The Spirit of Sawahlunto        
Jumat, 16 Mei 2008      

Oleh : Joserizal, Praktisi Pemerintahan tinggal di Pariaman

Hari ini, tentu tak ada yang menyangka kalau ternyata Kota Sawahlunto tetap 
eksis pascaera defisitnya tambang terbuka. Semenjak menurunnya produksi tambang 
batu bara mulai tahun 2002,  dan dilanjutkan dengan kebijakan mem-pesiun 
dini-kan sejumlah karyawan oleh beberapa perusahaan penambangan batubara yang 
beraktivitas di Sawahlunto, sehingga hal ini berdampak pada eksodus sejumlah 
penduduk mencari penghasilan lain keluar dari Sawahlunto.



Mengutip pendapat filsuf ternama Prancis Jean Jacques Rousseau, bahwa salah 
satu ciri pemerintahan yang paling buruk adalah yang masyarakatnya menyusut dan 
berkurang. Dan hal itulah yang terjadi di Sawahlunto pada tahun 2002-2003. Efek 
domino ini juga terus berentetan hingga mengakibatkan lesunya perekonomian 
pasar waktu itu. Kegiatan jual-beli menurun dan aktivitas kehidupan masyarakat 
juga kurang bergairah. 

Banyak kalangan ketika itu mengkhawatirkan bahwa Sawahlunto akan menjadi kota 
hantu bila keadaaan seperti ini akan terus berlanjut. Namun secara perlahan, 
seluruh anggapan tersebut di tepis satu persatu oleh Pemerintah Kota Sawahlunto 
bersama dukungan seluruh komponen masyarakat dengan melakukan eksistensi dan 
kerja nyata layaknya sebuah kota yang akan merebut kembali kejayaan masa 
lampau. 

Masa Emas dan Kejayaan Sawahlunto 

Diantara seluruh kabupaten dan kota yang ada di Propinsi Sumatera Barat, Kota 
Sawahlunto dapat dikatakan memiliki specific history yang membuat Sawahlunto 
menjadi sebuah kota yang tampil beda. Kalau daerah lainnya muncul karena 
berkembangnya penduduk asli minangkabau, namun Kota Sawahlunto berkembang 
karena adanya usaha pertambangan 'permata hitam' pada zaman penjajahan belanda. 

Itulah sebabnya kita tidak dapat menemukan rumah gadang di pusat kota lama 
Sawahlunto, yang ada justru beberapa bangunan megah dan kuno peninggalan 
Belanda. 

Awal Kejayaan Sawahlunto dimulai pada tahun 1858, ketika Ir.De Groet menemukan 
Batubara di tepian Sungai Ombilin yang selanjutnya diteliti oleh Ir. De Greve 
dan Kalshoven di tahun 1867, dan penyelidikan yang lebih seksama dikerjakan 
oleh Ir. R.D.M. Verbeck di tahun 1875 dengan ditetapkannya kandungan batubara 
sejumlah 200 ton. 

Sebelas tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 27 Juli 1886 dibuatkanlah 
Notarine Acte pertama oleh E.L Van Rauvery asisten residen Tanah Datar selaku 
notaries, antara Hendrik YacobusPilter Schuuring (pemegang Consessi) dengan 
Kepala Laras  Silungkang Djaar St pamuncak (mewakili rakyat) untuk melakukan 
penambangan batubara. Sejak saat itu, kawasan tersebut mulai ramai didatangi 
untuk mempersiapkan penambangan batubara. Keadaaan ini merupakan momentum awal 
bagi berdirinya Kota Sawahlunto. 

Setahun kemudian (1887), Sawahlunto mulai menjadi tempat pemukiman bagi para 
pekerja tambang yang diimpor dari pulau Jawa. Berbagai fasilitas seperti 
bangunan serta peralatan penambangan batubara dibangun oleh Pemerintah Belanda. 
Investasi sejumlah  5,5 juta goldenpun ditanamkan oleh Pemerintah Belanda demi 
melengkapi kebutuhan tersebut. Belanda  juga merencanakan pembangunan pelabuhan 
teluk bayur (Emma Heaven) yang mulai dikerjakan tahun 1888 dan selesai tahun 
1893. Selain itu, sebagai salah satu syarat untuk  mendapatkan konsesi 
pertambangan batu bara  maka dilakukanlah pengerjaan rel kereta api dari Teluk 
Bayur-Padang Panjang-Sawahlunto yang dimulai tahun 1888 dan selesai tahun 1893 
oleh Ir J.V Y. Zerman. (Sawahlunto Dulu Kini dan Esok, 2005;15) 

Titik tolak bersejarah diakuinya keberadaan Sawahlunto dalam sistem 
administrasi Pemerintah Hindia Belanda terjadi pada tanggal 1 Desember 1888. 
Saat itu, Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan keputusan tentang batas-batas 
ibukota Afdeling (pemerintahan admnistratif) yang ada di Sumatera Barat.  
Moment ini selanjutnya ditetapkan sebagai dasar hari jadi Kota Sawahlunto 
melalui perda Nomor 9 tahun 2004 tentang Penetapan Hari Jadi Kota Sawahlunto 
yakni tanggal 1 Desember . 

Setelah pembangunan jalur kereta api Sawahlunto-Padang selesai, maka pada tahun 
1894 produksi batubara meningkat dari puluhan ribu ton menjadi ratusan  ribu 
ton sampai mencapai keuntungan sebesar 4,6 juta golden. Di tahun 1918 
Sawahlunto dikategorikan sebagai Gemeentelijk Resort atau gemente berdasarkan 
Statsblad van Nederlansch dengan mendirikan satu dewan yang disebut Dewan 
Gemeente Sawahlunto. 

Masa puncak kejayaan Sawahlunto terjadi + pada tahun 1930. Periode ini 
merupakan masa keemasan bagi Sawahlunto di tingkat Sumatera Barat bahkan 
menjadi daerah yang layak diperhitungkan dalam skala nasional. Hal ini tidak 
mengherankan bila dilihat dari jumlah penduduk yang mencapai 43.576 jiwa dengan 
564 jiwa adalah orang Belanda/Eropa sedangkan Sawahlunto saat itu hanya seluas 
779,6 Ha dapat dibayangkan betapa ramainya Sawahlunto kala itu. 

Berbagai fasilitas layanan masyarakat serta pusat-pusat hiburan juga telah 
dibangun pada masa itu. Mulai dari kompleks Rumah Sakit, PLTU Sijantang, Kolam 
Renang Air Dingin, Penginapan, Gudang Ransom, lapangan bola kaki, bioskop, 
kantor pemerintahan dan rumah dinas, sekolah tambang hingga Gedung Pertemuan 
Masyarakat (GPM) didirikan guna memenuhi kebutuhan Pemerintahan Belanda  dalam 
menunjang aktivitas penambangan. 

Berkembang Sebelum Layu 

Sebagaimana diketahui, batubara merupakan Sumber Daya Alam yang tak dapat 
diperbaharui dan tentunya lambat laun akan habis. Dengan terjadinya penurunan 
aktivitas produksi penambangan pada tahun 2002. Maka Pemerintah Kota Sawahlunto 
mulai beralih kepada sektor pariwisata, pertanian dan perkebunan melalui usaha 
ekonomi kerakyatan serta tanpa melupakan sektor pendidikan, kesehatan, 
pertambangan dan pembangunan. 

Sektor-sektor itulah yang menjadi ujung tombak pemerintahan Amran Nur- Fauzi 
Hasan sebagai Walikota dan Wakil Walikota Sawahlunto 2003-2008. Mimpi-mimpi 
akan kejayaan Sawahlunto yang mulai sirna, secara nyata mulai diaplikasikan 
secara bertahap. 
S 

ingkat cerita, siapapun yang mengetahui keadaan Sawahlunto sebelum tahun 2003 
lalu membandingkannya dengan saat ini, tentu akan berdecak kagum sekaligus 
tercengang. Sebut saja objek wisata Waterbom dan Outbond, yang dulunya hanya 
sebuah kolam renang peninggalan Belanda yang tampak tak terurus. Lubang Suro, 
sebuah lubang berbilik-bilik bekas aktivitas pekerja tambang yang sekarang 
sudah disulap menjadi objek wisata seperti lubang kalam-nya Bukittinggi. Lalu 
Lapangan Pacuan Kuda taraf internasional dan Kebun Binatang Kandih yang  
sebelumnya hanya hamparan tanah gersang timbunan sisa produksi batubara. Belum 
lagi berbagai macam kegiatan konservasi kota lama yang mengembalikan raut wajah 
unik, etnik, dan antik dari Kota Sawahlunto.


Terobosan dan keberanian yang telah dilakukan Sawahlunto memang patut diacungi 
jempol. Namun tidak perlu serta merta disikapi dengan meniru atau turut latah 
membuat kebijakan pembangunan yang serupa, karena  setiap daerah memiliki ciri 
khas, kebutuhan dan potensi unggulannya masing-masing yang sudah pasti akan 
berbeda antardaerah satu dengan lainnya. 

Justru yang patut kita tiru dari Sawahlunto adalah semangatnya untuk berani 
mencoba, berani berinovasi dan yang terutama Sawahlunto berani mewujudkan 
mimpi-mimpinya. (***) 

  
© 2008 PADANG EKSPRES - Koran Nasional Dari Sumbar 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Hindari penggunaan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke