Selasa, 10 Juni 2008 Kapanlagi.com - Peneliti dari Universitas Andalas (Unand) menemukan surau (langgar) yakni "surau Nurul Huda dan Surau Paseban" di Kecamatan Koto Tangah Padang dan "surau Gadang (besar) Ampalu dan surau Gadang Tandikek" di Kabupaten Padang Pariaman, Sumbar, yang menjadi tempat penyimpanan naskah Minangkabau terbesar ke dua di dunia sebanyak 110-an lebih naskah setelah Belanda.
"Berdasarkan katalog-katalog karya Ph. S van Ronkel dari Belanda sejak tahun 1908, 1909, 1912, 1913 dan 1946, surau-surau tersebut secara tertulis dinyatakan telah cukup lama menyimpan naskah-naskah Minangkabau," kata Pramono S.S, Msi, Peneliti dari Unand, di Padang, Senin. Surau merupakan lembaga Islam penting di Minangkabau yang telah menjadi pusat pengajaran Islam. Dalam perkembangannya, surau menjadi tempat suburnya tradisi pernaskahan (tradisi penulisan dan penyalinan naskah) di daerah tersebut. Menurut dia, katalog-katalog lainnya dari Amir Sutarga dan kawan-kawan (1972), serta katalog yang dikumpulkan bersama oleh M.C. Ricklefs dan P Voorhoeve (1977), katalogus yang dikomplikasi oleh E.P. Wierenga (1998), dua katalog yang tampaknya juga didasarkan kepada karya Ph. S van Ronkel, semakin membuktikan posisi Sumbar sebagai nomor dua di dunia penyimpan naskah Minangkabau. "Bahkan berdasarkan katalog-katalog yang memuat naskah Melayu dan Minangkabau yang ada, Zuriati (2003:1) menghitung ada 371 naskah Minangkabau yang berada di luar Sumatera Barat, dan luar negeri," katanya. Ia menyebutkan, sebagian besar di antaranya kini yang berada di luar negeri dengan rincian 261 naskah berada di negeri Belanda, 102 naskah di Inggris, 19 naskah di Jerman Barat, dan 1 naskah berada di Malaysia. Selebihnya 78 naskah, berada di Indonesia, yaitu di Perpustakaan Nasional Jakarta. Ia menjelaskan, karena tradisi pernaskahan di Minangkabau masih berlangsung hingga sekarang, maka dipastikan jumlah naskah yang disebutkan di atas akan dapat bertambah. Kondisi seperti ini memperlihatkan bahwa, sebagai suku bangsa yang terkenal dengan tradisi lisannya yang sangat kental, Minangkabau memiliki tradisi pernaskahan yang cukup maju, ini terjadi melalui keberadaan dan peran surau. Apalagi tradisi penulisan naskah-naskah keagamaan yang telah berumur ratusan tahun tersebut tetap berlangsung. "Kondisi ini tentu saja berbeda dengan fenomena di wilayah lain, di mana tradisi penulisan naskah tidak lagi berkembang," katanya . Dengan demikian, katanya lagi, keberadaan naskah-naskah di Minangkabau sebagai hasil dari tradisi pernaskahan, merupakan khasanah budaya yang penting dikaji, pertama, adalah tradisi pernaskahan di Minangkabau merupakan satu kegiatan intelektual dalam masyarakat tradisional (local genius). Kedua, sebagai satu produk budaya, naskah-naskah Minangkabau merupakan gambaran berbagai bentuk ungkapan masyarakat, dengan bahasanya masing-masing. "Pada konteks ini umumnya, artikulasi satu masyarakat bahasa, dan masa tertentu akan berbeda dengan artikulasi masyarakat bahasa, dan masa lainnya, kendati pada mulanya mereka membaca teks yang sama, sehingga dengan demikian muncul dinamika yang sedemikian unik," katanya. Peneliti dengan nominasi penyaji presentasi terbaik untuk kelompok pendidikan dan budaya --digelar Unand-- dalam seminar hasil penelitian dosen muda dan studi kajian wanita untuk tingkat wilayah I (NAD, Sumatera Utara, Riau, Riau Kepulauan dan Sumatera Barat) 2008, itu lebih jauh, juga mengkaitkan naskah-naskah Minangkabau dengan Islam. Dari naskah-naskah Minangkabau itu, kata Dosen dari Fakultas Sastra Unand itu, akan memberikan data yang sangat kaya mengenai dinamika Islam di daerah tersebut. Selain itu, surau-surau di Padang dan Padang Pariaman, dipilih sebagai latar studi karena, memiliki koleksi naskah yang cukup banyak dibandingkan dengan surau-surau lainnya di wilayah Minangkabau. Hal ini mengindikasikan bahwa pada surau-surau di kedua daerah itu pernah berlangsung dinamika tradisi pernaskahan yang signifikan. Surau di Padang dan Padang Pariaman, hingga kini, tradisi pernaskahan (penyalinan dan penulisan naskah) dalam bahasa Melayu Minangkabau dengan menggunakan aksara Jawi (Arab Melayu) di kedua daerah itu masih berlangsung. Sebagai sebuah tradisi yang berlangsung cukup lama, tidak mengherankan jika tradisi pernaskahan di Minangkabau itu telah meninggalkan artefak budaya berupa naskah kuno (manuscript) dengan jumlah yang cukup banyak. Naskah-naskah tulisan tangan (manuscript) tersebut mengandung teks tertulis mengenai berbagai pemikiran, pengetahuan, keislaman, sastra, pengobatan, serta perilaku masyarakat masa lalu. Naskah-naskah tersebut tersimpan di beberapa surau dengan kondisi yang beragam, dari kondisi naskah yang cukup baik (naskah dapat dibaca) hingga naskah dalam kondisi rusak, dengan kerusakan yang cukup parah (naskah tidak bisa dibaca lagi, hancur). Dalam kaitannya dengan surau, peneliti melakukan wawancara kepada beberapa orang yang dipercaya untuk saksi melihat bulan dalam penentuan awal Ramadan di Koto Tangah, Padang seperti, Sawir (60 tahun), Jaelani (62 tahun), dan Zul (55 tahun). Mereka menyatakan bahwa untuk menentukan awal Ramadan selama ini mereka merujuk pada naskah Kitab al-Takwim (Menerangkan Masalah Bilangan Takwim dan Puasa). Dipilihnya mereka menjadi saksi dalam penentuan awal Ramadan juga didasarkan syarat-syarat yang disebutkan dalam naskah itu, yakni seorang laki-laki yang adil, yaitu laki-laki yang shaleh lagi berakhlak dan tidak pembohong (Amin, 1986: 58). (*/ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
