Shani Matos, Keturunan Puerto Rico yang Bersyahadat

Posted By M. Syamsi Ali, M.A. On 8 Mei 2008 @ 12:54

dakwatuna.com  -  Sebulan lalu, di HP saya ada yang meninggalkan pesan
meminta  untuk ditelepon balik. Nampak suara perempuan yang lembut dan
sangat  sopan. Sejak awal saya merasa, sepertinya suara perempuan yang
masih  muda.  Pesan  itu berbunyi:  Hi, hello! My name is Shani. I got
your  number from a friend of mine, here in Queens College. I am sorry
to  bother  you  but  I  don t know how to start  can you call me back
pleas, if you have time? My number is . .

Setelah  mendengarkan  pesan  itu,  segera  saya  telepon  kembali. Di
seberang  sana  dia  menjawab dengan pelan:  Thank you, thank you very
much  Sir  for  calling me back , katanya dengan suara yang sepertinya
sangat gembira.

 Hi,  what  is your name again? , tanyaku kembali di telepon.  My name
is Shani, and I am a student here in Queens College , jawabnya.

 What I can do for you? , tanyaku singkat.

Shani  tidak  langsung  menjawab.  Sepertinya  berfikir sesaat sebelum
menjawab  pertanyaan  saya tersebut.  I don t now how to start to tell
you. You know, I am a Catholic. But you know I don t like too much non
sense in the faith , katanya.

Saya  memang  sudah sering mendengarkan ungkapan itu sebelumnya. Maka,
saya  hanya  bilang  ke  Shani,  jika ada waktu apakah dia bisa datang
menemui  saya.   Come  to  Jamaica Muslim Center, do you know where it
is? , kata saya.

 Yes,  my friend lives around that mosque , jawabnya. Rupanya temannya
yang  memberikan  nomor  HP  saya  kepadanya adalah anak salah seorang
jama ah  masjid  Al-Mamoor  atau  lebih  dikenal dengan Jamaica Muslim
Center di Jamaica Queens. Sejak 2005 lalu, saya diminta untuk memimpin
komunitas yang cukup besar dan dinamis ini.

Kami  pun  janjian untuk bertemu dua minggu kemudian. Shani tidak lupa
juga  meminta  alamat email,  just in case I want to ask you something
by  emails ,  katanya.  Saya tentunya tidak keberatan untuk memberikan
email  itu.  Ternyata,  hingga  Shani  kembali menelpon saya sekitar 2
minggu lalu, dia tidak mengirim email.

Diilhami Sepupu

Shani  adalah  gadis kelahiran Amerika keturunan Puerto Rico. Ternyata
dia  memang  masih  tahun  pertama  di  Queens  College  dan berencana
mengambil  business management. Dua minggu lalu Shani menghubungi saya
kembali dan mengingatkan bahwa hari itu adalah hari di mana seharusnya
dia datang untuk menemui saya.

 Hi  Iman! ,  demikian  biasanya  kata   Imam  disebut. Shani kemudian
mengatakan  bahwa dia akan datang, tapi agak terlambat karena temannya
(anak Bangladesh) masih ada kelas hingga jam 5 sore.

 Oh  it  is  fine  for me. I am still in the City , jawabku. Kebetulan
hari  itu adalah hari Jum at dan jadwal khutbah saya di Islamic Center
of  New  York.  Setelah  Jum atan  kami  harus  menerima  banyak tamu,
termasuk  media  untuk mewawancarai mengenai rencana kunjungan Paus ke
kota   New  York.  Setelah  Jum atan,  Islamic  Center  juga  menerima
rombongan   pastor  Yahudi  yang  datang  berziarah,  sebagai  balasan
terhadap kunjungan kami beberapa minggu sebelumnya.

Setelah  shalat  Asr,  segera  saya  tinggal Islamic Center menuju JMC
(Jamaica  Muslim  Center)  di Queens. Perjalanan dengan subway (kereta
bawah   tanah)   memakan  waktu  sekitar  45  menit.  Karena  khawatir
terlambat,  saya  telepon  Shani agar menunggu saya di ruang kantor di
JMC.  Rupanya  Shani  juga  memastikan  diri terlambat karena temannya
mengajak dia ke rumahnya sebelum menemui saya di JMC.

 Take your time then! , kata saya.

Ketika saya keluar dari subway, ternyata Shani sudah menelpon dua kali
menanyakan  apakah  saya  sudah  sampai  di JMC atau belum.  My friend
advised me not to come unless you are there , pesannya di HP. Sesampai
di  JMC segera saya telepon balik ke Shani dan memintanya untuk segera
ke  masjid.  Jam  menunjukkan pukul 6:30 sore, berarti maghrib tinggal
sekitar  45  menit. Pikir saya, mungkin Shani akan banyak bertanya dan
diskusi akan memakan waktu cukup panjang.

Tidak  berselang  lama,  saya dapat telepon lagi dari Shani.  Hi, I am
here,  where  are  you? ,  tanyanya. Saya mengatakan bahwa saya ada di
kantor, tapi rupanya teman Shani itu juga tidak tahu ruangan mana yang
disebut  kantor  JMC.  Rupanya  mereka  berdiri  di  depan pintu masuk
wanita, yang kebetulan memang sepi. Saya keluar dan mengajak mereka ke
kantor.

Shani  memang  nampak  masih  belia.  Umurnya baru sekitar 19 tahunan.
Teman  yang  mengantarkannya  juga  masih  di  tahun pertama di Queens
College.   Welcome  Shani!  I ve heard your name but this is the first
time I see your face , kata saya.

Shani  nampak  malu-malu  berbicara,  atau sedikit gugup. Saya curiga,
jangan-jangan  temannya  itu  mengingatkan  agar  bersopan  santun  di
hadapan  Imam.   Shani,  you  look  familiar  to  me!  Had we ever met
before? ,  tanya  saya  untuk  menjadikan suasana menjadi cair. Tujuan
saya,  biar  Shani  lebih  leluasa berbicara dan menyampaikan apa yang
ingin disampaikan.

 No, I don t think so! , jawab Shani sambil tertawa ringan.

 Ok,  let  us  start! So, you said that you are interested in Islam? ,
saya memulai.

 Yes.  In fact for the last a few months I have studied it seriously ,
katanya singkat.

 So, what did you find? Any interesting thing? , tanyaku.

 I  think  the  most  amazing  about Islam is clarity. I found in this
religion  that every thing is clear. In general I may say, this is the
religion that makes sense , tegasnya.

Saya kemudian mencoba mencari tahu, apa yang menjadikan Shani tertarik
dengan  agama  ini.   How did you come to know about Islam? I mean how
did you start learning it and why , tanyaku.

Shani   kemudian  berbicara  cukup  panjang  tentang  kelurganya  yang
beragama  Katolik  taat. Ibunya khususnya sangat taat ke gereja setiap
minggu dan mengajak Shani dan saudara-saudaranya yang lain.  But to be
honest, I did it just because out of the respect my mother , katanya.

Shani  melanjutkan  bahwa sejak bulan-bulan terakhir dia semakin tidak
yakin  dengan  agama  Katoliknya.  Dan  itu  terpacu lagi ketika salah
saorang  sepupunya  memeluk  agama  Mormon.   My  cousin  right now is
following Mormon religion , katanya.

Setelah  saya  mendengarkan semua itu, saya memulai mengambil kendali.
Saya   kembali  menjelaskan  semua  dasar-dasar  ajaran  Islam  dengan
pendekatan  rasional  berdasarkan  ayat-ayat Al Qur an. Shani misalnya
tertawa  ketika  saya  mengatakan,  kalau  seandainya ada dua presiden
sehebat  Bush,  pastilah  dunia  hancur-hancuran. Untunglah hanya satu
Bush  di  dunia,  maka  dunia  masih  relative aman. Tapi saya susuli,
sedangkan satu dunia sudah menjadi begini, bagaimana kalau ada dua?

Tanpa  terasa adzan Magrib sudah hampir dikumandangkan. Pada akhirnya,
saya hanya bertanya kepadanya:  So .what is your mind now? .

Saya  terkejut  ketika  Shani langsung mengatakan:  Since I called you
two weeks ago, I wanted to be Muslim. But don t know! .

 Are  you  sure? , tanya saya.  Yes! The only thing that worries me is
my mother , lanjutnya.

Saya  berusaha  menjelaskan  kepadanya  bahwa  jika  kelak dia menjadi
Muslimah,  dia  akan  menjadikan  ibunya  lebih senang karena dia akan
menjadi anak yang lebih baik lagi.  Probably in the beginning it s not
really  easy  to  accept  the  reality. But slowly she will understand
you , kata saya.

Shani  berbalik  ke  temannya  dan dengan tersenyum dia berkata:  So I
will be Muslim today? . Temannya yang pemalu itu hanya menjawab dengan
senyum.

Segera  saya  memanggil  beberapa  saksi  sebelum azan dikumandangkan.
Setelah  hadir  2  saksi,  saya  menuntun  Shani  mengikrarkan kalimah
Tauhid:

 Laa  ilaaha  illa  Allah-Muhammadan  Rasul  Allah ,  bersamaan dengan
panggilan adzan.

Shani segera diajak oleh temannya untuk mengambil wudhu, dan melakukan
shalatnya sebagai Muslim untuk pertama kalinya.

Semoga Shani dikuatkan dan selalu dijaga dalan hidayaNya!

New York, 16 April 2008




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Hindari penggunaan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke