orang yang selamat itu melakukan perjalanan dengan perahu kayu reot dan
layar selimut seadanya, sambil menghindari mayat para tetangga dan
kerbau-kerbau yang mati mengambang di air keruh. Dalam sebuah video yang dibuat
oleh wartawan Myanmar untuk AP disebutkan, perjalanan tersebut merupakan
perjalanan yang penuh ketakutan dan kesengsaraan.
Ada pula orang yang berada di pohon-pohon dan reruntuhan selama berhari-hari
sambil menunggu datangnya bantuan yang tak kunjung datang. Video tersebut
memuat pemandangan pertama dari daerah Myanmar terparah yang terkena topan,
muara Sungai Irrawaddy, yang terisolasi dari dunia luar sejak Topan Nargis
terjadi, Sabtu (3/5). Gelombang badai setinggi 12 kaki atau 3,5 meter itu
menghantam wilayah rendah yang dipenuhi dengan padi dan rumah-rumah bambu.
"Saya menunggu lama di pohon kelapa setinggi 18 kaki sampai cuaca reda. Saya
tidak tahu apa yang terjadi dengan isteri dan anak-anak," kata Phan Maung (55)
sambil terisak.
Mereka yang selamat dari amukan badai tampak gemetar dan sulit menceritakan
peristiwa yang dialami. Marah dan histeris menjadi pemandangan pascabencana.
Hanya beberapa orang yang bersedia memberikan nama. "Saya satu-satunya yang
selamat dari keluarga yang berjumlah 11 orang. Seluruh desa habis tersapu
topan," kata seorang pria dari Desa Yay Way.
"Angin datang lebih dulu dan ombak mulai menggulung kami. Jadi kami harus
merangkak ke dinding jerami untuk naik ke lantai atas rumah. Saya lihat
orang-orang tenggelam dan mayat-mayat mengapung," kata seorang wanita berusia
50 tahun yang masih bingung.
Lebih 60.000 orang tewas atau hilang di daerah dekat muara sungai yang padat
penduduk dan berada dekat dengan laut. Sebanyak 100.000 orang dikhawatirkan
meninggal.
Ahli meteorologi senior di AccuWeather, Jim Andrews mengatakan, foto satelit
yang diambil setelah badai menunjukkan banyak kemiripan dengan Badai Katrina di
wilayah selatan AS pada 2005.
Orang-orang yang selamat di Labutta mengindikasikan hampir dua pertiga dari
penduduk di desa mereka tewas. "Sekitar 1.000 orang tinggal di desa saya, hanya
sekitar 300 orang selamat. Seluruh rumah hancur," kata seorang penduduk Kwa Kwa
Lay. Kepala desa setempat mengatakan hanya sekitar 100 dari 500 orang yang
selamat di desanya yang telah terendam.
Makanan, air bersih, dan alat-alat kesehatan dalam jumlah yang terbatas di
Labutta, di mana orang-orang yang selamat memilih untuk minum air susu kelapa.
Mereka yang selamat dan tiba dengan perahu, bergabung bersama warga lainnya
dari 51 kota dan desa, yang sekarang digenangi air. Namun tiap hari jumlah
perahu berkurang, karena persediaan bahan bakar menghilang.
Mereka menjelajahi air berbau busuk, melewati tubuh yang tersangkut di pohon
bakau, dan rumah yang hancur. Labutta adalah kota berpenduduk 209.000 orang
sebelum topan melanda. Tumpukan reruntuhan tampak di jalan-jalan dan atap-atap
rumah hilang. Tapi masih ada juga bangunan yang utuh, di mana dijadikan tempat
penampungan sementara sambil menunggu datangnya bantuan. "Bantuan masih belum
tiba. Ibu saya, anak-anak, dan suami terpisah. Tiap hari saya menunggu perahu
penyelamat datang, berharap melihat mereka di dermaga," kata Khin Khin Mya
(38).
Rumah sakit di kota tidak punya persediaan pertolongan pertama, obat-obatan,
atau peralatan kesehatan lainnya, dan tidak ada dokter terlihat. Keluarga yang
terluka menjadi putus asa dan mengobati luka mereka dengan jarum jahit berkarat
dan benang. Seorang pria merintih di tempat tidur, kakinya hancur dan patah
ketika ditemukan di antara dua perahu.
[AP/MRS/N-3]
________________________________
Last modified: 10/5/08
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Hindari penggunaan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---