Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Batanyo ambo ciek ....
Pada tulisan berwarna merah, kenapa perempuan tidak boleh masuk ya ?

Tarimo kasiah ateh jawabannyo.

auliahazza.35.f



Jejak Batu Bara Seabad Lalu
Sabtu, 24 Mei 2008 | 01:09 WIB

Kompas.co.id
Agnes Rita Sulistyawaty

Kota Sawahlunto adalah cerita yang berusia lebih dari satu abad. Di kota
yang berjarak 95 kilometer dari Kota Padang, Sumatera Barat, itu guratan
kisah kehidupan tambang batu bara masih terpampang apik.

Sejak pertama menginjakkan kaki di pusat Kota Sawahlunto kesan tua terlihat
dari bentuk bangunan rumah, pasar, hingga gedung-gedung berarsitektur
Belanda. Pusat kota berada di dalam cekungan lembah sehingga julukan "Kota
Kuali" melekat pada Sawahlunto. Bila melihat kota dari atas cekungan saat
malam tiba, tampak cahaya berkelip-kelip dari lampu permukiman penduduk.
Deretan permukiman penduduk berjajar di perbukitan yang menjadi "dinding"
kota ini.

Kejayaan kota penyimpan cadangan batu bara ratusan juta ton itu membeku
dalam sejumlah bangunan besar: gudang ransum, cerobong industri pengolahan
batu bara, bekas Societet, hingga stasiun berikut jalur kereta api yang dulu
menjadi primadona transportasi di situ. Sayangnya, sebagian peninggalan
sudah lapuk dimakan usia, ditambah lagi dengan tidak terpakainya lagi
bangunan mercu suar pada zaman Belanda itu.

Sebagian bangunan sudah beralih fungsi, seiring dengan bergantinya masa,
kejayaan batu bara, serta periode pemerintahan. Gudang ransum kini tidak
lagi digunakan untuk memasak makanan bagi ribuan kuli, termasuk juga orang
rantai—sebutan untuk narapidana dan tahanan politik yang dipekerjakan
sebagai kuli penambang batu bara pada zaman Belanda.

Gudang ransum kemudian beralih menjadi museum yang dinamakan Goedang
Ransoem. Di museum itu catatan sejarah tentang sebuah dapur umum masih
tersimpan. Gedung tempat memasak ini seukuran aula.

"Pekerjanya sampai ratusan orang, sebagian besar adalah anak-anak yang
diberi kerja mudah, seperti mengupas bawang, memotong sayuran, dan
menyiapkan bumbu-bumbu," kata Rika Cherish, Pelaksana Tugas Kepala Unit
Pelaksana Teknis Peninggalan Bersejarah Kota Sawahlunto.

Sejumlah peralatan memasak—sebagian masih asli dan beberapa adalah
replika—berupa panci raksasa, penggorengan, serta kompresor menjadi benda
pajangan untuk menghadirkan kembali sebagian kenangan yang terjadi tahun
1892 hingga sekitar tahun 1942, setelah Jepang masuk menggantikan Belanda.
Diameter panci tidak kurang dari 1 meter dengan kedalaman sampai 90
sentimeter.

"Peralatan masak yang menjadi koleksi museum itu sebagian besar disimpan
oleh masyarakat di sekitar lokasi museum. Sebagian lagi adalah replika
karena aslinya sudah tidak ada lagi," urai Sri Sedyawati, antropolog
Universitas Andalas yang merintis pembuatan museum.

Dari ukuran peralatan memasak itu, bisa dibayangkan betapa banyak makanan
yang dimasak tiap hari. "Aktivitas memasak hampir tidak pernah berhenti
karena Belanda memberi makan tiga kali sehari untuk para kuli yang bekerja
di terowongan batu bara serta sejumlah makanan ringan di waktu-waktu sela,"
tutur Rika.

Pemasakan tidak menggunakan kayu bakar, gas, ataupun minyak tanah. Dengan
makanan dalam porsi raksasa, proses memasak dilakukan dengan uap air. Uap
air dihasilkan oleh sebuah tungku raksasa buatan Jerman tahun 1894. Dari
tungku itu, uap air dialirkan lewat pipa-pipa raksasa menuju dapur umum.
Sebagian kecil batu bara yang ditambang digunakan untuk energi memasak.

Makanan yang telah siap dikirim ke lubang-lubang tambang yang tersebar di
sejumlah sudut kota. Untuk menghemat waktu kerja, para buruh tidak menikmati
makanan mereka di luar lubang tambang, tetapi makanan itu dibawa masuk ke
lubang tambang.

"Sebagian besar buruh tambang hampir tidak pernah melihat sinar matahari
karena mereka hidup di dalam lubang tambang," begitu kata Erwiza Erman,
sejarawan LIPI yang menghabiskan waktu tahunan untuk meneliti aktivitas
tambang batu bara di Sawahlunto pada kurun waktu 1892 hingga 1996.

*Ah, sulit rasanya membayangkan bagaimana kerja tambang batu bara di lubang
bawah tanah. Di salah satu tempat tambang batu bara yang masih aktif hingga
saat ini, yakni Desa Parambahan, keinginan untuk menapaki terowongan bawah
tanah yang panjangnya ratusan meter kandas.

"Maaf, kami tidak memperbolehkan perempuan masuk ke dalam terowongan. Ini
pantangan," tutur Syafril, seorang pengusaha tambang.*

Terowongan tengah kota

Untunglah ada sebuah lubang tambang di tengah kota yang telah dikonservasi
oleh Pemerintah Kota Sawahlunto sebagai sebuah obyek wisata. Di situlah
keinginan saya untuk mengetahui tempat penambangan batu bara bisa terjawab.

Terowongan yang terletak di bekas kompleks perumahan para buruh batu bara
itu dinamakan Lubang Mbah Suro, sebuah nama yang kental dengan nama Jawa.
Lubang Mbah Suro ini sebenarnya sudah diketahui oleh masyarakat sejak lama.
Namun, sejak ditutup Belanda tahun 1927 masyarakat acuh saja dengan
keberadaan terowongan. Perumahan warga dibangun di sekeliling terowongan.

"Terowongan ini baru dibuka pemerintah Juli 2007. Waktu itu air memenuhi
terowongan. Untuk menyedot air dibutuhkan waktu dua bulan," kata Willizon
(51), penjaga terowongan.

Saat dibuka kembali sejumlah tulang manusia yang sudah membatu juga
ditemukan. "Ada kisah kekejaman di dalam terowongan. Bunuh-membunuh antara
kuli di dalam terowongan menjadi cerita biasa," kata Erwiza yang kerap
bolak-balik dari Jakarta ke Sawahlunto.

Banyak hal yang menjadi alasan pembunuhan, mulai dari perebutan makanan,
perebutan batu bara, hingga persaingan kawan homoseksual. Ya, dunia
penambangan yang maskulin telah membuat pekerjanya menjadi homoseks. Nyaris
tidak pernah ada perempuan di tambang batu bara, bahkan hingga kini.
Kalaupun ada, ibu-ibu penambang biasa bekerja untuk mencari batu bara di
tambang luar, bukan di terowongan.

Memasuki terowongan batu bara di pusat Kota Sawahlunto, terlihat bingkai
kehidupan tambang yang pernah mempekerjakan ribuan orang dalam satu masa.
Lorong-lorong selebar 1,5 meter dengan ketinggian 3 meter itu berdinding
hitam. Di dinding itulah menempel batu bara. Batu bara inilah yang menjadi
emas hitam bagi Belanda pada masa lampau serta penghasilan bagi ratusan
masyarakat kita pada masa kini.

Kendati oksigen sudah dipompakan ke dalam terowongan, aroma sesak masih
tetap ada. Bayangkan jika aktivitas itu dialami oleh para kuli batu bara
selama puluhan tahun.

Dan, Belanda menikmati keuntungan dari peluh para kuli. Pesta-pesta digelar
di Societet, sebuah gedung itu kini beralih nama menjadi Pusat Informasi
Kebudayaan Sawahlunto. Di situlah salah satu tempat para pejabat Belanda
bersukaria ketika para kuli asyik dengan pertunjukan ronggeng dan judi.

Setelah seabad berlalu, seluruh kota inilah yang menjadi sumber keasyikan
dari sebuah perjalanan di Kota Sawahlunto.

-- 
http://auliahazza.com/
http://auliahazza.belajar-islam.com/

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke