Dari SUARA PEMBARUAN DAILY 19 Mei 2008 kita baca tulisan penting di bawah ini.
Saya kopi tulisan Pak Sabam Siagian ini seluruhnya tanpa izin, dengan berterima
kasih kepada beliau dan Suara Pembaruan dengan menjunjung tinggi Hak Cipta
(Copyrightnya) demi untuk pengetahuan Pembaca kami di Rantauanet. Tulisan Pak
Sabam Siagian ini merupakan catatan primier perjalanan pribadi dan analisa
sejarah perjuangan, sangat perlu sekali menjadi perbendaharaan pengetahuan
pembaca kami yang tergabung di Rantaunet.
Salam,
-- Sjamsir Sjarif
Santa Cruz, California, USA
________________________________
CATATAN BANDANERIA
Hatta dan Sjahrir Pernah Diasingkan di Sini
Sabam Siagian
da beberapa lokasi di kepulauan Nusantara yang erat kaitannya dengan sejarah
gerakan kebangsaan menuju lahirnya negara Indonesia Merdeka. Salah satu lokasi
itu adalah Banda Neira, termasuk kumpulan Pulau Banda Provinsi Maluku.
Pada dekade 1930-an sekelompok kecil tokoh pergerakan kebangsaan yang
digolongkan sebagai pemimpin intelektual diasingkan di sini oleh pemerintah
kolonial Hindia Belanda. Karena lokasi ini amat terpencil dengan lingkungan
pemandangan yang indah, tokoh-tokoh yang diasingkan itu bebas bergerak, boleh
menyewa rumah sendiri, menerima surat-surat dan berbagai terbitan, serta
mengirim surat ke keluarga dan sahabat mereka.
Dua tokoh di antara kelompok yang diasingkan itu, dan kemudian menonjol dalam
sejarah Republik Indonesia adalah Mohamad Hatta (kemudian menjadi wakil
presiden, perdana menteri, menteri pertahanan dan menteri luar negeri), dan
Sutan Sjahrir, perdana menteri RI pertama (November 1945 - Juni 1947),
sekaligus sebagai menteri dalam negeri dan menteri luar negeri. Ia juga
ditugaskan sebagai utusan khusus Presiden Soekarno ke sidang Dewan Keamanan PBB
di Lake Success, Long Island, Amerika Serikat (AS) pada Agustus 1947.
Kepulauan Banda pernah menjadi fokus persaingan sengit perdagangan
internasional pada abad ke-17 dan abad ke-18 antara Portugal, Spanyol, Inggris
dan Belanda. Pala, cengkeh, kayu manis yang dihasilkan di pulau-pulau Banda
memiliki kualitas tersohor yang diperdagangkan di London, Amsterdam dan Hamburg
pada abad ke-17 dan ke-18 bagaikan kepingan emas.
Percampuran antara sejarah tua tentang kegiatan negara-negara maritim Eropa,
serta persaingan sengit, bahkan pertempuran laut di antara mereka untuk
mendominasi suplai berbagai jenis rempah dan sejarah modern gerakan kebangsaan
anti-kolonialisme mengangkat suatu kunjungan ke Banda Neira yang indah ini
sebagai pengalaman penuh rasa haru.
*
Saya kunjungi Banda Neira baru-baru ini (9 -12 Mei) dengan rombongan kecil atas
undangan Pak Des Alwi dan putrinya, Tanya Alwi. Di rombongan kami ikut Duta
Besar (Dubes) Belanda Koos van Dam (kunjungannya yang kedua kali), Dubes
Singapura Ashok Mirpuri, Deputi Kepala Perwakilan AS John Heffern dan istrinya
Libby, Direktur Perwakilan Library of Congress di Jakarta Bill Tuchrello
beserta istrinya Anita. Juga ikut salah satu puteri Bung Hatta, Gemala Hatta
yang menjadi fokus perhatian penduduk setempat, terutama generasi tua yang
masih ingat ayahnya.
Siapa Des Alwi ? Dia sudah berumur 80 tahun, tapi masih memancarkan semangat
hidup yang meluap. Bung Hatta dan Bung Sjahrir sebagai tahanan politik tiba
dengan kapal dari Papua (dulu Niew Guinea Barat dengan tempat pengasingan
politik di Boven Digoel) pada awal Februari 1936. Ketika kapal merapat, mereka
tanya seorang laki-laki remaja yang sedang berenang, apakah tahu di mana rumah
Dokter Tjipto Mangunkoesoemo, juga seorang tokoh pergerakan yang diasingkan.
Remaja itu mengantar dua pengunjung yang baru tiba ke rumah Dokter Tjipto
Mangoenkoesoemo, yang sekarang dicantumkan sebagai nama rumah sakit umum
terbesar di Jakarta. Itulah pertemuan awal Des Alwi dengan Hatta dan Sjahrir.
Mereka memberi pendidikan dan bimbingan kepada Des dan ia kemudian mengikuti
jejak para mentornya. Ia terlibat dalam usaha Proklamasi Kemerdekaan,
pertempuran sengit di Surabaya, sebagai diplomat, kemudian mendukung
PRRI/Permesta karena tidak suka melihat tindak-tanduk Presiden
Soekarno. Jasanya yang penting agaknya adalah peranannya dalam usaha diplomasi
terselubung mengakhiri konfrontasi dengan Malaysia (1966) bersama Ali Moertopo
dan Benny Moerdani.
Rombongan kami ditempatkan di Hotel Maulana yang dikelola Des Alwi, sering
disebut sebagai "Raja Banda". Dia gigih mempromosikan Banda sebagai pusat
pariwisata. Kami diajak keliling melihat-lihat rumah-rumah yang pernah didiami
oleh Bung Hatta dan Bung Sjahrir yang sekarang dipelihara sebagai museum. Des
Alwi cerita tentang kebiasaan dan keanehan masing-masing tokoh-tokoh itu.
Rupanya mereka berdua pernah tinggal satu rumah. Sjahrir gemar menikmati musik
klasik (Beethoven, Mozart, dan Hayden) melalui gramafon putar. Pada suatu hari,
Hatta menyuruh Des Alwi memindahkan alat musik itu agak jauh, karena
konsentrasinya terganggu ketika bekerja. "Sjahrir itu memang ke-Barat-an",
menurut Hatta. Des ditegur Sjahrir, kenapa memindahkan gramafonnya. Dan Des
lapor. "Saya ke-Barat-an ? Itu Hatta, dia mimpi dalam bahasa Belanda. Saya
tahu...," omel Sjahrir.
Des Alwi telah menerbitkan beberapa buku tentang pengalamannya, antara lain
Sejarah Banda Neira (Jakarta 2005).
*
Pada suatu sore menjelang malam, ketika hujan rintik-rintik, saya berjalan kaki
menuju rumah yang pernah dihuni Sutan Sjahrir. Seorang ibu tua, penjaga rumah
itu, membuka pintu dan menyalakan lampu. Seorang diri saya tatap foto-foto yang
dipajang di dinding. Beberapa mebel yang masih ada, tempat tidur, lemari buku.
Sjahrir seorang penulis surat yang tekun, ditujukan ke Maria Duchateau, pada
waktu itu istrinya di negeri Belanda. Apalagi ketika dia diasingkan di Banda
Neira dan mendapat tunjangan bulanan yang lumayan, agak sering ia menulisi
istrinya.
Surat-surat itu dikumpulkan, dipilah dan disunting dengan mengenyampingkan yang
bersifat amat pribadi. Setelah negeri Belanda bebas dari pendudukan Nazi Jerman
pada pertengahan 1945, kumpulan surat yang disunting itu diterbitkan dengan
judul Indonesische Overpeinzingen (Renungan Indonesia), penulisnya Sjahrazad.
Seorang diplomat muda AS yang bertugas di Konsulat Jenderal AS di Batavia
(Jakarta) pada akhir 1940-an menterjemahkan buku tersebut. Dia menambahkan bab
baru tentang pengalaman Sjahrir, setelah dia dan Hatta diangkut oleh pesawat
amfibi AS pada Februari 1942, sebelum Jepang menyerang Maluku, menuju Surabaya.
Kemudian dibebaskan. Buku itu berjudul Out of Exile oleh Charles Wolfe Jr ( New
York 1949). Versi inilah yang kemudian diterjemahkan oleh HB Jassin dengan
Catatan Akhir oleh Soedjatmoko (Renungan dan Aksi, Jakarta 1990).
Saya masih ingat ketika pertama kali membaca kumpulan surat Sjahrir
(Sjahrazad), mungkin tahun 1947, ketika saya masih di Sekolah Menengah Pertama
berbahasa Belanda di Jakarta. Salah seorang keponakan ayah pernah cerita
tentang buku itu. Katanya, Sjahrazad adalah Perdana Menteri Sutan Sjahrir.
Dalam beberapa hari berulang kali saya tekuni Indonesische Overpeinzingen.
Kata-kata yang sulit, saya teliti di kamus Belanda. Bukan saja bahasa Belanda
saya agak bertambah baik, tapi lebih penting lagi, buku itu mendorong
pendewasaan pemikiran politik.
Beberapa kutipan dari surat-suratnya itu masih tetap menarik, bahkan
inspiratif. Umpamanya, pada akhir tahun, 31 Desember 1936 di rumahnya di Banda
Neira, Sjahrir menggumuli pandangan hidup Barat dan Timur dalam surat yang
panjang. Antara lain, tulisnya : "Barat" bagiku berarti kehidupan yang
menggelora, kehidupan yang mendesak maju, kehidupan dinamis...Apa yang aku
kagumi dan sukai di Barat, ialah vitalitas yang tidak terhancurkan, cinta dan
hasrat pada kehidupan, pada penyempurnaan kehidupan...Jadi Timur ini seharusnya
menjadi Barat, yakni dalam pengertian bahwa Timur harus mencapai suatu
vitalitas yang sama besarnya, suatu kesadaran dinamis yang sama besarnya
seperti Barat" (terjemahan HB Jassin).
Betapa intensifnya daya analisis Sjahrir tampak dari komentarnya tentang perang
saudara yang berkecamuk di Spanyol pada dekade 1930-an itu. Ia mengeluh bahwa
pemancar radio dan koran-koran tidak menyajikan analisis mendalam tentang
konflik yang amat prinsipil, yakni konfrontasi antara fasisme dan demokrasi
yang tabrakan di Spanyol.
Dalam suratnya tertanggal 25 Maret 1937 dari Banda Neira, Sjahrir menulis
renungannya "Aku tidak percaya lagi bahwa krisis-krisis di Spanyol dan Pasifik
akan bisa diselesaikan secara terpisah. Kedua-duanya hanya akan bisa menemukan
penyelesaiannya dalam suatu krisis dunia seluruhnya. Kapan krisis dunia itu
akan mencapai puncaknya dan kapan akan pecah perang dunia, hanya soal waktu
saja" (Catatan: Perang di Eropa meledak pada September 1939 dan di Asia/Pasifik
pada Desember 1941).
Ia tambahkan dalam surat yang sama "Adalah berhubungan dengan situasi dunia ini
juga, maka aku di masa belakangan ini sekali lagi merenungkan masa depan
pergerakan kebangsaan kita....suatu hal yang gila kalau kita berpikir dan
berbuat seolah-olah sama sekali tidak ada yang berubah, selama kita tetap
menjadi jajahan Belanda" (terjemahan HB Jassin ).
Si ibu tua, penjaga "Rumah pengasingan Sutan Sjahrir" minta maaf. Ia mau pulang
mengurus cucunya dan terpaksa menutup pintu dan mematikan lampu. Di dinding
kutatap sejenak foto yang belum pernah saya lihat : Presiden Soekarno dan PM
Sutan Sjahrir, mungkin di Yogya tahun 1947, berdua secara akrab tertawa.
Hubungan mereka berdua kemudian renggang.
Entah siapa yang membisikkan info palsu ke Presiden Soekarno (Partai Komunis
Indonesia?), Sjahrir dikenakan tahanan politik pada awal 1962, karena dituduh
terlibat dalam usaha kup.. Setelah menderita sakit, ia meninggal di rumah sakit
di Zurich pada April 1966 masih dalam status tahanan politik.
Apakah mesti demikian kejamnya persaingan politik? Kemarin sama-sama kawan
seperjuangan menghadapi musuh bersama ; kemudian saling mencurigai dan yang
satu menyalah-gunakan kekuasaan untuk menumpas lawan politiknya.
Penulis adalah pengamat
pekembangan politik nasional
________________________________
Last modified: 16/5/08
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Hindari penggunaan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---