Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,
   
  Sanak Nofrins dan anggota millis nan lainnya,
   
  Maoh dipohonkan kerna talambek marespon. Ambo baru balik dari Jelebu, Nagari 
Sembilan melihat adik ambo yang kurang sihaik di sana.
   
  Patamo, ambo bukan expert dalam bidang tourism ini. Tarimolah sakadarnya 
pandapek ambo sabagai pandapek layman yang maliek perkembangan tourism di 
Malaysia. Antara lain, perkembangan tourism di Malaysia didokong beberapa 
factor yang kadangkala interrelated antaro satu dengan yang lainnya:
   
  
   Kesukaan rakyat Malaysia berwisata dalam      nagari. Coba liat jika ado 
satu hari saja cuti umum (public holiday)      sabalunnya Sabtu atau salapeh 
Ahad, lebuhraya Utara-Selatan dari Singapura      ke Bukit Kayu Hitam di 
sempadan Thailand akan pack dengan mobil.      Baitu juo lebuhraya ke Pantai 
Timur - so business yang berkaitan tourism      akan hidup - indirectly 
activity ekonomi bertambah sihaik. 
   
  Kesan aktiviti ini, pusat-pusat kunjungan turis ini - saperti Langkawi, 
Pangkor, Penang, Redang, dan lain-lainnya - akan meriah. Dan kemeriahan ini 
yang ingin diliek oleh turis dari Europe dan sebagainya. Akhirnya tourist spots 
akan bertambah meriah.
   
  
   Sapatuiknyo rakyaik Malaysia      labiah susah untuk dididik supayo maliek 
tourism sabagai punco pendapatan negara      kerna ianya terdiri dari tigo 
bangso yang berbeda - Melayu, Cino dan India.      Namun ateh kasadaran bahawa 
income dari tourism boleh menjadi income utama      negara, mereka senantiasa 
memberika pelayanan yang terbaik kepada turis.
   
  
   Rakyaik Malaysia sadar, negaranya      kurang cantik, kurang kayo dan banyak 
kekurangan lain lagi, oleh itu      mereka menggunakan segalo apo nan ado untuk 
menghidupkan perekonomian. 
   
  
   Sanak Nofrins batanyo baa caro manamkan kasadaran      masyarakat agar 
mendokong tourism. Pelbagai aktiviti pemerintah dan rakyaik      dimeriahkan 
dan diwar-warkan di luar negara untuk menarik turis. Hinggakan      musim laut 
bergelora pun diadakan "Monsoon Cup" untuk lomba perahu layar.
   
  
   Kemudahan untuk turis juga disediakan. Coba liat      bagaimana bandar kecil 
Lumut di Perak menyediakan bangunan khas untuk      parking lots untuk 
pengunjung ke bandar kecil ini. Pada hal parking lots      di dalam bandar 
sudah cukup banyak. 
   
  Ambo raso satakat ini daulu, oleh kerna ingin menyertakan gambar-gambar 
berkaitan Lumut, ambo akan hantar photo itu melalui japri sanak Nofrins.
   
  Wassalam, ambo pohonkan maoh sakironyo terkasar bahaso tersalah bicaro.
  Idris Talu (57)
   
  Deskripsi photo:
    IMG 1205-01: Tourist Service Centre di Lumut
  IMG 1223-01: Di hadapan Jetty ke Pangkor.
  IMG 1235-01: Car Parking di bandar kecil Lumut
  IMG 1252-01: tanda arah ke parking lots
  IMG 1253-01: Jalan untuk pejalan kaki berbumbung dari belakang parking lots 
ke jetty.
  IMG 3515-01: Jambatan Tuanku Permaisuri Bainun
  IMG 3520-01: Jambatan Tuanku Permaisuri Bainun.
   
  

Yulnofrins Napilus <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Riri,
  
 Sekedar klarifikasi sajo, setidaknya untuk diri ambo surang. 
  
 Tulisan Riri: Kemudian beliau2 merasa "dipakuak". Mereka teriak. Dan teriakan 
mereka pun diperkeras oleh awak2 ko.
  
 Rasanya kita disini tidak pernah berpikiran utk memperkeras teriakan kanai 
pakuak tsb. Atau isu-isu lain ttg yg mungkin masih kurang positif terjadi di 
Ranah ataupun di Rantau. Kita kemukakan utk mencarikan jalan keluarnya, kalau 
ada dan kalau bisa... Prinsipnya kan nobody is a hero, bersama akan jauh lebih 
baik. Sayang waktunya lah kalau hanya sekedar sorak-sorak begitu saja... Kita 
hargai jugalah dunsanak yg sangat sibuk dg asap dapurnya masih menyempatkan 
juga menulis satu dua kalimat disini. 
  
 Kesimpulan yang hampir sama ini, datang juga dari sumber2 di daerah ring 1 
atau ring 2 "disana" thd isu-isu yg didiskusikan di milis RN yg ternyata sangat 
terkenal sampai "kesana". Kok nan didiskusikan di milis itu nan buruak-buruak 
sajo...? Kan lai nan rancak2 nan kami buek pulo..? Onde mandee...kok 
dipuji-puji taruih, beko tagarubuih pulo... Salah juo kami. Baa mangko indak 
diingatkan dari dulu...? Alamaaak, iyo kamari bedo lo yieh...

 But it's ok. Itu kan namanya demokrasi, katanya... Kalau seirama pulo sadonyo, 
pindah aliran kito beko... Ok, back to the topic. Melihat komen2 yang masuk, 
ternyata pakuak tidak terjadi hanya di Sumbar saja. Juga dibanyak daerah. Yg 
perlu kita sigi lagi lebih jauh, apakah intensitasnya sama di semua daerah. 
Lalu bgmn dg tetangga kita di negeri jiran? Apakah ada faktor ini yg 
menyebabkan juga, salah satunya, sehingga tingkat kunjungan wisman ke Malaysia 
per tahun bisa mencapai 16 juta orang, sedangkan ke Indonesia baru 5,5 juta 
orang..?

 Rasanya persoalannya tidak hanya patokan harga makanan di resto saja. Ambo 
melihat lebih luas dari itu. Masalah kesadaran kita thd pendatang alias tamu. 
Apakah kita sadar bahwa mereka dengan berkunjung ke tempat kita itu mereka bawa 
uang..? Apakah masyarakat kita sudah bisa menyadari bahwa kalau mereka nyaman 
mereka akan bercerita ke banyak orang lagi sehingga itu bisa merupakan salah 
satu faktor utk meningkatkan PAD...? Ini yg mendorong ambo mengajukan 
"pancingan" usulan program "4 Rancak 5 Lamak Bana".
  
 Bbrp hari lalu saya sempat ngobrol2 dg bbrp kawan2 wartawan dari Pdg. Mrk 
bilang, ekspresi sambutan yang kurang hangat dari urang awak thd pendatang itu 
yang banyak terjadi katanya. Menurut ambo, mereka tidak salah krn mungkin 
mereka memang belum pernah diberi kesadaran apa artinya orang datang ke negeri 
awak... Termasuk juga yang di Yogya, di Jakarta dan tempat2 lain tsb. Apa 
artinya kalau orang datang ke Indonesia...
  
 Di milis iko kan banyak dunsanak dari negeri jiran nih. Cubo kito tanyo, bgmn 
kesadaran masyarakat Malaysia thd pendatang alias wisman ini? Bukan TKI lho 
ya...;)  Tolong Kanda Jamaluddin atau Idris Talu mungkin bisa sharing sedikit...

  
 Bgmn caranya dulu di Malaysia memberi kesadaran kepada masyarakatnya sehingga 
sebagian besar masyarakat sangat mendukung dan cukup helpfull thd wisman...? 
Sehingga orang-orang asing pun lebih memilih tinggal di Malaysia dibanding 
tempat lain. Waktu ambo mamacik Asia Pacific utk Proyek ERP pershn Bld, semua 
orang asingnya minta agar Data Center ditempatkan di Kuala Lumpur. Padahal 
sudah jelas, produksi paling besar dan users paling banyak yang akan akses 
sistim tsb, ada di Indonesia... Kenyamanan dan kepastian thd lingkungan, lebih 
utama buat mereka dibanding sewa infrastruktur yang akhirnya jadi lebih 
mahal...:)
  
 Mohon maaf sebelumnya. Semoga berkenan. Terima kasih...
  
 Wassalam,
 Nofrins

--------------ambo kuduangkan-------------



 
 


 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Hindari penggunaan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke