Yah, tulisan yang baik untuk dikenang, tetapi keterangan tiga paragraf
di bawah ini mungkin meragukan pembaca awam yang tidak banyak mengamati
penggal-penggal waktu sejarah. Kemungkinan orang akan keliru antara
Perang Kamang 1908 dengan Perang Paderi/Pelakat Panjang yang disinggung
dan dirangkaikan sedikit dalam paragraf ke dua dan ketiga di bawah.

Juga mengenai Tuangku Nan Tuo disebutan dari Cangkiang, datanya perlu
diakurasikan. Tuangku Nan Tuo seorang Tokoh Guru/Ulama  di masa
menjelang Perang Hitam Putiah adalah dari Koto Tuo Ampek Angkek, bukan
dari Cangkiang (juga di Ampek Angkek). Kuburan Tuanku Nan Tuo masih ada
di "Tampat" di belakang Koto Tabek Laweh di Koto Tuo yang saya sering
saya kunjungi dan mampir kalau saya lalu ke sana.

Salam,

-- Sjamsir Sjarif

> Lalu kenapa Kamang?
> Mengutip catatan Ketua Bamus Nagari Kamang Ilia dan Sekretaris Panitia
> Peringatan Seabad Perang Kamang 1908, Muhammad Razi,SE., jelas bahwa
Kamang
> adalah nagari yang maju. Nagari ini terletak bujuran Bukit Barisan.
Nagari
> dengan Kelarasan Koto Piliang ini, dicerminkan sebagai sebuah nagari
dengan
> yang mobilitasnya cukup tinggi.
>
> Perang Kamang itu melibatkan semua tokoh tali tigo sapilin, Angku
Lareh A
> Wahid Kari Mudo dan M Saleh Dt Rajo Penghulu, H Abdul Manan. Di Kamang
> memang ada satu lareh yang berkedudukan di Jalan Basimpang Jorong
Pintu
> Koto. Masih menurut Muhammad Razi, nama Kamang mulai dicatat menyusul
> pemurnian agama di Minangkabau. Gerakan ini, katanya, dipimpin Tuaku
Nan Tuo
> dari Cangkiang, IV Angkek yang kemudian menjadi gerakan Pidari setelah
> Tuanku Nan Renceh mendapat kawan sepaham yakni Haji Miskin dan Haji
Piobang.
> Kamang, dicatat juga sebagai benteng yang kuat. Bahkan di sana aga goa
> Perang Pidari yang bebatuannya tempo hari banyak diambil orang.
>
> Pada 25 Oktober 1833 lahirlah ayang yang dikenal sebagai Plakat
Panjang,
> sebuah plakat yang menjerat Minangkabau kemudian hari. Masih sesuai
catatan
> Muhamamd Razi, pungutan pajak yang hendak diterapkan itu nyaris
diamini oleh
> laras-laras lainnya. Tapi Laras Kamang, Garang Dt Palindih
menantangnya.
> Dalam rapat para laras dengan  Westenek 11 Maret 1908 di
Bukittinggi,
> sikapnya itu terlihat jelas.

--- In [EMAIL PROTECTED], Lies Suryadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Takana carito basambuang di Haluan saisuak: HURU-HARA DI NGALAU
KAMANG..
>
>
>
> ----- Pesan Asli ----
> Dari: Nofend St. Mudo Marola [EMAIL PROTECTED]
> Kepada: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
> Terkirim: Kamis, 12 Juni, 2008 13:07:33
> Topik: [EMAIL PROTECTED] Seabad Perang Kamang
>
>
> Rabu, 11 Juni 2008
> Â Â Â
> Catatan Khairul Jasmi di Singgalang OnLine
>
> Sudahlah garak takdir Tuhan
> Kepado Beliau Haji Abdul Manan
> Kepalo Parang urang namokan
> Ajalpun sampai sudahlah bayan
> (dikutip dari Nazam Perang Kamang; H.Achmad Marzuki)
>
> Kamang, dinihari 15 Juni 1908: Langit temaram, sinar rembulan
berkabut.
> Ribuan orang berpakaian putih sedang menggelegak darahnya. Seorang
haji
> bernama Haji Abdul Manan, menjadi pemimpin di antara mereka.
Sayup-sayup
> terdengar orang ratib, sayup pula bunyi kentongan dan tabuh terdengar.
> Negeri akan perang. Anak-anak menyuruk di kamar mandehnya. Istri
melepas
> suami di pintu kamar, takut melepaskan genggaman. Junjungan badan diri
akan
> mengadu nasib membela negeri yang merasai
>
> dihina penjajah. Malam itu hingga subuh, ratusan nagari lain di
Minangkabau
> sedang tidur. Tapi Kamang, negeri bertuah itu, bangun dengan darah
> menggelegak. Kelawang tajam buatan Sungai Puar dipesang satu-satu.
"Kalau
> tak dia, saya yang mati!"
>
> Inilah perang syahid, langkah pertama dengan Bismillah, diikuti ucapan
> Allahuakbar! Dimana di Minangkabau ini rakyat mau berperang melawan
Belanda?
> Tak banyak benar. Ada di Pasaman dengan Tuanku Imam Bonjol dan
tuanku-tuanku
> lainnya yang terkenal itu. Mandeh Sitti Manggopoh di Manggopoh,
seorang
> perempuan, tapi bagaknya Allahurobbi, tak tertandingi oleh wanita
> Minangkabau manapun hingga detik ini! Lalu di Kamang. Dan Kamang
menyerahkan
> putra-putra terbaiknya malam hingga subuh itu. Sebanyak 250 orang
tewas
> bersimbah darah. "Dirikan di sini tugu tetesan Perang Kamang!", tukas
> Jenderal AH Nasution saat berkunjung ke Kamang beberapa tahun silam.
>
> Tiap nagari punya episode yang bisa dibanggakannya. Tapi episode
Kamang
> menjadi kebangaan Ranah Minang. Orang-orang Kamang dan sekitarnya,
terutama
> di Agam Tuo menantang dengan keras penindasan melalui pajak yang
diterapkan
> penjajah Belanda.
>
> Pajak
> Di Bukittinggi pada 1 Maret 1908 diumumkanlah pemberlakuan pajak untuk
> rakyat. Pajak pula yang mau dipungutnya oleh Belanda-belanda itu,
padahal
> hidup sedang marasai. Tak suka rakyat. Ini, himpit berhimpit, sudahlah
awak
> dijajahnya, dikutipnya pula.
>
> Controlir Westenenk, kemudian mengeluarkan perintah untuk mendata
ulang
> kekayaan penduduk tertanggal 21 Maret 1908. Perangai meingkek-ingek
Belanda
> ini disambut protes dan tantangan hebat dari seluruh rakyat
Minangkabau.
> Rakyat bergejolak. Di mana-mana suasana panas. Padahal sebelumnya
telah
> diterapkan kultur stelsel, paksaan menanam kopi. Kalau tak salah, 14
Juni
> 1908 adalah Hari Jumat. Rapat-rapat dan pembicaraan sudah berlangsung
sejak
> awal 1908, makin memanas pada bulan-bulan sesudahnya. Hari-hari
menjelang 15
> Juni, adalah hari yang gelisah.
>
> Lalu kenapa Kamang?
> Mengutip catatan Ketua Bamus Nagari Kamang Ilia dan Sekretaris Panitia
> Peringatan Seabad Perang Kamang 1908, Muhammad Razi,SE., jelas bahwa
Kamang
> adalah nagari yang maju. Nagari ini terletak bujuran Bukit Barisan.
Nagari
> dengan Kelarasan Koto Piliang ini, dicerminkan sebagai sebuah nagari
dengan
> yang mobilitasnya cukup tinggi.
>
> Perang Kamang itu melibatkan semua tokoh tali tigo sapilin, Angku
Lareh A
> Wahid Kari Mudo dan M Saleh Dt Rajo Penghulu, H Abdul Manan. Di Kamang
> memang ada satu lareh yang berkedudukan di Jalan Basimpang Jorong
Pintu
> Koto. Masih menurut Muhammad Razi, nama Kamang mulai dicatat menyusul
> pemurnian agama di Minangkabau. Gerakan ini, katanya, dipimpin Tuaku
Nan Tuo
> dari Cangkiang, IV Angkek yang kemudian menjadi gerakan Pidari setelah
> Tuanku Nan Renceh mendapat kawan sepaham yakni Haji Miskin dan Haji
Piobang.
> Kamang, dicatat juga sebagai benteng yang kuat. Bahkan di sana aga goa
> Perang Pidari yang bebatuannya tempo hari banyak diambil orang.
>
> Pada 25 Oktober 1833 lahirlah ayang yang dikenal sebagai Plakat
Panjang,
> sebuah plakat yang menjerat Minangkabau kemudian hari. Masih sesuai
catatan
> Muhamamd Razi, pungutan pajak yang hendak diterapkan itu nyaris
diamini oleh
> laras-laras lainnya. Tapi Laras Kamang, Garang Dt Palindih
menantangnya.
> Dalam rapat para laras dengan  Westenek 11 Maret 1908 di
Bukittinggi,
> sikapnya itu terlihat jelas.
>
> Buntu, Belanda ingin memaksakan kehendaknya. Maka  Datuk Garang
kita ini
> bangkit keperpihakannya kepada rakyat. Ia bersama A.Wahid Kari Mudo,
> H.Jamik. M Saleh Dt Rajo Penghulu serta tokoh masyarakat lainnya
> mempersiapkan diri guna menghadapi kemungkinan terburuk. D Kamang
Mudiak
> Haji Abdul Manan, ulama hebat itu, telah mengambil sikap serupa pula.
Tak
> mau dia rakyat dibebani lagi. Abdul Manan punya banyak pengikut yang
setia.
> Catatan sejarah lainnya menunjukkan, rumah Haji Abdul Manan dikepung
oleh
> Belanda.
>
> Pasukan Belanda dalam laporannya: Kemudian kami terus ke Kampung
Tangah dan
> di sana kami mengelilingi rumah kedua Haji Abdul Manan. Kedengaran
ribut
> ribut dalam rumah, lalu istri haji itu menjerit keras keras secara
> mencurigakan. Begitu keras supaya didengar seluruh kampung. Semua kata
kata
> saya tidak berhasil "biar tuan kumandur, saya tidak akan buka pintu."
>
> Ulama ini akhirnya tertembak, sebagaimana laporan tulisan tangan
pimpinan
> pasukan Belanda pada atasannya. Dalam buku Rusli Aram tertulis: Pihak
kita 9
> mati, 13 luka luka. Di pihak rakyat 90 mati. Tentara sangat letih
karena
> aksi selama 12 jam, 4 brigade marsuse dikirim dari Padang Panjang ke
> Bukittinggi.
>
> Perang basosoh
> Perang basosoh dilukiskan oleh Belanda sebagai sebuah perang yang
hebat.
> Orang-orang Kamang dilukiskan hadi siap mati dengan senjata tajam dan
jimat.
> tapi yang dilawan adalah Belanda dengan senjata mutakhir. Tentu saja
tak
> berimbang. Tapi semagat membela tanah air orang Kamang ketika itu, tak
> tertandingi, sekalipun oleh orang Kamang zaman sekarang.
>
> Serangan terhadap Kamang dilakukan melalui tiga jurusan yaitu via Pauh
> Kamang Mudiak, lewat Pulai Magek dan igo Lurah Magek. Pertempiran
> berlangsung 10 ronde, ronde kesepuluh hanya satu orang yang gagah
berani
> maju. Pertempuran paling sengit terjadi pada ronde kedelapan. Banyak
pemuda
> berpakaian putih membentuk kelompok-kelompok maju menghadang, di
belakangnya
> ratusan pemuda lain melingkar dan berputar berkeliling. Catatan Rusli
Amran
> menyebutkan, pertempuran berakhir sekitar pukul 04.15 pagi, tatkala
ayam
> kinantan hendak berkokok. Pertempiran paling sengit itu sekitar pukul
3.30
> WIB. Kamang Tangah, pukukl 02.00 pagi. Pimpinan tentara Belanda L.C.
> Westenenk menderap sepatu lars nya di Kampung Tangah. Sayup terdengar
bunyi
> ratib. "Laillah Hailallah...."
>
> Menurut catatan Buchari Nurdin, akhirnya sekitar pukul 02.30 dinihari,
tanah
> Kamang berubah menjadi front pertempuran hebat, antara pasukan Belanda
> dengan pasukan rakyat. Rakyat dipimpin antara lain oleh H Abdul Manan,
yang
> sebelumnya, telah bersiap-siap menghadang kedatangan pasukan Belanda.
> Sejumlah tokoh pejuang lainnya, yang juga telah siap dengan pasukan
mereka
> masing-masing. Seperti Dt Rajo Penghulu bersama istrinya, Siti
Aisiyah, Haji
> Jabang, Pado Intan, Tuanku Parit, Tuanku Pincuran, Dt Marajo Tapi, Dt
Marajo
> Kalung, Dt Perpatih Pauh, Sutan Bandaro Kaliru. Begitu juga pasukan
rakyat
> yang berada di Kamang Ilia. Dengan dipimpin Kari Mudo, Dt Perpatiah
>
> Magek, Dt Majo Indo di Koto Tangah, Dt Simajo Nan Gamuk berusaha bahu
> membahu melawan pasukan Belanda. Pertempuran sengit berakhir sudah.
Pasukan
> Westenenk mundur menuju Pauh sembari membawa tawanan Dt Perpatih.
Subuh yang
> berembun, bersimbah darah. Darah anak nagari Kamang, belum berhenti
menetes,
> tatkala fajar menyingsing, tatkala beduk subuh ditabuh, tatkala azan
> dikumandangkan subuh itu.
>
> Pertempuran itu sendiri, menyebabkan berjatuhannya korban di kedua
belah
> pihak, baik di pihak rakyat maupun pasukan Belanda. Angka korban
> simpangsiur. Koran-koran yang terbit di Padang menyebut angka 250
orang
> rakyat Kamang tewas, belanda sendiri menyebut sekitar 90 orang atau
lebih.
> Mereka yang kemudian ditangkap misalnya pada 19 Juni Lareh Garang Dt
> Palindih dan kemenakannya Dt Siri Marajo, Penghulu Kepal Tanhag dan A.
Wahud
> Kari Mudo, ditahan di Bukittinggi. ada 21 Juni, Kari dipindah ke
Padang,
> disusul mamaknya dan meringkuk di penjara selama 10 bulan. Bahkan
> dipindahkan pula ke Batavia. Tahun 1910, Dt Siri wafat di penjara. Tak
lama
> kemudian Dt Garang dibebaskan. Ia pulang ke Kamang.
>
> Pejuang itu pula, ia kemudian meminta jasa Inyiak Djambek. Ulama
kharismatik
> ini mengadakan pengajian-pengajian di Kamang guna menolong rakyat yang
terus
> ketakutan. "Perang Kamang bukanlah peristiwa satu malam saja," tulis
Muhamad
> Razi. Satu malam saja orang Kamang bergerak, sampai kini sejarahnya
terus
> dibaca orang, apalagi kalau bermalam-malam lamanya, berbulan-bulan.
Untuk
> Tanah Air tercinta, tak perlu semalam atau berbulan-bulan, sehari saja
> cukup. Sejarah penting seringkali muncul dari daerah. *



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke