"Itu benar uda, tadinya aku juga tidak percaya tapi setelah aku menanyakan
pada beberapa orang, mereka semua bilang sama tangan tabib itu dingin
menyejukan, makanya aku buru-buru balik untuk memberitahukan kepada kalian
semua."

"Lukman, kita harus menyelidiki kebenaran berita ini segera, karena ibu kita
sudah hampir sebulan menderita aku sudah tidak tahan memikirkannya. Saking
kuatirnya kita hampir lupa bahwa tabib Dewi tangan Dingin itu suka menyamar
bisa jadi tabib ini merupakan samaran dia, selama ini kita selalu terpaku
hendak mencari tabib wanita. Padahal bisa jadi tabib itu sudah di depan mata
kita tapi kita tidak menyadarinya." kata Malik dengan cepat.


"Baiklah kita semua keluar dan selidiki hal ini, mudah-mudahan saja benar,
aku juga sudah tidak sabar sekali setiap memikirkan penderitaan ibu kita."

 

Segera mereka keluar dari kamar penginapan dan menyebar ke seluruh nagari
untuk membuktikan kebenaran berita itu. Kedua kakek yang menyertai mereka
bertugas untuk pura-pura menjadi pesakitan agar bisa merasakan pengobatan
dari tabib itu, Lukman serta Malik menyamar sebagai keluarga dari kedua
kakek itu, sedangkan 5 orang saudara seperguruan Malik serta Kasman bertugas
mencari keterangan dari penduduk, di mana tabib itu tinggal dan dari mana
datangnya.


Mereka berempat berjalan menuju ke rumah yang dijadikan tempat pengobatan
darurat oleh penduduk, di sana sudah terlihat antrian penduduk yang tinggal
3 orang lagi.

"Kakek Konek, kau kerahkanlah tenaga dalammu supaya keliatan kau sedang
sakit, begitu juga dengan kakek Botak supaya kita bisa menjajal apakah benar
dia tabib yang dimaksudkan oleh ayah." Kata Lukman kepada kedua kakek
tersebut.

"Malik, kau pura-pura papah kakek Konek masuk duluan dan kakek Konek tugasmu
adalah mengetahui apakah benar dia tabib yang kita cari, apakah bisa kalian
lakukan hal itu?"

"Tenang Lukman, kami pasti bisa lakukan hal itu, kau juga harus siap-siap
dengan si Botak untuk mengantisipasi keadaan jika sekiranya kami tidak
berhasil, kalian harus gunakan kekerasan untuk mengancam dia agar mengaku
siapa gerangan dirinya," kata Pandeka Konek.

"Baiklah kakek, sekarang giliran kalian untuk masuk, orang di depan kalian
sudah hampir selesai,"bisik Lukman.
Setelah penduduk terakhir pergi, giliran Malik dan Pandeka Konek masuk ke
ruang pemeriksaan. Malik mempapah pandeka Konek yang seolah-olah sedang
kesakitan berat sekali. Nafasnya memburu dan terengah-engah, muka dan
tubuhnya berwarna kemerahan seperti orang menderita demam, serta keringat
membanjiri wajahnya.
Darma menuntun pandeka Konek untuk duduk di kursi yang telah disediakan
untuk pasien, begitu mereka duduk langsung tabibnya berkata.

"Untuk apa kalian datang ke sini, kalian kan tidak sedang sakit jadi
hentikan kepura-puraan kalian, katakan saja terus terang mau apa kalian
datang ke sini?"

Kaget sekali kedua orang ini tidak mereka sangka ternyata tabib ini bisa
tahu rencana mereka. Malik tidak kehilangan akal, cepat-cepat dia berpikir
dan menjawab pertanyaan dari si tabib,

"Siapa bilang kakekku tidak sakit, tabib tahu dari mana beliau tidak sakit,
jika memang tabib tidak bisa menyembuhkan bilang saja tidak perlu berkata
kakek saya tidak sakit seperti itu."

Tabib itu memandang wajah Malik dengan tenang sekali, mata itu menatap
seakan ingin menjenguk di kedalaman hati mencari sebuah kejujuran di sana .
Malik yang ditatap oleh mata itu merasakan sensasi yang tidak pernah dia
alami sebelumnya, dia merasa ditatap oleh sepasang mata yang dapat membetot
sukmanya keluar dari rongga dadanya. Langsung kedua tangan Malik berkeringat
menahan getaran kekuatiran akibat kebohonganya, sedangkan Pandeka Konek
melihat dari cara menatap tabib itu dia mendapati bahwa tabib ini pasti
berilmu silat tinggi. Dia tidak berani bertindak gegabah karena kuatir malah
bisa merunyamkan masalah ke depannya.


"Maafkan cucuku tabib, mungkin karena dia risau dengan penyakitku sehingga
dia bicara tidak sopan padamu, biarlah aku yang tua ini memintakan maaf
untuknya." Dengan lagak sedang dalam kesakitan.

"Lebih baik kalian berterus terang saja mau apa kalian bertemu dengan aku,
sebelum aku marah dan tidak akan memberikan obat penawar racun yang kalian
sudah hirup di kamar ini."

Terkejut sekali kedua orang ini bahkan Pandeka Konek sampai meloncat berdiri
dari kursinya, keduanya tidak menyangka bahwa tabib ini bisa meracuni orang
tanpa orang tersebut tahu atau sadar apa yang terlah terjadi. Cepat mereka
berdua mengalirkan tenaga dalam mereka di dalam tubuh untuk mengeluarkan
racun yang ada di tubuh mereka. Sebagai ahli silat, ilmu tenaga dalam mereka
sudah sangat bagus, jadi mengeluarkan racun yang ada di tubuh, mereka bisa
melakukannya dengan mudah sekali. Setelah mereka melakukan hal itu mereka
tidak merasa ada racun di tubuh mereka, mereka curiga apa benar mereka telah
terkena racun seperti yang dikatakan tabib itu atau ini hanyalah gertakan
biasa saja.

 

Bersambung....



 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke