Sekolah-sekolah Korban Ujian Nasional
11 May 2008
Oleh: Budi Suwarna

Namanya  cukup  keren:  SMA  Villa  Mas.  Namun,  jejak rekam akademis
sekolah  ini  jauh  dari  membanggakan.  Bayangkan,  selama  dua tahun
berturut-turut,   angka  kelulusan  ujian  nasional  di  sekolah  yang
terletak  di  Pulo  Gadung,  Jakarta  Timur,  itu nol persen alias 100
persen siswanya gagal ujian.

Kepala  SMA  Villa  Mas  Enny  Tri Susilowati duduk di ruang kerjanya,
Jumat  (9/5).  Angka  ketidaklulusan  di  sekolah ini selama dua tahun
berturut-turut mencapai 100 persen.


Kepala  SMA  Villa  Mas  Enny  Tri Susilowati mengungkapkan, dari lima
siswa  yang  mengikuti  ujian  nasional  (UN)  tahun  2006 lalu, tidak
seorang  pun yang lulus. Peristiwa serupa terulang pada UN tahun 2007.
Dari  17  siswa yang ikut UN, tidak ada yang lulus. Untungnya, lima di
antara mereka akhirnya lulus melalui program Kejar Paket C.

Tahun  ini,  ada  enam  siswa  yang  ikut  UN.  Enny mengaku deg-degan
menunggu  hasil  UN pertengahan Juni nanti. Kegelisahan itu beralasan.
Maklum,  sekarang  pemerintah  menetapkan standar kelulusan yang lebih
tinggi  dan  ujian  mencakup  enam mata pelajaran pokok. Seorang siswa
baru  lulus  ujian  jika nilai rata-rata mata pelajaran hasil ujiannya
minimal  5,25.   Saya  khawatir  tidak  ada  yang lulus lagi,  katanya
sambil mengurut dada.

SMA Villa Mas adalah potret sekolah gurem di jantung ibu kota Jakarta.
Letaknya bersebelahan dengan perumahan elite di kawasan Pulo Mas, Pulo
Gadung.  Namun, kondisinya cukup memprihatinkan. Bangunannya kusam, di
beberapa  tempat  rusak.  Lantainya banyak terkelupas. Plafon di ruang
kepala sekolah, bahkan, sebagian hampir copot. Lemari yang ada di situ
pun miring.

Jangan lagi bicara soal fasilitas. Perpustakaan di sekolah ini seperti
tidak   pernah   digunakan.   Lantainya   kotor  penuh  debu.  Koleksi
perpustakaan  itu  hanya beberapa baris buku paket. Ruang laboratorium
hanya berisi satu buah peraga kerangka manusia dan beberapa meja.

Siswa   di  sekolah  ini  seluruhnya  berasal  dari  keluarga  miskin.
 Sebagian  dari  mereka  terpaksa  sambil  bekerja.  Ada  yang menjadi
pembantu, ada yang penjual koran,  katanya.

Enny  mengatakan, saking miskinnya, sebagian dari mereka tidak sanggup
membayar  biaya  SPP dan ekstrakurikuler sebesar Rp 115.000 per bulan.
 Sampai keluar dari sini pun masih banyak yang nunggak,  ujarnya.

Sekolah yang berdiri sejak 1989 itu pun sedang menghadapi situasi yang
sulit.  Setiap tahun, jumlah siswanya merosot. Tahun ajaran 2007-2008,
jumlah  total  siswa di SMA Villa Mas hanya 30 orang: 8 orang di kelas
I, 16 orang di kelas II, dan 6 orang di kelas III.

Minimnya  siswa  mengakibatkan  keuangan sekolah berdarah-darah. Untuk
memenuhi  operasional sekolah tiap bulan pun, pengelola tidak sanggup.
 Saya di sini kerja bakti, sedangkan guru lain yang mengajar rata-rata
dua hari sekali hanya dibayar Rp 122.000 per bulan,  katanya.

UN  membuat sekolah ini semakin terjepit. Dengan tingkat kelulusan nol
persen,   orangtua   siswa   mungkin  berpikir  puluhan  kali  sebelum
menyekolahkan  anaknya  di  SMA  ini.  Lain halnya jika mereka kepepet
lantaran  tidak  ada  biaya.  Untuk tahun ajaran 2008-2009, kata Enny,
pihaknya  baru mendapat satu siswa.  Mudah-mudahan nanti ada lagi yang
mendaftar,  ujar Enny penuh harap.

Angkat tangan

Tidak  hanya sekolah gurem, sekolah-sekolah yang sudah cukup mapan pun
merasa  terjepit  oleh  UN.  Setiap menjelang UN, saya deg-degan. Saya
khawatir  banyak  siswa  saya yang tidak lulus,  ujar T Iskandar, guru
agama di SMK Jakarta Pusat I.

Sekolah  itu  memang  punya pengalaman buruk. Tahun lalu, sebanyak 144
dari  231  siswanya  tidak  lulus  UN. Yang memprihatinkan, siswa yang
tidak  lulus  melampiaskan  kekesalan  mereka  dengan  memecahkan kaca
jendela dan mencorat-coret dinding sekolah. Pihak sekolah sampai harus
memanggil  polisi.   Kalau ingat kejadian itu, kami trauma,  ujar Agus
Ramdan, Ketua Panitia UN di sekolah itu.

Tety  Herawati,  guru SMA/ SMK Diponegoro I di kawasan Rawamangun, tak
kalah  deg-degan.  Tahun lalu, dari 600-an siswa SMA dan SMK yang ikut
UN,  101 di antaranya tidak lulus. Angka ketidaklulusan begitu tinggi,
lanjut  Tety,  karena sekolahnya mencoba untuk jujur.  Sebelumnya kami
membantu  siswa  agar  lulus  UN,  tapi  itu  tidak kami lakukan lagi.
Hasilnya, seperti ini,  ujar Tety.

Sejak  Arief  Rachman,  pakar pendidikan, menjadi penasihat di sekolah
itu,  praktik-praktik  kecurangan  dalam pelaksanaan UN di sekolah itu
dilarang.   Saya  sempat  diprotes  oleh  orangtua  siswa  karena saya
dianggap  terlalu  jujur.  Tapi,  saya  katakan kejujuran dan tanggung
jawab lebih penting artinya dalam dunia pendidikan,  kata Arief.

SMA/SMK Diponegoro I bukan tergolong sekolah gurem. Sekolah itu sangat
memadai  secara  fisik  dan  fasilitas.  Gedungnya bertingkat tiga dan
dilengkapi   berbagai  laboratorium.  Bahkan,  ada  masjid  besar  dan
taman-taman  cantik  di  sekolah itu. Toh, banyak siswa di sekolah itu
tidak sanggup mengerjakan soal UN.

Mengapa?  Imam  Parikesit,  pendidik  di sekolah tersebut, mengatakan,
lebih  dari  separuh  siswanya  berasal  dari  keluarga  tidak  mampu.
Sebagian  orangtua  mereka  bekerja sebagai tukang cuci, sopir angkot,
tukang  sayur, hingga penggali kubur dengan penghasilan kurang dari Rp
1,5  juta  per  bulan. Dengan kondisi seperti itu, sulit bagi orangtua
memberikan les tambahan untuk anaknya.

Begitulah,  ketiga  sekolah  itu  adalah  korban  UN. Bagaimana tidak?
Pemerintah  menetapkan standar kelulusan yang tinggi, bahkan cenderung
ditingkatkan  setiap  tahun. Namun, tidak semua sekolah disokong untuk
mengadakan fasilitas pendidikan yang memungkinkan target kelulusan itu
tercapai.

Sialnya,  pemerintah  seolah  tutup  mata  dengan perbedaan kondisi di
masing-masing sekolah. (Ilham Khoiri/ Lusiana Indriasari)


--------------------------------------------------------------------------------
Sumber:
Kompas, 11 Mei 2008




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Hindari penggunaan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke