Minggu, 11 Mei 2008, (Jawapos)
"Sembilu Talang Perindu"
Pengarang Cerpen : Damhuri Muhammad
Jangan dikira tiada puncak di atas puncak! Begitu kalian menginjakkan kaki di
tepi kawah seluas dua lingkar pacuan kuda itu, arahkan pandang ke sisi kiri,
kalian akan melihat sepasang pohon kembar yang tegak dalam posisi bersilang
hingga menyerupai huruf X. Awas! Itu tanda larangan, agar para pendaki Gunung
Seribu Bidadari tak gegabah menerobosnya. Tapi jikalau kalian memang punya
nyali untuk menantang bahaya, duapuluh depa saja dari persilangan pohon kembar
tak terbilang usia itu, akan tersingkap jalan setapak penuh semak kelimunting
yang makin ke ujung makin menanjak. Itulah jalan menuju puncak yang lebih
tinggi dari puncak tempat para pendaki memancang bendera pertanda telah
menaklukkan Gunung Seribu Bidadari yang keganasannya tersohor di segala penjuru
mata angin.
Ya, puncak terlarang bagi siapa saja yang tak hendak berpisah dengan
sanak-saudara setelah pendakian yang bersabung nyawa itu. Di puncak larangan
itu terhampar sebuah telaga yang airnya begitu jernih, tapi dinginnya menusuk
hingga tulang sumsum. Bila daya tahan tubuh sedang menurun, jangan coba-coba
membasuh badan dengan air telaga itu, bisa mati beku kalian dibuatnya. Sejak
lama, orang-orang di sekitar lereng Seribu Bidadari menamainya Telaga Dewi.
Telaga pemandian dewi-dewi penunggu puncak terlarang. Kecantikan mereka nyaris
menyerupai malaikat tatkala menyamar sebagai bidadari. Itu sebabnya gunung itu
dinamai Seribu Bidadari. Banyak yang percaya, bidadari-bidadari itulah yang
telah membuat pendaki-pendaki yang tersesat di kedalaman belukar puncak
terlarang, merasa tidak perlu dicari, tidak perlu kembali, untuk selamanya.
Berapa banyak pendaki yang raib, tapi akhirnya dianggap mati lantaran tak satu
mayat pun ditemukan? Sebenarnya mereka masih hidup, bahkan usia mereka
bakal lebih panjang ketimbang sanak saudara yang belum sepenuhnya merelakan
kehilangan tak berjejak itu. Tidak hilang, hanya saja jasad mereka tak
terjangkau pandang mata telanjang. Mereka sudah menjelma makhluk halus dan
hidup bahagia sebagai pasangan bidadari-bidadari yang memang harus terus
beranak-pinak.
"Akan kami renangi telaga hantu itu. Sebab, Talang Perindu ada di
tengah-tengahnya," begitu tekad Gacik Pangawan, salah satu dari tiga pendekar
tanggung yang datang dari negeri jauh.
"Barang keramat itu syarat pokok untuk menyempurnakan kesaktian kami," sambung
Incekmato Batangkai, pendekar yang tampangnya cukup bersahabat, tapi cepat
sekali naik pitam.
"Lebih baik mati terjungkang di puncak terlarang daripada turun tanpa Talang
Perindu!" dukung Sakotok Takujai, pendekar paling muda, tapi dadanya paling
membusung.
Tak salah lagi. Ada serumpun aur yang tumbuh subur di telaga itu. Setiap buluh
di rumpun itu kelak memang akan menjadi Talang Perindu, barang keramat yang
sejak dulu dicari-cari para penghamba ilmu pelet. "Jaga mulutmu tua bangka!
Kami bukan pemuja ilmu pelet," gertak Incekmato Batangkai.
"Cecunguk ini benar juga, kita memang akan merenggut semua bunga yang kita
suka. Bila perlu bunga di jambangan. Dengan begitu, akan ternobatlah kita
sebagai Pendekar Pemetik Bunga," sela Sakotok Takujai.
"Pokoknya semua makhluk bernama perempuan bakal berlutut di kaki kita."
Barangkali ada yang kalian lupa. Rumpun aur itu tidak tumbuh di tengah-tengah
Telaga Dewi sebagaimana kalian duga. Mungkin kalian juga lupa kalau rumpun aur
itu bisa berpindah dari tengah ke tepi telaga, sekali waktu juga bisa
menghilang seolah terhisap arus di dasar telaga. Lalu, bagaimana cara kalian
mendapatkan Talang Perindu? Saya kuatir, pendakian kalian akan sia-sia.
"Aha, tua bangka ini meragukan kehebatan kita?"
"Tunggulah, sebentar lagi ia akan melihat tuah Talang Perindu di perkampungan
lereng gunung ini. Perempuan-perempuan di tanah kelahirannya itu akan kita
boyong pergi jauh. Dan, anak gadisnya yang bermata biru itu pantas pula
melayani juragan-juragan di negeri kita."
"Sebelumnya tentu kita uji coba lebih dahulu. Ha ha ha ha....."
***
Semasa darah mudanya masih menggelegak, lelaki ringkih pencari belerang itu
pernah pula menggebu-gebu hendak memiliki Talang Perindu sebagaimana tiga
pendekar pongah itu. Andai mereka tahu bahwa ia adalah Pendekar Pemetik Bunga
yang sesungguhnya, tentu mereka tidak akan berani menggertak, apalagi mengancam
akan meneluh anak gadisnya dengan Talang Perindu. Lelaki setengah bongkok itu
memang gagal menggapai rumpun aur di tengah Telaga Dewi lantaran diserang
kawanan elang gunung yang bertubi-tubi mencengkeram kuduk dan pucuk kepalanya.
Tubuhnya terapung-apung sebelum tangannya sempat berpegangan pada salah satu
buluh di rumpun aur itu. Apa boleh buat, hasrat hendak membuat seruling dari
Talang Perindu pupus sudah. Sedianya seruling itu akan menjadi seruling bertuah
yang bila ditiup akan menaburkan benih-benih rindu setiap perempuan yang
mendengarnya. Itu sebabnya disebut Talang Perindu, talang penumbuh rindu.
Sayup-sayup bunyi seruling akan membuat gadis-gadis mabuk kepayang
hingga datang mendekat satu per satu, serupa gerombolan ikan berbondong
lantaran mencium bau umpan dalam jala. Ia bisa pilih, ranum tubuh mana yang
mesti dicicip lebih dulu. Jangan segan-segan, mereka sudah jadi budak, dan
lelaki peniup seruling adalah tuannya. Budak-budak tiada bakal bebas bila
pemilik Talang Perindu belum melepasnya.
Ah, itu hanya angan-angan yang tak kesampaian. Tapi, berputus asa pantang bagi
seorang pendekar. Meski Talang Perindu tak didapat, suatu masa ia beroleh mujur
juga. Saat terbungkuk-bungkuk memikul karung berisi belerang lembab, kakinya
tersandung sarang elang yang baru saja jatuh dari dahan pohon Medang. Saking
kagetnya, tak sengaja ia mengeluarkan jurus Terjang Halimbubu, hingga gumpalan
berisi rumput-rumput kering itu hancur menjadi serpihan-serpihan halus seperti
tepung terigu dihembus angin. Tapi ia masih saja kesal, sebab kelingking jari
kakinya terasa perih. Seperti ada duri yang mencucuk daging kelingking itu.
Terus saja ia berjalan sembari menjinjit kaki. Saat membasuh kaki di kali yang
hanya beberapa langkah dari dangau tempat tinggalnya, ia mencabut duri yang
tertancap di kelingking kaki kirinya. Bukan duri ternyata, tapi patahan sembilu
sebesar ujung batangan tusuk gigi. Mungkin sembilu yang terkelupas dari
batangan buluh kering, lalu elang gunung membawanya
terbang untuk membuat sarang. Sembilu yang telah mendarahi kelingkingnya itu
mengapung, hanyut perlahan. Tapi, tampaknya ada yang ganjil. Sembilu itu tidak
hanyut ke hilir, justru mengarah ke hulu kali. Hanyut sungsang. Lekas ia
memungutnya. Bila sudah rejeki tak hendak ke mana, itu bukan sembilu biasa,
tapi sembilu yang terkelupas dari Talang Perindu di puncak Seribu Bidadari. Tak
ada rotan, akar pun jadi. Tak ada talang, sembilu pun cukup.
Benda yang semula jadi duri dalam dagingnya kelak membuat ia ternobat sebagai
Pendekar Pemetik Bunga. Sembilu dari Talang Perindu menjadi jimat ajaib di
tangannya. Tapi, seumur-umur hanya sekali ia meneluh perempuan dengan sembilu
bertuah itu. Masa itu, sekelompok perempuan pirang datang hendak mendaki Gunung
Seribu Bidadari, dan lelaki penambang belerang itu terpilih sebagai penunjuk
jalan. Jane, perempuan paling mancung, sekali waktu menutup hidung saat
berdekatan dengan si penunjuk jalan. Seolah-olah Jane tidak tahan dengan bau
tubuhnya. Maklum, ia hanya akan sungguh-sungguh mandi di malam satu suro,
setahun sekali. Ia tersinggung, dan obat satu-satunya hanya perempuan itu
sendiri. Sembilu Talang Perindu membuat Jane bersenang hati jadi bininya.
Pantaslah anak gadisnya kelak juga bermata biru seperti Jane. Sejak itu, tak
pernah lagi ia meneluh. Puas ia dengan satu perempuan saja, tidak seperti
hasrat tiga pendekar tanggung yang hendak menjadi tuhan bagi semua makhluk
bernama perempuan, padahal mereka belum tentu sanggup menggapai puncak
terlarang di Gunung Seribu Bidadari.
***
Gelang-gelang Kawat marah besar. Warung Kopang miliknya sedang terancam gulung
tikar. Sepi pengunjung, karena perempuan-perempuan yang tersedia sudah
kedaluwarsa, tak menggairahkan lagi. Suguhan kopi di warung remang-remang itu
memang tiada duanya, tapi para pejajan tentu lebih tergiur dengan kenikmatan
saat duduk di atas paha gadis-gadis muda sembari menyeruput kopi. Itu sebabnya
disebut Kopang, Kopi Pangku, minum kopi sambil dipangku. Saatnya gadis-gadis
pelayan Kopang itu diganti dengan perawan-perawan kinclong, segar, dan berkulit
kencang. Tapi, tiga murid Gelang-gelang Kawat yang diutusnya ke puncak Gunung
Seribu Bidadari pulang dengan tangan kosong.
"Keparat busuk! Masih berani kalian pulang tanpa Talang Perindu?" bentak
Gelang-gelang Kawat, tubuh bongsornya gemetar hendak lekas menghabisi
bedebah-bedebah itu.
"Tuan guru, beri kami satu kesempatan lagi," jawab Incekmato Batangkai dengan
kepala menunduk.
"Kami janji, Talang Perindu akan jatuh ke tangan kita. Warung Kopang akan
semarak kembali seperti dulu!"
"Akan kami paksa tua bangka penambang belerang itu menunjukkan di mana
sebenarnya Talang Perindu itu berada," tambah Sakotok Takujai
"Penambang belerang?" tanya Gelang-gelang Kawat, terperangah.
"Ya, lelaki sepuh di lereng Seribu Bidadari itu tahu segala rahasia tentang
Talang Perindu. Ia mengenal Talang Perindu seperti mengenal urat lehernya
sendiri."
"Jadi, berilah kami kesempatan!" mohon Gacik Pangawan, mulai ketakutan, sebab
geraham Gelang-gelang Kawat sudah bergemeretuk, seolah akan mengunyah-ngunyah
mereka bertiga.
Gelang-gelang Kawat langsung teringat raut wajah lelaki pencari belerang yang
diceritakan murid-muridnya itu. Ia tidak lain adalah Pendekar Pemetik Bunga
yang sebenarnya. Dulu, Gelang-gelang Kawat pernah berguru pada si empunya jurus
Terjang Halimbubu itu. Tapi sesungguhnya ia hanya berpura-pura jadi murid,
untuk mencuri sembilu Talang Perindu, jimat ampuh yang diincarnya sejak lama.
Tapi, memiliki Talang Perindu rupanya tak segampang mengirim Gacik Pangawan,
Sakotok Takujai, Incekmato Batangkai, tiga murid tololnya itu ke liang kubur.
Kelapa Dua 2008
***
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Hindari penggunaan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---