|
Limapuluh Kota, Padek-- Aparat gabungan yang terdiri dari anggota TNI, Polisi, Polisi Militer, dan Satpol PP Limapuluh Kota nyaris celaka, ketika menertibkan warung yang menjual minuman keras (miras) di Mangilang, Kecamatan Pangkalan, Limapuluh Kota, dini hari kemarin. Saat akan menertibkan warung tersebut, sejumlah warga melakukan perlawanan yang cenderung anarkis, sehingga aparat terpaksa membatalkan penertiban, karena harus menyelamatkan diri.
Ini merupakan peristiwa yang kedua kalinya, setelah sebelumnya, aparat yang akan melakukan penertiban diserang sejumlah warga. Kepala Kantor Satpol PP Limapuluh Kota, Indra Nazwar diwakili Deki Yusman, Kepala Seksi Operasional Satpol PP Limapuluh Kota yang memimpin operasi Tim SK 4 (Ketertiban) mengatakan, penyerangan terhadap petugas terjadi persis saat mereka sedang menertibkan kedai kopi miliki Man (35). Di warung itu diduga kuat dijual miras jenis wisky.
"Mungkin tidak senang atas penertiban itu, ratusan warga menyerang petugas. Di antaranya ada yang menyiapkan batu dan rantai sepeda motor. Akibatnya, bagian belakang mobil petugas dilempari dengan batu dan mengalami kerusakan berat. Untung saja, dalam kejadian yang hanya berlangsung dalam 15 menit itu, tidak ada korban jiwa," kata Deki.
Menurut Deki, dalam razia yang digelar secara dadakan itu, awalnya tim akan menyergap sebuah lokasi tempat mangkalnya pekerja seks komersial (PSK) di Sibumbuang, Kenagarian Tanjung Balik, Pangkalan yang banyak dilaporkan telah meresahkan masyarakat sekitar. Namun sebelum sampai di lokasi tujuan, ketika melewati Mangilang, tiga unit mobil petugas melihat sekitar 15 orang warga sedang mabuk-mabukan di pinggir jalan. Menyadari tugas penertiban itu, petugas kembali dan mengepung lokasi kedai yang izinnya hanya untuk minuman kopi itu.
Deki Yusman, Kepala Seksi Operasional Satpol PP Limapuluh Kota memperlihatkan barang bukti berupa Bir Hitam dan Wisky yang diamankan tim SK 4 di Mangilang Minggu dini hari kemarin.
Ternyata selain mabuk-mabukan, di antara belasan warga itu juga terdapat tiga orang wanita yang sedang melayani pengunjung. Saat itu juga, petugas langsung meminta identitas masing-masing pengunjung. Ternyata ketiga wanita itu tidak memiliki identitas diri.
"Karena tidak memiliki identitas, kami langsung menaikkannya ke mobil untuk diamankan ke kantor Satpol PP di Payakumbuh. Bersamaan dengan tiga wanita itu, juga diamankan dua dus miras bir hitam dan wisky. Namun saat penertiban itulah, puluhan bahkan mungkin mencapai ratusan warga lainnya datang secara tiba-tiba. Di antaranya ada yang membawa batu, rantai dan sejumlah senjata tajam lainnya. Mereka langsung menyergap petugas dan menolak penertiban itu," kata Deki.
Melihat gelagat yang tidak baik itulah, maka Deki langsung memerintahkan petugas lainya untuk naik ke dalam mobil mengamankan diri.. Saat tarik-tarikan itu, dua wanita yang sudah berada di dalam mobil, sempat ditarik keluar. Tinggal satu orang yakni berinisial "SK" (18) yang bisa dibawa petugas. "Setelah sempat bersitegang dengan warga itulah, kami langsung menjauhi lokasi. Saat menyelamatkan diri itu, mobil petugas masih sempat dilempari dan dikejar," tukuk Deki.
Dikirim ke Sukarami
Usai melakukan pembinaan terhadap "SK" oleh Kepala Seksi Penyuluh Satpol PP Limapuluh Kota, Hardiwan, "SK" langsung dikirim ke Balai Rehabilitasi Wanita Sukarami. Menurut Deki, pihak Satpol PP telah berkoordinasi dengan pemerintah nagari Mangilang dan pemuda, atas kejadian itu. Pihak nagari telah menyetujui, kepada pelaku kriminal, seperti "SK" itu dikirim ke Sukarami. "Kita telah koordinasikan dengan walinagari Mangilang. Saat kita tunggu-tunggu di Kantor Satpol PP, ternyata tidak satupun keluarga 'SK' yang datang menjemput. Karena itu, setelah melakukan pembinaan, kita langsung antar 'SK'
ke Sukarami sore kemarin," kata Deki.
Aksi anarkis terhadap petugas itu, adalah untuk kedua kalinya di Mangilang. Setelah dua tahun silam, saat petugas SK 4 juga melakukan penertiban di sebuah warung kopi yang juga menyediakan miras, dikejar warga. Namun bedanya, dalam razia kemarin, petugas berhasil mengamankan pelaku dan barang bukti. Bahkan saat itu, jumlah massa mencapai dua ratus orang.
Untuk menyelamatkan diri, sejumlah petugas sempat menyelamatkan diri ke dalam hutan-hutan di sekitar Mangilang. Anehnya atas kejadian itu, tidak didengarkan kabar, tindak lanjut dari perlawanan atas petugas itu. Diduga karena mendapat angin karena petugas tidak berani menertibkan Mangilang, maka meletus vesi Mangilang Dua yang juga hampir menyebabkan sekitar 20 orang petugas disandra.
"Saya Dibiarkan Orangtua"
Kepada petugas Pol PP saat diperiksa "SK" mengaku bekerja di kedai kopi Man sebagai pelayan. Bahkan ia juga mengakui, menjalin hubungan suami istri di kedai itu dengan pria lainnya. "Saya memang bekerja sebagai pelayan di kedai Man itu. Kadang-kadang kalau ada pengunjung yang 'ngajak jalan', saya jalan dan mengikuti kemanapun pergi," aku "SK" kepada petugas.
Diakuinya, ia setiap malam datang ke warung kopi Man itu dan menemani pria yang sedang meminum minuman keras. Ia dijemput oleh salah seorang teman wanita lainnya yang juga
berprofesi sama. Saat kejadian, ia sedang menemani salah seorang pengunjung yang sedang mabuk. "Saya dijemput setiap malam untuk menemani pria yang minum di kedai Man. Perbuatan ini sudah diketahui orangtua saya. Awalnya memang saya dilarang. Tapi karena tidak mau berhenti, maka kini kedua orangtua saya membiarkan saja," (jon/frv) |