Tambah deras turun air mata ayah Saiful mendengarkan perkataan itu, jika Bumi belum menotok lehernya mungkin suara menangis menggerung-gerungnya kedengaran kencang sekali. Dia kesal sekali karena dia sudah membayangkan bakalan ditinggalkan isterinya jika dia tidak membawa pulang uang, sama sekali dia tidak memikirkan anaknya apakah anak itu bisa sembuh atau tidak, ke mana anak itu akan dibawa. Yang ada di benaknya sekarang bagaimana supaya menahan isterinya tidak pergi meninggalkannya dan bagaimana agar wali Bumi mau membebaskan dia dari hukuman yang menyiksa ini. "Sekarang kamu dengarkan baik-baik apa yang hendak ambo (saya) sampaikan, sebagai seorang laki-laki kamu sudah gagal total, apalagi menjadi orang tua kamu sudah tidak berhak menyebut diri seorang ayah bagi anak kamu. Aku tidak mau banyak ngomong pada orang rendah macam kamu, jadi singkat kata aku ingin begitu aku bebaskan kamu dari siksaan ini kamu beserta isteri kamu harus pergi meninggalkan nagari ini secepatnya, dan jangan kembali lagi, jika kamu ketahuan kembali kesini lagi aku tidak akan segan-segan menghukum kalian berdua dengan tuduhan menganiaya anak kecil. Dan aku rasa tidak ada orang yang akan membela manusia seperti kamu ini, bahkan oleh kerajaan kamu bisa dimasukan ke dalam penjara,"tegas Bumi. "Kamu mengerti yang aku katakan!" kata Bumi dengan keras kepada ayah Saiful. Pria itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti, dia ingin secepat mungkin dilepaskan dari siksaan tidak enak ini, dia mulai merasa mulutnya tambah lama tambah kram dan tulang pipinya terasa berderak-derak seperti hendak patah. Dia berjanji dalam hati untuk pergi selamanya dari nagari yang menyebalkan ini untuk selamanya, begitu banyak penderitaan yang dialami selama tinggal di sini, tidak pernah dia merasakan kebahagiaan kecuali saat dia berhasil mempersunting isterinya. Jadi tidak menjadi soal kalo dia harus meninggalkan nagari ini dengan secepatnya. Melihat itu segera Bumi menggerakan tangannya ke leher dan kedua tangan ayah Saiful untuk dibebaskan dari totokan. Sesaat ayah Saiful merasakan kesakitan seperti digigit beribu semut di kedua lengannya, sedangkan mulutnya dengan susah payah akhirnya dia bisa menutupnya. Dia memandang dengan dendam ke arah sekelilingnya, mereka yang telah berani mentertawakan dirinya, dia tidak berani memperlihatkan kemarahannya kepada wali Bumi karena takut dihukum lagi, tapi hatinya penuh dengan bara dendam dan kemarahan akibat perlakuan wali itu padanya. Dalam hati dia berjanji jika Tuhan memberikan kesempatan padanya, maka dia akan mencari cara untuk membalas dendam kepada wali Bumi dan teman-temannya serta penduduk Batang Kapeh karena sudah berani mengusir dan menghinanya. "Cepat pergi dari sini, sebelum kesabaranku menghilang!"kata wali Bumi. Bergegas ayah Saiful meninggalkan tempat itu, dia berlari-lari pulang ke rumah sambil dalam hati mengarang kebohongan pada isterinya. Tapi sesampainya di rumah, dia tidak menemukan isterinya bahkan semua barang yang berharga di rumah juga raib bersama kepergian isterinya yang entah ke mana. Berteriak-teriak dia memanggil nama isterinya tapi rumah itu tetap lengang sunyi saja. Berlari-lari dia ke luar rumah untuk mencari ke mana sang isteri pergi, sambil bertanya-tanya dengan tetangga yang melintas ke rumahnya, tapi tidak satu juga yang melihat isterinya. Sampai sore dia sibuk mencari-cari isterinya tetap tidak ditemukannya, dengan tubuh lunglai dan hati yang panas penuh dengan kemarahan dan kebencian dia menyalahkan semua penduduk nagari ini terutama wali Bumi serta temanya, Basri. Jika Basri tidak menjanjikan uang emas untuknya tidak bakalan isterinya akan meninggalkannya begitu saja, dan jika wali Bumi tidak menyiksa dia seperti tadi mungkin dia masih keburu menahan kepergian isterinya. Sungguh benar-benar pikiran orang picik dan egois sekali, dia tidak sadar akan keadaan diri sendiri tetapi selalu mempersalahkan keadaan dan orang yang ada di sekitarnya. Orang seperti ini sangatlah berbahaya sekali kalau sampai kita pernah berbenturan dengan dirinya, karena semua kesakitan jiwa yang diterimanya ingin dia lampiaskan kepada orang lain. Dengan penuh kemarahan dan api dendam yang menggelegak di dadanya dia pergi meninggalkan nagari Batang Kapeh, dia berjanji suatu saat nanti dia akan membalas semua perbuatan yang dia terima hari ini. Di kemudian hari ayah Saiful ini akan menjadi musuh yang mengancam ketentraman di nagari Batang Kapeh dan keselamatan Bumi serta teman-temannya terutama keluarga Basri Surian. Kita tinggalkan ayah Saiful yang membawa dirinya ke arah dunia kegelapan, mari ikuti perjalanan Saiful dan Basri.
Dengan memacu kuda untuk berlari cepat, Basri mengharapkan bisa sampai di rumah lebih cepat dari biasanya.Dia merencanakan untuk tidak beristirahat lama-lama karena kuatir keadaan Saiful, dia merasa lebih tenang kalau sudah sampai di rumah, oleh karena itu mereka berjalan terus siang malam. Dia membawa uang yang cukup untuk memenuhi keinginannya itu, dia ingin segera memperkenalkan bocah yang malang ini pada isterinya dan berharap isterinya akan menyukainya seperti dia mulai menyayangi Saiful. Sampailah mereka di sebuah nagari yang terlihat ramai sekali walaupun hari sudah malam, terlihat keramaian orang-orang berlalu lalang dan rumah makan yang masih ramai dikunjungi orang. Melihat hal itu Basri mengambil keputusan untuk mengganti kudanya yang sudah kelelahan dengan kuda baru dan segar yang pasti dimiliki oleh penjual kuda di nagari yang terlihat cukup makmur ini. Segera dia memerintahkan kusir kudanya untuk mengantarnya ke rumah penginapan yang terlihat besar di nagari ini, yang di bawah penginapan itu ada rumah makannya. Lalu dia menyuruh kusirnya untuk ke tukang kuda agar bisa mengganti kuda mereka yang sudah kelelahan itu, dia memberikan uang yang cukup lumayan besar. Basri memang bukan seorang majikan yang pelit, tapi bukan berarti dia juga seorang majikan yang sangat royal. Dia sudah memperhitungkan berapa kira-kira biaya tukar tambah 4 ekor kuda dan biaya makan dari kusir dan keneknya yang berjumlah 5 orang itu. Jadi uang yang diberikan tidak akan berlebih banyak setelah dikurangi biaya-biaya tersebut dan dia anggap uang saku mereka jika mereka ingin membeli barang keperluan lainnya. Sambil menunggu kusir kuda kembali, dia menyewa sebuah kamar untuk meletakan Saiful di tempat tidur. Dia juga meminta makanan diantarkan ke kamar saja, setelah selesai dia makan, dia merogoh sakunya untuk mengeluarkan sebuah kantung yang setelah dibuka tercium bau wangi yang segar sekali. Dia memasukan tangannya ke dalam kantung dan mengeluarkan sebuah buah kecil yang berwarna kuning bening dan berbentuk seperti terompet, dipandanginya buah itu di telapak tangan kirinya. Lalu dia berjalan ke arah Saiful setelah menarik serutan pada kantung itu dia menaruhnya lagi ke sakunya. Sambil membuka mulut Saiful, dia meremas buah itu sampai mengeluarkan air yang pekat kekuning-kuningan dimasukan ke mulut Saiful, lalu diurutnya leher Saiful agar anak itu bisa menelan air dan ampas buah itu. Bersambung. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Hindari penggunaan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
