As. W.W.
Sebuah tulisan liputan mengenai pasambahan, dari Uni Hifni Hfd. di
www.cimbuak.net atau http://www.cimbuak.net/content/view/1274/5/

Wassalam,
Erwin Moechtar, 48
urang dapua www.cimbuak.net


Untuk mencari jawaban atas pertanyaan dari orang non minang  * Apa
urgensinya "Acara Pasambahan"* yang *"Sembah Menyembah"* bagi kelangsungan
adat dan budaya minang serta bagi orang minangnya sendiri? yang dilontarkan
oleh *de-alfiand* – seorang anggota cimbuak <javascript:void(0)> pada Forum
Cimbuak,net, maka masuklah aku untuk duduk bersama anak saparanataun lainnya
di ruang chatting, pada tanggal 7 Juni 2008 yang lalu. Ketika jam
menunjukkan pukul 21.00 weib, Ride-pides mengingatkanku : *"Uni.. jadi ikut
pasambahan,, ndak? Uni pindah ke pasamabahan room,* demikian sapanya.
Aku bingung, karena gagap teknologi. Kucoba kontak Pak erwin dan dari beliau
menunjukkan cara masuk ke add roomnya. Sedikit kesalahan teknis akhirnya
dengan tekun aku menyimak semua penuturan yang ada pada malam itu.

Mulailah sang penerima alek bertutur kata secara melodius diruang itu.
Bahasa itu sangat tidak lazim lagi kita dengar dalam perkataan sehari-hari,
... Manolah...tuanku....atau Manitahlah ..... Mataku tertuju kepada kalimat
yang dituturkan sang juru bicara. Sangat sulit memahami. Pasambahan itu.

*"apakah topik pada malam ini...??* tanyaku padak Pak Erwin.

Pak Erwin kasih info : *" uni.. thema pasambahan dalam rangka manjapuik
marahpulai." *
Seketika itu aku berkhayal. "Siapa yang jadi marapulai
<javascript:void(0)>pak win, "

*" Si sitti saja uni..., *katanya sambil tertawa.  Kebetulan malam itu ada
Putrajaya mengikuti pasambahan.

Kemudian aku bergurau pada PJ : *" Sitti, pada malam ini.. Sitti yang jadi
anak daro ya....*

*" Sitti ndak ngerti bunda...???,* demikian Sitti menjawab.

Ya.. tentu saja Sitti tidak mengerti. Kita saja nan <javascript:void(0)>
alah <javascript:void(0)> gadang dirantau, lambat sekali memahami
kalimat-kalimat percakapan antara Rides-pides sebagai si pangka Bandaro
sebagai " alek"
*
" Siapa yang jadi marahpulai .. Pak win..??*
*
" Antahlah ni… kito caliek se… dulu…..*

Aku mencari tahu, siapa si pangka siapa si Alek. ..? ternyata groupnya
adalah : Z-piliang, Bandaro, Ktm (yang datang terlambat), Paduka yang
kemudian tidak muncul lagi. sebagai si Alek. Sedangkan Rides-pides, Erwin,
dan Panji sebagai si pangka.

Terdengar bunyi saluang mengiringi penuturan demi penuturan kata yang tengah
berlangsung. Berjawab kata dan kata berjawab terjadi secara berturutan. Aku
mencatat semua percakapan dimalam itu. Aku memberikan apresiasi langsung
pada Rides-pides. Tentu ia dibantu oleh teman-temannya. Perkataan yang
muncul sangat lambat.
Aku menduga : " pasti yang bertutur kata masing-masing mencari
kamus<javascript:void(0)>.
... Bukankah dialam maya ini kita masing-masing duduk di PC masing-masing
atau komputer jinjingnya. Jadi, tidak mungkin komunikasi berjalan cepat
karena percakapan sebelum di keluarkan sudah pasti menggunakan " kolom
private message dulu.

Aku berkata pada pak Erwin : "* wah hebat nih yang menjadi sipangka dan si
alek. Suatu saat ini, jika acara ini dilestarikan sebagai budaya minang,
para penutur itu akan menjadi terampi. Ia dapat menjadi MC acara adat. Ini
profesi yang dapat dirintis bak " presenter suatu acara".*

Bagiku peristiwa dimalam itu, memiliki kenikmatan budaya yang hanya bisa
dirasakan bagi orang yang membutuhkan.  Bagi yang sudah luntur apresiasi
terhadap budaya Minang, berjam – jam mengikuti percakapan itu, sudah pasti
sangat membosankan. Padahal sesungguhnya, ketika kita membandingkan acara
pasambahan dengan pementasan " wayang orang, wayang kulit, wayang golek,
semalam suntuk  pada budaya Jawa, bagi kita yang non jawa, hal itu
menimbulkan suatu ke misteriusan dan ke anehan. Sebegitunyakah tokoh Shinta
dan Arjuna merasuk ke sanubari etnis ini, sehingga tokoh pada kisah Ramayana
– itu seakan-akan benar-benar ada. Begitu pula dengan empat sekawan ;
Semar,  Petruk, Gareng, Bagong.

Padahal itu semua " ….. dunia khayal.." demikain kata Ivan Gunawan, Ruben
dan Eko Patrio pada Acara Soulmate Indosiar.

" hebat… hebat…, yang duduk malam ini, bisa mengalahkan dan mengalihkan
perhatiannya pada pertandingan bola " Piala Eropa", antara Portugal vs
Turkey, Swiss vs Cheko.
*
"Pak win…. Acara makan-makannya kapan…..????* ketika itu jam sudah
menunjukkan sebelas malam lewat. Juga…, Acara pasambahan ini kapan
berakhirnya…???

Akhirnya menjelang jam menunjukkan hampir pukul 00.00 wib, Rides
berkata. "*Acaranya  hampir selesai Uni..",.
*

*" Wah kalau begitu … Uni tampil menghidangkan nasi Rides…???*

*" Jangan Uni….jika pada acara pasambahan, bundo kandung tidak boleh tampil
ka tangah. Yang boleh hanya mamak – mamak… saja.*

" Ooooh…., aku manggut-manggut sambil memahami, apa yang disampaikan oleh
Rides-pides ini.

Bahwa sesungguhnya, peran seorang Bundokanduang yang memiliki kesejajaran
dalam adat dan budaya minang kabau <javascript:void(0)>, namun ia tetap
memiliki rambu-rambu dalam adat dan budayanya. Artinya, dalam hubungan
internal seperti ; penguasa rumah gadang, harta pusaka serta system
kekerabatan, bundokanduang memilik peran dominan, namun dalam hubungan
eksternal bundokanduang tetaplah sebagai pihak yang berada dibelakang para
ninik mamak/penghulu kaum. Sebagai padusi minang bertambah pula
pengetahuanku dimalam ini.

Tepat pada jam 00.00, acarapun selesai. Peserta acara bersuara* " marilah
sanak kita menyantap makanan yang telah dihidangkan Uni hifni…??* Wah
lagi-lagi… dunia khayal…

Akhirnya aku pamit untuk undur diri dengan berkata ; *" ka solok lai…..,
lado lah batampuak –  lalok <javascript:void(0)> lai…. Mato lah
mangantuak…..*

Akhirul kalam, apa yang kuceritakan kisah pasambahan ini, tidak lain ingin
menunjukkan bahwa setiap produk budaya merupakah kebutuhan jiwa bagi etnis
suatu bangsa. Kita tidak bisa menggunakan kata tanya " kenapa….??
Kenapa…???. Karena asal usul suatu budaya berawal dari suatu proses, antara
ļain,

i.         Cara, yaitu ; menunjuk pada suatu perbuatan yang dilakukan antar
individu dalam masyarakat,

ii.       Kebiasaan ; perbuatan yang dilakukan ber-ulang-ulang dalam bentuk
yang sama dan mempunyai kekuatan lebih dari cara. Kebiasaan diterima sebagai
norma pengatur.

iii.      Tata kelakuan ; yaitu perbuatan yang dianjurkan untuk dilakukan,
akan tetapi dilain pihak melarangnya. Tata kelakuan berfungsi sebagai
pemberi batasan pada kelakuan individu, mengidentifikasi individu dengan
kelompoknya, juga sebagai upaya menjaga solidaritas antara anggota
masyarakatnya.

Apa manfaatnya bagi masyarakat minang..???? Apa urgensinya….??? Sangat
abstrak jawabnya, karena  merupakan kebutuhan rohani manusia.


Demikian.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke