Riri,
iyo lo eh, kalau 40 sakali racak he, he indak talok di ambo manaruh kan doh.

Wassalam
Tan Ameh
  ----- Original Message ----- 
  From: Riri Chaidir 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, May 13, 2008 8:16 PM
  Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Bls: [EMAIL PROTECTED] ..... bejat........


  Mak Ngah,

  Nampaknyo bukan 40 sakali racak, tapi itu kalau dietong sajak tahun 2005. Itu 
pengakuan baliau ka polisi; dan 15 diantaro korban tu lah malapor lo ka polisi 
dan divisum. Itu nan ambo baco di 
http://www.padangekspres.co.id/content/view/5656/1/ (ambo copy kan di bawah)

  Riri
  L 46

        Oknum Guru SD Cabuli 40 Murid, Dinas Pendidikan Diminta Evaluasi 
Guru-guru  
        Senin, 12 Mei 2008  
        Payakumbuh, Padek-- Dunia benar-benar sudah tidak waras saja. Seorang 
oknum guru agama SD di Kecamatan Payakumbuh Timur yang seharusnya bisa digugu 
dan ditiru, malah tega mencabuli sekitar 40 murid-muridnya. Usut punya usut, 
kejahatan guru berinisial "JSF" alias Jun (57) ini, ternyata sudah berlangsung 
sejak tahun 2005.  Namun Satuan Reserse dan Kriminal Polresta Payakumbuh, baru 
bisa membongkar kasusnya pada Kamis (8/5),  setelah seorang wali murid bernama 
"Sf" (36), datang untuk melaporkan peristiwa yang dialami anaknya, berinisial 
"FAP" (7). Di mana sewaktu pipis atau buang air kecil, "FAP" tiba-tiba 
mengerang kesakitan. Kemudian bocah kelas satu ini mengaku takut untuk pergi ke 
sekolah. Karena di sekolahnya ada guru jahat yang suka mencongkel (maaf) 
kemaluannya dengan telunjuk kiri.  
        "Berdasarkan laporan tersebut, kami kemudian melakukan penyelidikan dan 
penyidikan. Hingga akhirnya, oknum guru SD ini berhasil ditangkap tim Buser, 
sewaktu sedang tidur di rumahnya dalam kawasan Padang Aua, Kelurahan 
Parambahan, Kecamatan Payakumbuh Utara," kata Kasat Reskrim Polresta Payakumbuh 
AKP Eridal, kepada Padang Ekspres Minggu (11/5). Didampingi Kanit Buser Aiptu 
Sudiyarko dan Kanit PPA Ipda Yulia, Eridal menyebutkan, tersangka "JSF" yang 
sudah memiliki anak dan cucu, mengaku tidak hanya mencabuli muridnya "FAP", 
tetapi juga mencabuli puluhan murid lain. "Jika ditotal, sejak tahun 2005, 
murid-murid yang dicabulinya itu mencapai 40 orang. Di antara mereka, bahkan 
ada yang sudah tamat SD dan melanjutkan ke sejumlah SMP," jelas Eridal. 
Sedangkan jumlah korban yang sudah melapor sampai berita ini diturunkan adalah 
sekitar 15 orang. Ke-15 siswi SD ini kemudian divisum di  RSUD Adnan WD 
Payakumbuh. 

         "Dari hasil visum dokter, 11 orang sudah dinyatakan rusak 
kemaluannya," jelas Eridal. Sampai berita ini diturukan, Eridal mengaku masih 
melakukan pengembangan kasus. Meskipun demikian, dia memastikan, tindakan 
tersangka "JSF" dapat dijerat dengan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang 
Perlindungan Anak jo Pasal 289 dan 290 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). 

        Lakukan  Evaluasi 

        Di sisi lain, praktisi pendidikan Sevindrajuta menilai, tindakan oknum 
guru agama SD di Kecamatan Payakumbuh Timur, merupakan sebuah petaka di tengah 
gembar-gembor suksenya dunia pendidikan Payakumbuh. "Atas kondisi ini Dinas 
Pendidikan harus mengambil tindakan tegas kepada pelaku. Di samping itu Dinas 
Pendidikan juga meski melakukan evaluasi terhadap guru-guru," kata Sevindrajuta 
yang ikut mengantarkan anak-anak korban pencabulan ke RSUD Adnan WD Payakumbuh, 
untuk diambil visumnya. 

        "Saya Melakukannya Dalam Kelas"

        Awan hitam kini melanda dunia pendidikan Payakumbuh. Seorang guru SD 04 
Sicincin Hilir, Kecamatan Payakumbuh Timur, bernisial "JSF" alias Jun (57), 
terpaksa ditahan polisi karena diduga telah mencabuli 40 murid-muridnya. Apa 
yang membuat sang guru tega melakukan perbuatan tidak senonoh itu?  "Itulah 
pak, saya juga tidak tahu. Yang pasti, sebagai lelaki normal, saya masih punya 
hasrat. Ketika meihat murid perempuan dalam kelas, rasanya saya ingin saja 
untuk memeluk mereka. Apalagi, telah lama saya tidak berhubungan badan dengan 
istri,"aku "JSF" kepada sejumlah wartawan di Mapolresta Payakumbuh, Minggu 
(11/5). Waktu itu, "JSF" yang mengenakkan kemeja lengan panjang berwarna hitam 
putih, baru saja dikeluarkan dari ruang tahanan, untuk kembali diperiksa polisi 
wanita dari Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA). 

        Wajahnya terlihat agak pucat. Tanda-tanda penyesalan juga membuncah 
dada pria kelahiran Bukittinggi, 31 Desember 1952 ini. Meskipun demikian, dia 
tetap lancar untuk menceritakan semua perbuatan tidak senonoh yang dilakukan 
kepada sekitar 40 murid. "Perbuatan itu saya lakukan dalam kelas. Waktunya pas 
saat jam pelajaran berlangsung atau ketika jam pelajaran hendak berakhir," 
tutur "JSF" yang menamatkan Pendidikan Guru Agama Pertama (PGAP) tahun 1968 dan 
Pendidikan Guru Agama Atas (PGAA) tahun 1970 tersebut. Lalu jika memang 
perbuatan tidak senonohnya dilakukan dalam kelas, apakah murid-murid lain tidak 
mengetahui? "JSF" menyebutkan, tidak ada seorangpun murid atau guru yang 
mengetahui tindakannya. Sebab, kepada murid-murid yang menjadi korban, dia 
selalu meminta untuk tidak bilang pada siapa-siapa.

        Kecuali itu, murid-murid yang menjadi korban pencabulan "JSF" biasanya 
selalu dipanggil untuk berdiri di depan kelas atau persis di samping meja guru. 
"Dari sanalah, saya menyuruh mereka untuk membaca buku pelajaran agama. 
Kemudian, secara diam-diam saya masukkan telunjuk kiri ke dalam rok,"aku "JSF" 
yang pernah kuliah di perguruan agama itu. Menyinggung soal pencabulan yang 
dilakukannya terhadap siswi kelas satu SD berinisial "FAP" (7), menurut "JSF" 
dia lakukan pada Kamis (8/5), ketika sedang mengajar dalam kelas. "Itu kali 
terakhir saya melakukannya, setelah itu saya sudah ditangkap," sebutnya. Kini, 
"JSF" hanya bisa pasrah.  "Tidak ada yang bisa saya lakukan, kecuali menyesal," 
ujarnya. Sebelum mengakhiri wawancara, "JSF" sempat meminta maaf  kepada famili 
dan seluruh guru di Payakumbuh. (*) 
       



  2008/5/13 hambociek <[EMAIL PROTECTED]>:


    AMPEK PULUAH URANG ANAK SASIAN? SELURUH KELAS? Jantan, batino,
    diracaknyo? Balulua se barito koyok bantuak ko?

    Salah caliak, atau tagesoh se saketek SAURANG anak gadih di
    kampuang,  lah sampik kupiah tu dek pareman; iko, AMPEK PULUAH
    sakali racak? DI DALAM KELAS? SAMBIA MAAJA MANGAJI?

    Ndak ado koh lai karajo atau banak tukang TV Padang ko untuak
    manyariang ota busuak sabalun dipaserakan sabagai barito sensasi ko?
    Sia nan bejat ko? Mantang-mantang TV tu bacorong, indak basariang
    carito sabalun lapeh udaro kuliliang dunia. Nan iyo-iyo se lah kaji
    baanyo? Nan ka tamakan di aka se lah baritokan baa nyo ...

    Baitu juo dek awak nan mandanga koyok tu, manggeleng-geleng lah
    dahulu sabalun maangguak-angguak baa nyo ...

    --Nyit Sungut




  


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Hindari penggunaan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke