Saat mereka membuka kereta yang membawa Saiful, salah satu dari pembantu itu menjerit kaget karena tidak menyangka melihat ada seorang anak dalam kereta itu. Ropita yang mendengar jeritan kecil tersebut melepaskan pelukan suaminya dan memandang kepada pembantunya dengan kerutan di dahi. " Ada apa, Upik?' Tanya Ropita. "Maaf nyonya, di dalam kereta ada seorang anak kecil, saya jadi kaget,"sahut Upik. Ropita berbalik menatap suaminya dengan bingung, sang suami terlihat tersenyum melihat sang isteri. "Kanda, sia awak bawok kamari (siapa kamu bawa kemari) ?" Tanya Ropita. "Ropita, kanda ingin dinda berkenalan dengan muridku, dia anak yang sangat special sekali. Kanda jatuh sayang padanya ketika pertama kali melihat dia, kanda harap dinda juga menyukainya seperti kanda menyukainya." Basri tidak menceritakan keadaan Saiful kepada Ropita, dia ingin sang isteri mengetahui sendiri kondisi anak itu. Tapi Ropita mulai punya perasaan tidak suka, kalau memang anak itu menjadi murid suaminya kenapa anak itu tidak turun dan memberi hormat kepadanya. Dia ingin menyindir suaminya tentang etiket menghormati orang yang lebih tua yang harus diajarkan kepada muridnya itu, tapi belum sempat dia bicara suaminya sudah melepaskan pelukannya dan berjalan menuju kereta di mana anak itu berada dan naik ke dalamnya. Karena penasaran Ropita mengikuti suaminya untuk melihat murid suaminya itu, ketika suaminya keluar sambil menggendong seorang bocah laki-laki yang sedang tertidur, dia merasa tidak senang karena dia menganggap anak yang tidak punya sopan santun. Sudah sampai di tempat bukannya bangun tapi malah masih tertidur dengan enaknya, yang mengherankan adalah suaminya menggendong anak itu dengan hati-hati sekali dan memegang punggungnya dengan lembut sekali seakan takut anak itu akan terluka. Tatapan mata suaminya terkandung rasa sayang yang mendalam, dia belum pernah melihat suaminya mempunyai pandangan yang lembut seperti ini sebelumnya kepada anak-anak siapapun, walaupun dia tahu suaminya sangat merindukan untuk memiliki anak. Dan suaminya suka sekali kalau rumahnya kedatangan anak-anak kecil bermain, begitu banyak kemenakan yang dimiliki suaminya dari saudara-saudaranya tapi dia belum pernah sekalipun melihat suaminya mempunyai pandangan mata selembut terhadap anak yang ada digendongannya itu. Ini membangkitkan perasaan tidak enak dalam hatinya seperti perasaan cemburu karena selama ini suaminya hanya menatap dia dengan kelembutan seperti itu tapi kini dia mempunyai saingan seorang bocah. Ingin sekali dia melihat wajah anak itu tapi dia belum bisa melihat karena wajahnya tertutup rambut dan leher suaminya. Suaminya berjalan dengan cepat tapi tidak menggoyangkan tubuhnya seakan takut anak itu akan bangun akibat gerakan tubuhnya kala berjalan. Melihat hal ini semakin heran dan tidak enak perasaan Ropita akan kelakuan suaminya, karena itu dia mengikuti sang suami ke arah kamar yang sudah diminta suaminya melalui merpati pos untuk disiapkan. Ropita yang telah terbiasa dengan tamu-tamu suaminya yang sering datang ke rumah mereka sempat terheran dengan isi surat dari suaminya, yang meminta kamar di sebelah kamar mereka untuk dibersihkan dan disiapkan menerima tamu. Biasanya teman-teman dekat saja yang bisa menginap di rumah utama mereka, tapi mereka tidak pernah tidur di sebelah kamar utama. Tadinya Ropita berpikir saudara angkat suaminya yang datang menginap di rumah, sehingga harus menyiapkan kamar di rumah utama, tapi yang mengherankan kenapa harus kamar di sebelah kamar mereka. Kamar itu tidak pernah digunakan oleh siapapun karena tadinya disiapkan Basri untuk anak mereka sebelum dia tahu bahwa dia tidak bisa mempunyai anak. Jadi untuk menjaga perasaan sang suami, kamar itu tidak pernah digunakan karena dia pernah melihat suaminya memasuki kamar itu tengah malam dan berdiri merenung di tengah kamar. Sejak itu kamar tersebut tertutup bagi siapapun, kecuali suaminya, seolah kamar itu merupakan ruang meditasi suaminya. Sekarang suaminya minta kamar tersebut dibersihkan dan dirapikan ternyata untuk menyambut muridnya. Mereka dengan diam terus berjalan menuju kamar itu, begitu pintu kamar dibuka tercium bau wangi yang segar memenuhi ruangan kamar itu, terlihat tempat tidur dialasi dengan kain lembut berwarna biru langit senada dengan kelambu yang melingkari tempat tidur itu, sesuai dengan permintaan suaminya. Dengan sebelah tangannya, Basri membuka jendela yang ada di samping ranjang sinar terang memasuki kamar, tapi sinar matahari tidak menyengat masuk kamar karena posisi kamar berada di selatan jadi baik matahari terbit maupun matahari terbenam tidak akan menyorot ke dalam kamar ini. Setelah itu dengan hati-hati Basri membungkukan badannya untuk meletakan Saiful di tempat tidur, Ropita yang berada di belakang suaminya belum bisa melihat wajah anak itu. Basri yang tahu rasa penasaran isterinya bertanya-tanya dalam hati bagaimana wajah isterinya jika melihat wajah hancur anak ini akibat pukulan ayahnya. Dia tahu hati lembut sang isteri melihat kemalangan orang lain, walaupun terlihat di permukaan isterinya seorang perempuan yang keras. Kini dia ingin tahu apa yang akan terjadi pada isterinya saat melihat keadaan Saiful, pelan-pelan dia menegakkan tubuhnya dan bergeser ke samping untuk memberi kesempatan kepada isterinya melihat wajah muridnya. Ropita yang sudah sangat penasaran buru-buru bergerak ke depan untuk melihat jelas wajah murid suaminya. Begitu dia melihat dia langsung berteriak kaget dan terpukul sekali melihat wajah bocah itu, dia melihat wajah yang membengkak dan biru keunguan di hampir semua kulit wajah anak itu. Dia tahu ini bukan karena jatuh maka wajah anak itu seperti ini, dengan gemetaran tangannya menyentuh lembut wajah yang membengkak membiru itu. Hatinya miris sekali dan matanya langsung berkaca-kaca melihat keadaan anak ini. Dengan membisu dia memalingkan wajahnya ke arah suaminya, pandangan matanya menanyakan apa yang terjadi pada anak ini. Suaminya melihat wajah sang isteri yang pucat sekali dan mata yang berkaca-kaca itu mengetahui bagaimana perasaan isterinya karena itu pula perasaannya saat pertama kali melihat keadaan Saiful. Ditariknya tangan sang isteri untuk duduk di dekat meja yang ada di tengah ruangan, dia ingin menceritakan kisah Saiful dalam posisi duduk karena dia merasa lemas setiap kali mengingat pagi saat dia mau membawa anak itu. Mulailah dia bercerita dengan diawali dari mimpi Bumi dan permintaan sesepuh untuk dia menerima murid, dilanjutkan dengan perkenalannya dengan Saiful dan berakhir dengan pemukulan orang tuanya. Mendengar kisah Saiful, Ropita menangis pilu dan mengepalkan tangannya erat-erat, ingin sekali dia menghajar kedua orang tua Saiful sampai minta ampun. Hatinya yang tadinya tidak senang kepada Saiful kini berbalik menjadi iba dan terbitlah perasaan sayangnya kepada bocah malang ini. Dengan saputangan pemberian suaminya, Ropita menghapus air matanya yang berderai dan hidungnya yang meler. Pelan-pelan dia bangkit dan mendekati bocah malang itu, dia menatap bocah itu berlama-lama seakan ingin mencari tahu bagaimana wajah anak itu kalau tidak bengkak dan membiru seperti ini. Bersambung.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Hindari penggunaan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
