Comment:
Ciptakan dulu kelompok kaum muda di negara ini yang tak hanya berpuas
diri dengan gonta-ganti mengkonsumsi HP merek terbaru, meracak honda bebek
terbaru atau (bagi kalangan yg berduit) gonta ganti beli mobil terbaru.
Ciptakan kaum muda yang suka 'bertualang' dalam fisik dan pikiran untuk
mengenal seluruh wilayah negaranyanya.
Kaum muda yang pengen menduduki kekuasaan di negara ini yang bergaya hidup
hedonis dijamin tak akan membuat negara ini lebih baik nantinya. Alih-alih dia
hanya akan menjadi objek tertawaan roh Che Guevara.
Selamat berjuang Kaoem Moeda Indonesia!
=====================
Home / Opini /
Kaum Muda dan Kebangkitan Bangsa
Kompas, Sabtu, 17 Mei 2008 | 00:33 WIB
Oleh Indra Jaya Piliang
Harga bahan bakar minyak dipastikan akan naik. Tingkat kenaikan itu bisa
mencapai 30 persen. Pertaruhannya sekarang terletak pada seberapa kuat
pemerintah berhadapan dengan seberapa masif gerakan antipemerintah. Karena
pemerintahan jauh lebih kuat daripada rakyatnya, jawaban atas pertaruhan itu
sudah selesai. Pemerintah akan terus-menerus menang, lalu rakyat hadir sebagai
pecundang.
Padahal, tahun ini adalah 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Sebuah bangsa yang
hanya menjadi nomor tiga di negara sendiri, setelah bangsa Eropa dan Timur
Asing telah bangkit dari keterbelakangannya lewat perjuangan dengan
memanfaatkan celah-celah kebaikan dari kolonialisme sendiri: jalur pendidikan..
Kita boleh saja mengatakan kemerdekaan diproklamirkan oleh Soekarno pada 17
Agustus 1945. Sebuah proklamasi bukan berarti sebuah kelahiran. Ada banyak
tali-temali dalam sejarah. Pengaruh-memengaruhi, saling- silang kepentingan,
serta terlebih lagi ide-ide yang terus sambung- menyambung. Atas dasar itu,
kelahiran Indonesia sudah diberikan oleh napas perlawanan atas ketertindasan.
Kedatangan bangsa-bangsa kolonial hanya bagian dari percepatan untuk menemukan
kesejatian tujuan, yaitu kesetaraan martabat manusia.
Kaum muda adalah pengambil sikap utama. Mereka ditakdirkan lahir sebagai
kekuatan oposisi. Tanpa harus paham dengan keunggulan bangsa-bangsa lain, kaum
muda ini mengimajinasikan zaman baru yang ingin bebas dari penindasan.
Kapitalisme global
Kita melompat ke masa kini ketika konsumtivisme menjadi tilik sandi bagi
beroperasinya kapitalisme global. Atas nama konsumtivisme itu, lahir mentalitas
instan dengan gaya hidup yang melebihi penghasilan. Ketika demokrasi
memantapkan tiang- tiang pancangnya, kekuasaan menjadi tujuan dan setelah itu
tidak ada lagi.
Itu yang kita lihat sekarang ketika kekuasaan yang hanya menggunakan kalkulasi
berdasarkan matematika untung-rugi. Kekuasaan yang terlalu yakin dengan
kesimpulan-kesimpulannya, lalu membiarkan masyarakat saling memusuhi atas nama
agama. Kekuasaan yang tidak mau berhemat dan asketis, apalagi bekerja-keras
untuk menggerakkan bangsa ini mengejar sebuah tujuan bersama. Kekuasaan yang
tidak mau dan tidak mampu menjadi pelayan bagi rakyatnya.
Sepuluh tahun Reformasi sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa tidak banyak
keberhasilan yang dicapai. Penderitaan dan pengorbanan rakyat untuk meneruskan
zaman baru ini kenyataannya dibalas dengan penderitaan baru. Apa gunanya banyak
diskusi ilmiah di Istana Negara, penyusunan naskah akademis di kantor-kantor
pemerintah, serta berbusa-busa dalam perdebatan di Senayan kalau pada akhirnya
penyelesaian atas masalah lama dilakukan dengan menggunakan cara lama pula?
Menaikkan harga BBM sungguh semudah perhitungan 1 tambah 1 sama dengan 2. Kita
dipaksa percaya bahwa subsidi untuk orang-orang kaya yang punya kendaraan jauh
lebih banyak daripada subsidi untuk kaum tani dan nelayan. Namun, dalam 10
tahun, kita tak pernah ditunjukkan satu petani dan nelayan miskin pun yang
tiba-tiba menjadi kaya karena program pemerintah. Harga pangan global melejit
naik, sementara harga dasar gabah hanya boleh naik 10 persen.
Yang kita dengar hanya parade kepikunan. Kepikunan yang bukan penyakit ketika
alam dan waktu menunjukkan keperkasaannya. Namun, yang pikun di sini terdiri
atas kalangan pemimpin. Mereka yang dipilih atas dasar kepercayaan, mitologi,
dan harapan rakyat.
Seratus tahun kebangkitan dan 10 tahun Reformasi hanya menghasilkan kata-kata
yang bersiponggang. Pemimpin-pemimpin yang berganti-ganti. Sementara ketika
bangsa mulai perlahan tenggelam, lalu rakyat terlebih dahulu karam dalam
kubangan penderitaan, tidak lagi menjadi sumber keresahan.
Lalu, di mana kaum muda? Sebagian terjerumus dalam magnet kekuasaan. Mereka
yang secara cepat menyepelekan amanat penderitaan rakyat. Kaum muda yang tidak
lagi gelisah, tetapi sudah menjadi bagian dari kemapanan kekuasaan itu sendiri.
Mereka yang berdiri tegap, menghormat kepada para pemimpin masing-masing, kalau
perlu menjadi pagar hidup menghadapi rakyat yang gelisah.
Masihkah kita berharap pada kebangkitan bangsa? Atau inikah awal bagi
kebangkrutan bangsa?
Indra Jaya Piliang Analis Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Jakarta
Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang
juga.
http://id.toolbar.yahoo.com/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Hindari penggunaan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---