Minggu, 18 Mei 2008 ( 
Padangekspres )

                        Dua abad nan lewat, ketika nusantara masih terjajah, 
rakyat Jawa dan Sumatera, dipaksa Belanda membangun jalur kereta api dari 
pelabuhan Teluk Bayur ke Kota tambang Sawahlunto. Otot mereka diperas, keringat 
mereka dikuras. Lalu, supaya tidak lari dari tugas, kaki mereka diikat dengan 
besi oleh opsir-opsir yang maha beringas. Ikatan itulah yang kemudian membuat 
mereka berjuluk "orang rantai".
 
    Kini, setelah musim berganti, cuaca bertukar, dan udara kemerdekaan dihirup 
bersama. Ternyata, masih ada rakyat Indonesia yang hidup dengan kaki dirantai. 
Setidaknya itu dialami Roslena, janda delapan puluh tahun, asal Nagari Gurun, 
Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. 
  Walau Roslena tidak disuruh bekerja paksa dari Emma Haven (sebutan lain untuk 
Teluk Bayur) atau menambang batu bara di terowongan gelap. Namun, tetap saja 
kebebasannya telah dikungkung. Apalagi rantai yang melilit kaki kanannya, juga 
diikatkan pada sebuah tonggak rumah. Sehingga dia tidak bisa ke mana-mana. 
  "Bahkan, kalau tidak bisa ditahan lagi, saya langsung pipis di sini. Habis, 
mau apalagi? Rantai yang mengikat kaki ini juga dikunci," ucap Roslena pada 
sepotong senja nan lengang. 
  Roslena mulai menjalani hidup dengan kaki dirantai sejak beberapa tahun 
terakhir. Rantai itu bukan dipasang karena Roslena sedang mengidap kelainan 
jiwa, sebagaimana kebiasan masyarakat yang suka memasung atau merantai orang 
gila. Namun terpaksa dilakukan anak semata wayangnya  Asni alias Udin (45), 
karena susahnya hidup. 
  Ya, lantaran terus-terusan hidup dalam kubangan kemiskinan. Udin terpaksa 
mengikat Roslena dengan rantai besi yang biasa digunakan untuk hewan 
peliharaan, dan membiarkan ibunya itu tinggal dalam sepetak rumah kayu tidak 
layak huni. 
  "Saya terpaksa mengikat ibu, karena kalau tidak diikat, beliau suka keluar 
rumah dan meninggalkan kampung. Sementara saya tidak bisa mengurus, karena juga 
harus mencari nafkah untuk beliau dan anak-anak," ujar Udin kepada Padang 
Ekspres, Selasa (13/5). 
  Udin mengaku, sebenarnya juga tidak tega harus merantai ibu yang telah 
membesarkan dengan penuh kasih sayang. "Namun apalah daya, kalau saya tetap 
menjaga beliau di rumah, kami juga tidak bisa makan. Karena hanya sayalah 
tulang punggung satu-satunya keluarga ini," ucap  Udin yang bekerja sebagai 
buruh tani dengan upah Rp 20 Ribu sampai Rp 25 Ribu perhari. 
  Udin juga pernah berfikir, untuk menitipkan Roslena pada keluarga atau 
tetangga. Namun mereka tiap hari juga harus mencari nafkah. "Mana mungkin bisa 
menunggu ibu saya saja? Makanya, saya terpaksa mengikat ibu," kata Udin. 
  Memiriskan memang, apa yang dilakukan udin terhadap ibunya Roslena. Namun 
sekali lagi, Udin sungguh tidak bermaksud durhaka. Apalagi ingin menandingi 
Malin Kundang, legenda anak Minang yang dikutuk jadi batu karena melawan pada 
sang ibu. Hanya saja, hidup terlalu kejam untuk kaum kusam seperti dirinya. 
  Pernah Udin memendam cita-cita, membahagiakan ibu dan anak istrinya, dengan 
cara merantau ke berbagai daerah di Indonesia. Tapi bagaikan menggantang asap 
dan mengukir langit, usaha Udin sia-sia. Perantauan berbelas tahun, justru 
dilaluinya dengan tumpahan air mata. 
  "Berbelas tahun saya merantau, namun kesuksesan seperti tidak bisa didapat. 
Setelah pulang kampung, saya dapati hidup makin susah. Ibu makin tua dan pikun, 
tidak ada yang mengurus. Saya camkan untuk menjaga beliu. Tapi akhirnya, karena 
desakan hidup saya pun terpaksa merantai ibu. Saya tidak punya cara lain," ucap 
Udin sambil menghembuskan asap rokok. 
   Dulu Orang Berada 
  Kembali pada kisah Roslena, ibu kandung Udin yang terpaksa diikat dengan 
rantai besi. Sebenarnya, dia dulu termasuk perempuan berada atau terpandang di 
Nagari Gurun. Harta pusakanya banyak. Tanah ulayatnya luas. Sawah dan kolam dia 
juga punya.  
  Namun semenjak ditinggal mati suami tercinta, ekonomi Roslena mulai 
morat-marit. Sawahnya yang membentang luas, terjual sepetak demi sepetak. Tanah 
dan kebunnya yang banyak juga sudah tergadai. Mula-mula sebidang, kemudian dua 
bidang. Lalu gadai diperdalam, ketika tidak bisa ditebus, langsung dijual 
habis. Hingga akhirnya, Roslena jatuh-tapai. Dia terpaksa menjalani kehidupan 
seperti mayoritas warga Nagari Gurun yang dijerat kemiskinan dan terabaikan 
sumber daya manusia-nya. 
  Walau begitu, Roslena tetap berlapang dada. Dia yakin betul, bahwa hidup 
tanpa berjuang adalah kematian dan mati dalam berjuang justru sebuah kehidupan. 
Karenanya, Roslena terus tegar sambil memperbanyak ibadah kepada Sang Khalik. 
  Apalagi usianya sudah diambang senja. Jika Nabi Muhammad saja yang menjadi 
panutannya siang dan malam, cuma dikarunai Tuhan usia sampai 63 tahun. Maka, 
adalah keberuntungan bagi Roslena bisa melihat dunia hingga usia 80 Tahun. 
  Karena itu pula Roslena makin mempedekat hubungan dengan Sang Pencipta. Cuma 
saja, sejak setahun terakhir, dia mulai jarang mengerjakan shalat lima waktu 
sehari semalam sebagai kewajiban tiap muslim.  
  "Bagaimana mau shalat nak, kaki saya dirantai. Tidak bisa mengambil wudhu. 
Makanya, tolong lepaskan rantai saya," kata Roslena kepada Padang Ekspres. 
  Roslena mengaku, pernah juga mengerjakan Shalat tanpa mengambil air Wudhu. 
"Saya coba shalat dengan bertayamum saja. Namun ketika tubuh saya punya hadas 
besar dan perlu mandi. Tentu saya tidak bisa mengerjakan lagi, karena saya juga 
harus mandi," ucapnya pula.  
  Sejauh ini belum ada upaya nyata dari pemerintah daerah ataupun pihak terkait 
untuk membantu  Roslena. Padahal, perempuan itu ingin sekali menjalani hidup 
normal. Hidup tanpa rantai yang mengikat kaki kanannya. 
   Ironi di Kabupaten Kaya. 
  Kisah Roslena sendiri adalah sebuah ironi di kabupaten kaya. Ironi itu muncul 
bagaikan air bah yang tumpah. Sebelumnya, Yayasan Pedati Emas yang bergerak di 
bidang sosial kemasyarakatan, mencatat, ada puluhan  warga kabupaten Limapuluh 
Kota dipasung dan dirantai.
 
  "Nasib mereka juga sama dengan Roslena, tak bisa bergerak ke mana-mana, 
kecuali di rumah saja. Baru pada tahun 2007 kemarin, sebanyak 25 orang diantara 
mereka kami bebaskan dari belenggu tersebut," kata Presedium Yayasan Pedati 
Emas Ferizal Ridwan, secara terpisah. Ferizal menilai, persoalan warga dirantai 
dan dipasung di Kabupaten Limapuluh Kota. Sebenarnya adalah persolan hilangnya 
kepedulian pemerintah dan masyarakat terhadap masalah-masalah sosial. 
  "Persoalan ini benar-benar ironis sekali. Padahal, Kabupaten Limapuluh Kota 
kaya potensi. Salah satunya adalah daerah penghasil gambir terbesar di 
Indonesia," kata Ferizal Ridwan. 
  Sedangkan Bupati Limapuluh Kota Amri Darwis, mengaku, telah berupaya untuk 
memecahkan masalah-masalah sosial di wilayahnya, termasuk masalah yang menimpa 
Roslena.  
  "Saya juga meminta para Camat atau Wali Nagari untuk segera memberi laporan. 
Sehingga serajut problema sosial bisa dicarikan solusinya," kata Amri Darwis. 
  Namun upaya Pemkab Limapuluh Kota tersebut, nampaknya masih jauh panggang 
dari api. Karena di atas fakta, jumlah orang miskin dan penyandang masalah 
sosial justru semakin banyak. Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS)  mencatat, 
pada tahun 1006 terdapat 20.952 rumah tangga miskin yang hidup di kabupaten 
ini. 
  Rumah tangga miskin tersebut, rata-rata nasibnya sama dengan Roslena. Menjadi 
 "orang rantai" di zaman merdeka. Tidak berdaya, tidak bisa berbuat apa-apa. 
Akhirnya, benar juga kata pujangga Shakespeare, "manusia hanyalah sebuah 
bayangan dan hidup hanya sebuah mimpi". (Fajar r vesky) 
                 

       
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Hindari penggunaan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke