Saat itulah penutup kepalanya terbuka dan rambut yang menutupi wajah itu
tersibak tergerai ke belakang. Tampaklah seraut wajah wanita yang sangat
cantik sekali apalagi ketika sinar matahari yang mulai mengintip malu-malu
mencium wajah itu. Kahar terpesona memandang wajah itu sungguh teramat
sangat cantik, berkulit sawo matang yang mulus, berbibir bawah yang tebal
sensual dan hidung yang mungil mancung melengkapi keindahan wajah itu. Dia
belum bisa melihat mata sang pemilik wajah dikarenakan dia masih menutup
matanya menikmati ciuman hangat dari sang mentari. Ketika si cantik membuka
matanya, langsung sang dewa langsung melepaskan panah asmaranya tepat
mengenai jantung Kahar, sejak saat itu wanita itu sudah merenggut kedamaian
dan ketenangan Kahar.

 

Kahar jatuh cinta tanpa bisa mengelak atau melepaskan diri lagi dari panah
asmara yang sudah menancap di jantungnya dengan tepat sekali. Mata indah
sang pemilik wajah cantik itu benar-benar menggoncangkan iman, begitu bening
dan teduh sekali jika memandang ke dalamnya seakan ingin ikut tenggelam ke
dalam mata indah itu. Belum pernah selama hidupnya Kahar merasakan gairah
dan semangat yang membara karena seorang gadis cantik, sudah banyak ditemui
gadis-gadis cantik yang pernah datang berkunjung ke perguruannya atau
teman-teman mainnya waktu masih di istana tapi tidak ada satunya yang mampu
mengguncang perasaannya seperti saat ini.

 

Dia lupa akan keadaan sekitarnya hanya mampu melihat pemandangan indah di
depannya tanpa berkedip, sedangkan suara derap banyak kuda semakin mendekati
tempat mereka. Tapi yang anehnya si cantik itu tidak menghiraukan hal itu
bahkan dia masih menikmati angin nan lembut yang meniupi rambut dan bajunya
perlahan-lahan. Terdengar senandung lembut dari bibirnya yang sensual itu
seakan menikmati cerahnya pagi ini. Dan kudanya sudah berjalan agak ke
samping menuju sungai kecil yang mengalir untuk minum dan makan rumput yang
tumbuh subur di pinggiran sungai tersebut.

 

"Bening, kamu enak sekali sudah minum, aku juga ingin minum tapi harus
ditadah dulu pasti segar sekali rasa embun pagi," terdengar suara merdu nan
lembut keluar dari bibir sensual itu.

 

Kahar semakin terbuai dengan keadaan yang ada di sekitarnya, apalagi setelah
mendengar suara yang lembut berirama itu. Dia melihat gadis itu mengeluarkan
sebuah tabung dari bamboo dari balik bajunya dan dengan gerakan yang luwes
sekali dia menyapukan bamboo itu pelan-pelan ke titik-titik embun yang ada
di dedaunan yang tumbuh subur di dekatnya. Gerakannya sedemikian cepat dan
luwes sekali, tidak ada embun pagi yang lolos dari tabung bamboonya. Melihat
hal ini Kahar tahu bahwa gadis ini bukan orang sembarangan pasti mempunyai
ilmu silat yang bagus sekali, walau mungkin dibandingkan dengan dirinya
masih jauh tapi cukup untuk dia membela diri seandainya terjadi sesuatu.


Setelah beberapa lama dia memasukan embun pagi di tabung bambunya, gadis itu
tertawa lembut melihat hasil kerjanya, suara tawanya sungguh menggelitik
sukma Kahar, dia jadi ikutan tersenyum melihat tingkah laku dara cantik itu.

"Bening, cukup banyak juga embun yang aku dapat, lumayan untuk melepaskan
dahaga."

Segera dara itu meminum embun pagi yang ada di tabung bambunya,"Hmmmm.. 

Nikmati sekali rasanya Bening, sekarang aku sudah siap menghadapi
orang-orang bandel itu. Tapi aku harus mencuci muka dulu menghilangkan debu
yang melengket ini."

Biarpun dia seorang perantau akan tetapi tetap dia seorang anak gadis yang
mementingkan kebersihan dan kerapian dirinya. Berjalan dia menuju sungai
kecil itu dan mencuci tangan dan mukanya, sambil melepaskan kain yang
melingkari tubuh dan kepalanya. Kembali Kahar terpana menatap dara itu,
ternyata dia memiliki rambut hitam panjang yang indah berkilauan dan bentuk
tubuh yang sangat proposional sekali dengan ketinggian tubuhnya. Sempurna
kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan dara itu, jari tangan yang
lentik itu menepuk-nepuk mukanya dengan air sungai yang jernih itu.

 

Dan sementara itu segerombolan orang berkuda sudah terlihat mendekati tempat
mereka, dan pemimpin rombongan sudah mengangkat tangannya untuk
memerintahkan kepada rombongan agar menghentikan lari kuda mereka. Dia sudah
melihat kuda putih itu dan pemiliknya yang sedang berjongkok mencuci tangan
dan wajahnya di sungai itu.


"Selamat pagi Dewi, maafkan kami yang mengejar anda seperti ini," sapa halus
sang pemimpin kepada dara yang sedang membelakangi mereka.

 

Bersambung....



 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke