Kini anak itu menghadap padanya dan tetap bersikeras memanggilnya guru,
padahal dari segi kedudukan Kahar di atas dia, setingkat dengan gurunya. Dan
pada saudara perguruannya tetap memanggil uda dan uni tanpa membedakan
kedudukan, pokoknya siapa yang lebih tua darinya selalu dipanggil dengan
hormat. Semua orang menyayangi pemuda cakap ini kecuali kakak seperguruannya
yang nomor 2 bernama Yunus. Pemuda ini selalu iri terhadap Kahar yang
melebihi segalanya dari dia, Yunus juga termasuk keluarga kerajaan hanya dia
merupakan saudara jauh sedangkan Kahar merupakan sepupu dari raja sekarang.

 

Tapi dia pintar menutupi perasaan irinya pada Kahar, di muka semua orang dia
berlaku sopan dan baik sehingga tidak terlihat sifat jeleknya. Hanya Datuak
Matahari Ameh yang bisa merasakan ketidakberesan pemuda ini, oleh karena itu
dia memesan wanti-wanti kepada muridnya untuk berhati-hati pada pemuda itu.
Karena beliau melihat aura kegelapan yang melingkupi sekeliling pemuda itu,
dan dengan tenaga kebatinan dia juga tahu bahwa pemuda ini mempunyai
kekuatan sesat dalam dirinya yang belum dibangkitkan. Beliau tidak bisa
mengusir pemuda itu dari perguruan Api Matahari, karena akan menimbulkan
masalah besar ke depannya. Makanya yang dia bisa lakukan hanya memperkuat
kebatinan dan ilmu serta tenaga dalam Kahar agar nantinya bisa menghadapi
Yunus.

 

Setelah berpamitan dengan guru dan saudara seperguruannya, Kahar melangkah
dengan ringan menuju ke kaki gunung Tandikat untuk memulai pertualangannya.
Karena dia berjalan dengan santai sekali maka sampai di kaki gunung sudah
senja, segera dia pergi ke rumah wali nagari untuk menumpang mandi dan
makan. Semua penduduk sudah mengenal murid-murid perguruan Api matahari,
mereka senang sekali menerima dan membantu karena murid-murid dari perguruan
ini sangat baik dan ramah serta ringan tangan menolong mereka. Jadi tidak
masalah kalau ada murid perguruan ini minta berteduh dan makan di rumah wali
nagari itu. Sesudah mandi dan makan, Kahar berpamitan untuk melanjutkan
perjalanannya, dia tidak ingin mengganggu wali nagari yang baik itu lebih
lama lagi.

 

Dengan santai dan bersiul-siul dia melangkahkan kakinya menuju hutan yang
menjadi perbatasan nagari ini dengan dunia luar, kebetulan sinar bulan
sangat penuh dan terang sekali sehingga memudahkan dia untuk melanjutkan
perjalanan. Dengan ilmu lari cepat dia sudah meninggalkan nagari dan
kira-kira tengah malam dia sudah hampir sampai di pinggiran hutan sebelah
sana . Tapi karena ngantuk dia mau istirahat dulu, dia lihat pohon-pohion
yang tumbuh di sekitar tempat dia berdiri dan melihat ada sebuah pohon yang
kelihatannya enak untuk menjadi tempat tidurnya. Dengan menggunakan ilmu
peringan tubuh dia sampai di atas pohon, dan sebentar kemudian diapun sudah
terlelap. Malam semakin larut, tiba-tiba dia mendengar derap kuda yang
kencang sekali menuju ke arah pohon tempat dia tidur, segera dia membuka
matanya melihat arah datangnya suara derap kuda tapi dia tidak merubah
posisi tubuhnya yang masih tertidur di atas dahan pohon.

 

Terlihat seekor kuda putih berlari kencang sekali dari arah Timur membawa
sosok tubuh kecil di atasnya, Kahar tidak bisa melihat wajah si penunggang
kuda karena tertutup dengan kain yang melilit kepalanya. Ketika hampir dekat
pohon Kahar, tiba-tiba si penunggang kuda bersiul tinggi melengking dan
hebatnya kudanya berhenti berlari seakan-akan dia mempunyai rem di kakinya.
Sambil terus menengok ke belakang si penunggang kuda turun dari atas
kudanya.

 

"Bening, aku rasa kita sudah meninggalkan jauh orang-orang bawel itu di
belakang kita, lebih baik kita istirahat sejenak sebelum meneruskan
perjalanan kita ke perguruan Api Matahari,"terdengar suara lirih si
penunggang bicara dengan kudanya.

 

Kahar tidak bisa memastikan apakah itu suara pria atau wanita karena dia
masih belum bisa melihat wajah dan potongan tubuh penunggang kuda itu. Hanya
kalau dia taksir tinggi orang itu hanya sebatas dadanya saja, Kahar termasuk
pemuda yang tinggi dan berdada bidang yang cukup lebar, sedangkan penunggang
kuda ini kelihatannya bertumbuh kurus. Orang dan kudanya langsung duduk di
atas tanah dengan enaknya seolah tidak memperdulikan kotor atau tidaknya
tanah itu. Si penunggang kuda langsung menjatuhkan badannya ke perut kudanya
dan langsung tertidur. Sang kudapun dengan tenang membaringkan tubuhnya di
tanah dan membiarkan tuannya tidur di perutnya. Kahar masih belum bisa
melihat wajah sang penunggang kuda karena tertutup oleh kain yang menutupi
seluruh tubuhnya termasuk wajahnya.

 

Suasana tenang dan sepi membuat Kahar mengantuk lagi, ingin melanjutkan
tidurnya yang sempat terganggu karena kehadiran orang dan kudanya. Tadi
sempat dia heran mendengar gumaman orang itu yang mau ke perguruannya, besok
dia akan menguntit orang ini karena dia ingin memastikan apakah orang ini
bermaksud jelek ke perguruannya atau tidak. Jika tidak dia bisa dengan
tenang meninggalkan daerah perguruannya untuk melanjutkan perjalanan.

 

Baru saja dia merasa tertidur tiba-tiba di kejauhan lamat-lamat dia
mendengar derap kuda yang banyak menuju ke arah dirinya, Sambil menggerutu
kesal dia terbangun dari tidurnya, tapi suasana sudah mulai terang, malam
sudah menyelinap ke peraduannya untuk memanggil bangun sang mentari. Suasana
sungguh indah sekali di remang-remang cahaya pagi, bila tidak terganggu oleh
suara derap kaki kuda. Kesal sekali rasanya belum kenyang tidurnya harus
terganggu lagi, cepat dia menoleh ke arah orang dan penunggang kuda di
bawahnya. Rupanya orang itu belum mendengar derap kuda dari jauh itu tapi
sang kuda sudah mendengarnya dan mengeluarkan suara ringkikan pelan sambil
kepalanya ditoleh ke samping dan sundul pelan majikannya. Tapi sang majikan
masih keenakan tidurnya mungkin karena kelelahan berkuda sehingga tidak
terbangun walau sudah disundul-sundul kudanya. Semakin lama suara derap kuda
itu semakin dekat, kuda itu mengeluarkan suara ringkingan keras dan berusaha
berdiri agar bisa membangunkan sang majikan. Akhirnya sang majikan bangun
juga dan terduduk dengan lemasnya, kudanya kembali mendorong-dorong punggung
majikannya agar segera berdiri. Sang majikan mengangkat kedua tangannya dan
mendoyongkan badannya ke arah belakang sambil menggeliatkan badannya.

 

Bersambung....



 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke