Kalo io ambo pun namuah manyumbangan desain untuak rumah puisi tersebut

----- Original Message ----
From: Madahar (madahar) <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, May 15, 2008 10:35:21 AM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Taufik Ismail Bangun Rumah Puisi


Sanak Nofiardi,
Kalau buliah tau dima kolah rencana rumah du ka ditagaak an dek pak
Taufik nantinyo atau memang rumah du alah ado tingga malanjuik an sen
lai panyalasaiannyo.

Tarimo kasi

Batuduang Ameh (41) di kaki Gunuang Singgalang 

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of Nofiardi
Sent: Thursday, May 15, 2008 10:28 AM
To: [email protected]
Subject: [EMAIL PROTECTED] Taufik Ismail Bangun Rumah Puisi

BUDAYA
Taufik Ismail Bangun Rumah Puisi 

RUMAH PUISI -- Maket rumah puisi yang tengah dibangun penyair Taufik
Ismail. (SK/Ist)

Kamis, 15 Mei 2008
Rumah Puisi gagasan penyair Taufik Ismail akhirnya mulai dibangun
pelan-pelan di kaki Gunung Singgalang dan Merapi, Sumatera Barat. 

Rumah tersebut tumbuh dari pengalaman kolektif Taufik Ismail bersama tim
redaktur majalah sastra Horison dan sahabat-sahabat sastrawan dalam 10
program gerakan membawa sastra ke sekolah yang dilangsungkan sejak 1998
hingga 2008 ini. 

"Melalui program MMAS, yaitu membaca, menulis, dan apresiasi sastra
selama 6 hari di 12 kota, kami sempat membawa tim beranggotakan 113
orang sastrawan dan 11 aktor-aktris masuk ke 213 SMA di Tanah Air. Di
sekolah-sekolah lanjutan atas itu kami memberikan panduan kepada para
siswa tentang apa itu sastra, bagaimana membuat puisi yang baik dan
berfaedah bagi kepentingan orang banyak. Ternyata respons para siswa
sangat luar biasa. Terbukti hingga kini banyak sekali pertanyaan yang
dikirimkan para siswa, agar mereka terus dipandu sehingga bisa memahami
banyak hal tentang sastra," ujar Taufik Ismail ketika berbincang dengan
Suara Karya di Aula Mahkamah Konstitusi, Jalan Merdeka Barat No 7,
Jakarta Pusat, Rabu (14/5) kemarin. 

Di tempat itu pula kemarin digelar acara peluncuran buku Mengakar ke
Bumi Menggapai ke Langit karya Taufik Ismail dan "Pidato Kebudayaan 55
Tahun Taufik Ismail" oleh Anies Basweden yang juga Rektor Universitas
Paramadina. 

Taufik mengaku sangat terharu ketika menyadari semangat remaja di daerah
yang begitu besar untuk mendalami dunia sastra. Bersama sejumlah
sastrawan lainnya, Taufik yang bergelar dokter hewan ini melanjutkan
program MMAS ke daerah-daerah. 

"Nama programnya pun kami ganti menjadi SBSB, yakni Sastrawan Bicara
Siswa Bertanya. Melalui kegiatan itu, kami mendatangi langsung para
siswa di 164 kota dalam 31 provinsi di Tanah Air," ujar Taufik. Hasil
dari program SBSB itu juga luar biasa. Siswa yang diketahui sangat
berbakat dalam menciptakan karya-karya sastra sangat banyak dan mereka
tetap membutuhkan binaan dari kalangan sastrawan. 

"Akhirnya kami menjembatani para siswa itu untuk membentuk
kelompok-kelompok sastra yang jumlahnya mencapai 30 sanggar sastra siswa
di sekolah. Jadi, jangan heranlah kalau kini remaja SMA di Sulawesi
Selatan, Tenggara, Utara, pedalaman Jawa hingga Kalimantan dan Sumatera
pintar-pintar membuat puisi, cerita pendek, esai bahkan main drama.
Mereka juga sudah bisa menafsirkan mana karya yang baik dan mana karya
sastra yang tidak ada apa-apanya," ujar penyair berdarah Minang ini. 

Dan, tahukah Anda apa tujuan akhir dari pembentukan sanggar sastra itu?
Menurut Taufik, tiada lain, hal itu hanya untuk meningkatkan pemahaman
budaya, terutama sekali membaca buku dan kemampuan menulis di kalangan
anak bangsa. 

Agar interaksi antara para sastrawan dan siswa bisa tetap berlanjut,
Taufik pun membangun Rumah Puisi. Lokasi yang diimpikannya adalah di Aie
Angek, sebuah tempat di kaki Gunung Singgalang dan kaki Gunung Merapi di
antara Padang Panjang dan Bukittinggi. Di Rumah Puisi itu nanti Taufik
ingin menempatkan seluruh koleksi buku sastranya. Juga dari rumah puisi
itu pula Taufik ingin meneruskan program MMAS dan SBSB melalui surat dan
internet. Modal awal pembangunan Rumah Puisi adalah perolehan hadiah
sastra Habibie Award 2007 kepada Taufik Ismail sebesar Rp 200 juta. 

Sekarang untuk menyelesaikan pembangunan Rumah Puisi tersebut, Taufik
berharap buku yang baru diluncurkannya, Mengakar ke Bumi Menggapai ke
Langit, ada yang memborongnya. "Terus terang, kalau ada yang memborong,
pasti uangnya bisa dipakai untuk menyelesaikan bangunan Rumah Puisi
itu," ujar Taufik lagi. (Ami Herman)  

Copy Right (c)2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i 






      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Hindari penggunaan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

  • ... Nofiardi
    • ... Madahar (madahar)
      • ... suheimi ksuheimi
      • ... Tasril Moeis
        • ... asfarinal2000
        • ... asfarinal2000
          • ... Tasril Moeis
            • ... asfarinal2000
    • ... asfarinal, asfarinal, asfarinal, asfarinal nanang, nanang, nanang, nanang
    • ... Nofiardi
      • ... Tasril Moeis
      • ... Dewis . Natra
      • ... Adyan

Kirim email ke