RUMAH KACA DIKAKI TANGKUBAN PERAHU
Oleh : K Suheimi
Rumah kaca dikaki Gunung Tangkuban Perahu, ya semua dindingnya dari kaca.
sehingga walaupn kita berdiri di tengah rumah ini, pandangan kita tembus
kemana saja. Pandangan jauh dilayangkan, pangan dekat di tukikkan. maka
sejauh-jauh mata memandang kita saksikan hamparan sesayuran , dan kebun bunga,
sayur jenis apa saja dan bunga yang beranega warna dan rupa terhampar di
lembang ini. Dari balik kaca rumah kaca seperti panggung, kami sebut rumah
panggng dari kaca Rumah ini terletak di kaki gunung tangkuban Perahu. Rumah ini
dikelilingi kaca di sekeliling rumah di lantai dua, sedangkan di lantai dasar
di kelilingi kolam, yang berisi berjenis-jenis ikan, asyik di pandang
sebagaimana asyiknya jika dipancing dan lezat di bakar atau di goreng, di
lantai dasar ini digunakan sebagai tempat pertemuan dan rapat keluarga.
Malam 31 mai kami memasuki pekarangan rumah ini dengan berjalan diantara
celah-celah pohon-pohon jagung yang lebih tinggi dari kami serta
rimbun,Dinginnya malam itu dikaki Gunung Tangkuban perahu menusuk sampai
sumsum tulang, badan mengigil dan gigi gemeletuk. Rasa dingin itu terobat
ketika meyaksikan pemandangan yang aduhai mengagumkan dari lereng bukit
sekitar lembang bermunculan kedipan-kedipan lampu dari rumah penduduk, suasana
kampung yang sunyi dan hening membuat saya berdecah mempesona, sunyi sepi
dalam keheningan menerbitkan inspirasi.Sambil menikmati pandangan berkeliling
lalu kami tertidur, saya bersama isri dan anak cucu. irham, reno najjela dan
mika. Baru tersentak pukul 5 30, sudah terang tertinggal subuhnya, Pagi ini
menyusuri jalan setapak kami pergi memerah susu sapi.
Saya lihat Agus sangat cekatan memerah susu sapi tampaknya mudah, saya coba
pula, memerah susu sapi, tapi Agus sudah seember penuh dapat susu , saya baru
dasar embernya saja yang terisi, padahal sudah dengan bermacam cara saya
kerahkan namun memang tak mudah memerah susu sapi.
Agus 2 kali sehari memerah susu sapi. ini, pagi dan sore. Sebelum susu sapi
itu di perah sapinya di mandikan dan susunya di bersihkan. Makanya pukul 4 pagi
agus sudah bangun. Jam 4.30 sp jam 5 memandikan dan membersihkan sapi dan
kandangnya.
Ada 10 ekor sapi yang di peliharanya ke sepuluhnya orang yang punya, Agus
hanya memelihar, dan hasilnya di bagi 2. Biasanya jam 7 Agus sudah pergi
mencari rumput untuk ke 10 sapinya. Sapi yang memamahbiak itu tak boleh kurang
makannya, bila kurang kurang pula air susunya dan kurang pula pertumbuhannnya
dan kurangpula kemampuan reproduksinya.
Bagi agus tak ada hari minggu dan tak ada hari libur, sebab jika libur, nanti
sapinya mau makan apa. Kesibukan agus dari subuh sampai malam, malam istirahat
sejenak utk subuhnya kerja lagi.
Dalam hati saya berkata kerjanya banyak sepanjang hari tapi rezkinya hanya
sebatas bisa cari makan.
kemudian kami menyaksikan peternakan kelinci dan hamster. Pagi ini ada
kelinci yang beranak 10 ekor, tapi mati 2. Biasanya kata zainuddin si
peternak, kelinci beranak sampai 12. dikandang yang sedikit ditingikan agar
mudah memberi rumput sebagai makanannya, dan sisa rumput yang jatuh di makan
di tanah oleh hamster, jadi rumputnya tak ada yang terbuang. Kelinci
beranak, hamsterpun demikian, Geli kaki saya sewaktu hamster itu ikut
menjilatinya. Kelinci sebelum beranak merontokkan bulunya yang dijadikan
sebagai selimut penghangat bagi anakmya yang akan lahir. Biasanya kata Zai,
bila umur anaknya sudah sebulan dia siap kawin lagi. Kebetulan ada yang anaknya
yang sudah sebulan, lalu Zai memasukan sang induk pada kandang si pejantan,
segera mereka kawin, sekarang tgl 1 Juni, maka nanti tgl 1 Juli akan lahir
anaknya, kata zai menjelaskan.
Asyik memperhatikan kelinci yang berbagai warna dan berbagai jenis ada
yang besar, ada yang berbulu tebal sehingga ngak terlihat lagi matanya. Ada
yang punya telinga tegak dan ad pula yang telinganya terkulai. Ada yang belang.
Saya tatap kelinci putih yang bermata merah, jernih sekali matanya, binatang
yang penurut, cepat berkembang biak, makanannya banyak tak memilih bisa
diberi apa saja. Cucu saya senang sekali dengan kelinci, di kejarnay di
pegangnya dan di main-mainkannya.
Sehabis minum susu segar, kami jalan pagi menglilingi green house, tempat
pak Danutirto menyemaikan bunga. Di tanah seluas 7 ha di tanami dg berbagai
bunga. Green house adalah perumahan dan pembibitan dan pengembangan bunga
modern, semua peralatan yang serba otomatis, dikala suhunya terlampau panas
secara otomatis kelambunya akan mengembang, secara otomati setiap jam air akan
menyirami bunga ini melalui suntikan saya lihat kabel-kabel yang kuat dan
canggih masuk ke setiap akar bunga ini, bunga yang di kitari pupuk organik
dan serbuk-serbuk kayu ini menjadi lahan yg sangat subur, apalagi di ketinggian
dan kedinginan lembang.
Saya menikmati bunga dengan wewangiannya saya menikmati udara sejuk dan
segar dan sudah menikmatiti dan minum susu segar merasakan kehidupan yang
lain yang penuh kedamaian dan kesegaran di lembang ini.Cucu saya mika dan jeje
berkejar-kejaran kemudiian kami mampir di pondok, gubuk yang di buat dari
bambu ditengah kebun sayur disana kami melahap hidangan ala sunda sayur
kemangi dengan ikan asin dan tempe goreng, ada petai bakar dan ikan pepes
serta ayam yang gurih. Selera tak bisa di tahan, program diietpun
berantakan, pokoknya nikmat sekali.
Kalau bukanlah oleh karena tugas ingin kami berlama-lama di lembang ini,
Agaknya inilah tempat peristihatan dan tempat olah raga dan olah jiwa yg
menentramkan.disepnjang jalan di lembng sampai pelosok2 kampung di kaki gunung
Tangkuban Perahu ini kami saksikan banyak orang cina yang sdh tua bangka
melatih kaki dan tangannya dengan berjalan dipinggiran bukit, dan banyak
orang dari bandung berspeda mengayuh, dan sebagian mereka sudah berusia tua,
ingin berbendi bendi naik sado banyak bersileweran pagi itu, ingin naik
kuda juga boleh, mau makan strawberi juga banyak. Maka dengan berat hati
tempat yang demikian indah dan nyaman itu kami tingalakan dengan di
bekali oleh Da yohannes kakak ipar saya pensiunan let kol, diberinya kami
setandan pisang dipetik dari kebun, Pisangnya besar setandan ada yg beratnya
30 kg. Uda Yohannes kalau berceritra soal pisang tak habis-habisnya, Memang
pisang yg terbaik untuk pencenaan, lebih-lebih orang tua,
kerna molekulnya molekul tunggal dan tak perlu diuraikan lagi. pisang bagus
bagi mereka yg mengalami sambelit, pisang kaya dengan bermacam vitamin dan
anti oksidant, maka pisang di pilih di kategorikan pada jenis buah2an yang
jauh lebih bermanfaat di bandingkan dengan buah2an lainnya. Di Luar negeri
pisang di jual dengan harga tinggi. di Australia tempat yg sulit tumbuh
pisang namun dengan segenap daya berusaha juga mereka menamam pisang, kerna
orang mengerti khasiatnya,Ada tempat2 yang rasanya ngak bisa piang tumbuh
tapi dengan ke ilmuan di sulap sehingga ada kebun pisang yang besar2an.
Disini di kampung saya, pisang yang sudah ditebangpun makin banyak anak2nya,
biladi buangpun dia tetap tumbuh. Cuma kata Uda Yuhannes semakin besar lubang
yang di gali dan semakin dalam pisang itu akan semakin baik dan semakin besar
pula batang dan buahnya,
Ah saya mulai berandai2. Bagi banyak putra bangsa ini yg menganggur, jika
setiap hari dia bisa menggali lobang sebuah untuk memanam pisang maka dalam
sebulan dia sudah bisa menamam 30 pohon pisang, dan pisang akan tumbuh dan
berkembang biak dengan sendirinya,, buahnya sangat bermanfaat dan mahal, daun
dan batangnya untuk makanan sapi, atau utk beternak belut. saya kira
pengangguran orang tak bekrja ajak dan bawa ikut serta menanam pisang,
mungkin masalah kemiskinan akan hilang, dalam tempo 3 bulan saja sudah 100
pohon pisang, Dalam penelitian hasil pisang itu perhektar tanah di bandingkan
dengan sawah, maka pisang akan menghsilkan pendapatan 7 sampai 8 kali
dibandingkan jika kita menanam padi,
Dikampung saya banyak tanah kosong melompong, dan banyak tenaga muda yang
hanya duduk di lepau, hampir semua tanah di Indonesia ini bisa di tanami
pisang, yg pada gilirannya bisa di ekspor.dan sebelum pergi kami diberi nasi
bungkus yg di bungkus pakai daun pisang, semua tahu bahwa makan nasi bungkus
yg di bungkus daun pissang , harum dan lezat menerbitkan selera makan
lantas saya teringat akan surat Al Waaqi’ah ayat 27-33: “Dan golongan
kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara
yang tidak berduri. Dan pohon pisang yang bersusun-susun. Dan naungan yang
terbentang luas. Dan air yang tercurah. Dan buah-buahan yang banyak. Yang tidak
berhenti buahnya dan tidak terlarang mengambilnya.”
Dikaki Gunung Tangkuban Perahu 1 Juni 2008
,Tulisan ini dapat dilihat di Website WWW.ksuheimi.blogspot.com
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---