Ditambah lagi mereka semua menggunakan baju dan penutup wajah berwarna hitam
sehingga susah sekali untuk mengetahui pimpinan mereka. Lawan tidak bisa
melihat wajah mereka sehingga mereka dengan leluasa bisa bergerak tanpa
kuatir sang pemimpin akan diredam gerakannya. Pandeka Konek yang melihat
keadaan ini langsung mengetahui satu-satunya cara adalah menggempur barisan
ini dari belakang, jadi menyerang mereka dari dua sisi depan dan belakang.
Dia langsung menyerang sisi belakang barisan yang sedang sibuk menggempur
Darman dan teman-teman yang lain. Dan ternyata Pandeka Konek kecele dengan
dugaannya, barisan ini benar-benar barisan yang tangguh dan hebat sekali,
memang mereka dilatih untuk menghadapi saat harus bertempur menyerang kubu
Rangkayo Jati yang dikawal oleh banyak orang-orang berilmu tinggi, jadi
satu-satunya cara adalah membuat sebuah barisan yang bisa meredam kekuatan
pengawal keluarga itu. Begitu tahu mereka diserang dari belakang, mereka
langsung merubah gaya serangan tadinya mereka menggunakan ilmu Barisan Merak
Hitam, sekarang mereka menggunakan ilmu Barisan Merak Hitam Kembar jadi
seperti dua orang anak kembar mereka bisa saling bergantian menutupi kanan
kiri mengisi kelemahan posisi teman-teman mereka.

Sungguh pemandangan luar biasa, 25 orang bertempur menekan 2 orang pesilat
dengan ilmu kelas satu dibantu dengan 14 orang lainnya tanpa mereka sendiri
mengalami kesulitan bahkan pihak yang digempur harus berhati-hati beradu
tangan dengan mereka karena seluruh tubuh 25 orang ini berlumuran racun yang
mematikan. Yang paling parah keadaannya adalah Merak Pohon karena dikeroyok
oleh Malik dan Pandeka Tangan Siluman, mereka berdua ingin cepat-cepat
menyudahi pertempuran karena mau membantu kelompok Darman yang beberapa
orang diantaranya sudah sangat kepayahan akibat racun yang masuk ke tubuh
mereka.

Merak Pohon menyadari keadaannya yang berbahaya itu tapi dia tidak mau
menyerah kalah, dia mengeluarkan senjata andalannya pisau terbang Merak
Hitam, di tangannya pisau ini bergerak seakan terbang mencari mangsanya.
Begitu dia mengeluarkan 2 pisau dari dalam bajunya, segera tercium bau amis
yang sangat menyengat hidung, Malik dan Pandeka Tangan Siluman mengetahui
bahwa senjata ini dilumuri dengan racun yang sangat berbahaya sekali, mereka
harus berhati-hati agar tidak tergores pisau belati beracun itu.

Sedangkan keadaan Lukman sudah di atas angin, Merak Rawa sudah mulai susah
menahan gerakan Lukman, terpaksa dia mengeluarkan juga senjata andalannya
sabuk yang terbuat dari bulu-bulu merak yang sudah direndam dengan obat-obat
dan racun ganas supaya bisa menjadi senjata. Melihat hal ini Lukman tidak
mau kalah mengeluarkan senjatanya yaitu pedang Walet Perak, pedang ini
warisan dari gurunya, khusus dibuat dari perak murni yang mempunyai kadar
murninya sangat tinggi hampir mencapai 100% dan dicampur dengan baja putih
yang jarang sekali ditemukan jadi dapat dibayangkan kehebatannya. Pedang ini
sangatlah tajam sekali dan belum ada yang bisa menghancurkannya, pedang yang
bisa mengimbangi ketenarannya adalah pedang Batu Angin milik Orang Gaek
Indak Banamo (Orang tua tidak bernama) dan pedang Gadang Barek (Besar berat)
pusaka perguruan Jawi Putiah (sapi putih). Konon kabarnya pedang ini hanya
bisa dihancurkan oleh pedang pusaka Naga Hijau yang dipegang oleh raja
Adtyawarman dan Pedang legenda Damar Pelangi yang konon tidak jelas
keberadaannya.

Benar-benar pertempuran tingkat tinggi, Lukman mengerahkan ilmu pedang Walet
Peraknya untuk menandingi Sabuk Merak Hitam milik Merak Rawa. Pedang di
tangan Lukman bergerak-gerak cepat sekali seperti burung walet
menyambar-nyambar ke segala arah tubuh Merak Rawa, sedangkan sabuk Merak
Rawa tidak mau ketinggalan bergerak mengimbangi kekuatan pedang Walet Perak.
Merak Rawa selalu berusaha menjaga jarak jangkauan sabuknya yang panjang
itu, sedangkan Lukman lebih menyukai pertempuran jarak pendek. Untuk
mengatasi hal ini keduanya berusaha menggunakan cara apapun untuk saling
mengalahkan. Melihat hal ini Lukman merubah strategi permainan silatnya,
mulai dia menggunakan pedangnya untuk memapas sabuk tersebut, dari beberapa
kali benturan, pedang itu berhasil memotong sabuk itu hampir sepertiga
panjangnya. Merak Rawa mulai merasa gelagat tidak baik berpihak pada dia dan
rombongannya, sambil terus memainkan sabuknya sempat dia melirik ke arah dua
pertempuran lainnya.

Dia melihat adik seperguruannya sedang terdesak hebat dikeroyok 2 orang
tinggal tunggu saatnya saja untuk binasa, sedangkan barisan Merak Hitamnya
sedang diobrak abrik oleh 7 orang dengan tingkat kepandaian yang lebih
tinggi dari musuh sebelumnya, walaupun belum terlihat mereka bakalan kalah.
Dan terlihat di sudut kanan lapangan 8 orang lawan awal dari barisan Merak
Hitam sedang bersila memulihkan kondisi mereka yang sudah terluka dan
keracunan. Hal ini sangat tidak menguntungkan sekali bagi pihaknya, dia
harus segera menyingkir dari sini. Mulailah akal liciknya bekerja,
perlahan-lahan dia menggeser pertempurannya mendekati saudaranya, dan
menggunakan ilmu bicara jarak jauh dia menyuruh saudaranya mulai bergeser ke
arah barisan merak hitam serta dia juga menyuruh pimpinan barisan menyiapkan
anak buahnya semua untuk kabur dari gelanggang dengan menggunakan bom racun
buatan mereka.

Duuuuaaarrrrr, terdengar ledakan keras sekali dari tengah pertempuran dari
barisan Merak Hitam, ternyata salah satu dari anggota barisan menjatuhkan
bom untuk mengalihkan perhatian Malik dan Pandeka Tangan Siluman yang telah
mendesak Merak Pohon yang sudah terluka. Ketika semua orang dikagetkan
dengan bunyi ledakan itu, Merak Rawa mengambil kesempatan itu lari menuju ke
saudaranya dan menangkap tangannya untuk dibawa berlari dengan cepat sekali.
Semua orang selain dari perguruan Merak Hitam buru-buru menjauhi asap
beracun yang menyelimuti arena pertempuran, cepat mereka menarik saudara
mereka yang terluka agar tidak terhirup asap itu. Terdengar ledakan kedua,
dan asap semakin tebal mengitari arena, tambah jauh rombongan Lukman dan
Darman berlari meninggalkan tempat itu.

Setelah mereka cukup jauh dari arena pertempuran barulah mereka berhenti
berlari, sambil meletakkan saudara-saudara mereka yang terluka di tanah.
Mereka melupakan kuda-kuda mereka yang tertambat di dekat pertempuran tadi,
karena mereka hanya memikirkan menyelamatkan diri dan teman-teman dari
bahaya keracunan akibat bom asap tersebut.

"Kurang ajar, memang bangsat licik, coba mereka tidak main bom asap itu,
tidak nanti mereka bisa meloloskan diri." Sumpah serapah Pandeka Konek.

"Sudahlah kakek, sekarang yang penting kita obati dulu teman-teman kita"
sahut Darman sambil membagi-bagikan obat yang telah dia terima dari orang
misterius tadi.


Bersambung....




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke