Para sanak sekalian,

Saya percaya keindahan daerah Solok Selatan dari kisah-kisah para sanak yang 
pernah ke daerah itu serta dari foto-foto yang ditayangkan dalam 
WestSumatra.com. Saya ingin sekali mengunjungi daerah tersebut.

Bagaimana kalau pengurus MAPPAS Sumbar bersama PHRI dan ASITA serta jajaran 
kabupaten Solok Selatan menyelenggarakan acara wisata urang rantau ke Solok 
Selatan, bukan hanya untuk menimmati keindahan alam tetapi juga untuk 
meresapkan sejarah daerah itu ? Bagaimana Unidjan ?

Wassalam,
Saafroedin Bahar  (L, 71 th, kini sedang di San Ramon, California, USA)


--- On Thu, 6/19/08, Nofend St. Mudo Marola <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Nofend St. Mudo Marola <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Pesona Perkampungan "Seribu Rumah Gadang"
To: [EMAIL PROTECTED], [email protected]
Date: Thursday, June 19, 2008, 9:30 PM



 
Ingin tahu perkampungan Minangkabau tempo dulu? 
Berkunjung saja ke ke Solok Selatan, kabupaten berhawa sejuk di selatan 
Sumatera 
Barat.
Kabupaten Solok Selatan tidak hanya menawarkan wisata alam, tapi juga 
satu kawasan yang diberi julukan "Perkampungan Seribu Rumah Gadang".
Kawasan 
yang dimaksud ialah Nagari (desa) Koto Baru, Kecamatan Sungai Pagu, sekitar 130 
km dari Kota Padang atau 33 km dari ibukabupaten Solok Selatan, Padang 
Aro.

Nagari Kota Baru merupakan perkampungan tradisional masyarakat Alam 
Sarambi Sungai Pagu dengan luas sekitar 10 hektare.
Terdapat sekira 146 unit 
rumah gadang di sana. Deretan rumah gadang itu sebagian masih dilengkapi 
"rangkiang", lumbung padi di samping rumah utama.
Berbagai bentuk rumah 
gadang Sumatera Barat terdapat di perkampungan itu, mulai dari tipe Gajah 
Maharam, Bodi Chaniago, Koto Piliang, Surambi Aceh, dan perpaduan tipe bangunan 
rumah gadang yang lain.

Rumah gadang di perkampung itu masih dalam 
keadaan seperti aslinya, berbahan bangunan kayu dan papan, mulai dari tonggak, 
dinding dan lantainya, dengan atap seng "bergonjong".
Ada rumah gadang yang 
dipoles dengan ukiran gaya minangkabau pada dindingnya dan juga ada yang tanpa 
ukiran sedikit pun. Jalan di perkampungan itu sudah dibeton.
Ny. Munizar 
(54), satu warga pemilik rumah gadang diperkampungan itu, menuturkan, 
masyarakat 
masih memfungsikan rumah gadang untuk kegiatan adat, seperti musyawarah kaum, 
pesta perkawinan, dan upacara kematian.
Setiap rumah gadang masih dihuni para 
keluarga, walaupun ada yang hanya diisisatu keluarga. Menurut perempuan paruh 
baya itu, karena masih dihuni, rumah gadang di sana tetap terjaga dan tidak 
cepat rusak.
Terdapat beberapa suku menurut garis keturunan Minangkabau di 
desa itu, seperti Suku Melayu, Bariang, Sikumbang, Panai, Durian, Caniago, 
Kampai, dan Tigo lareh.

"Awak (saya) tidak tahu pasti tahun didirikan 
rumah gadang yang ini," kata Munizar.

Kawasan rumah gadang itu kini mulai 
diminati masyarakat sebagai tujuan wisata. Apalagi, selama perjalanan ke desa 
itu orang bisa menikmati perkebunan teh di kawasan jalan lintas tengah 
Sumatera.

Pariwisata

Nama "Perkampungan Seribu 
Rumah Gadang" itu diberikan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan Mutia Hatta, 
ketika putri Muhammad Hatta itu berkunjung ke Kabupaten Solok Selatan, beberapa 
waktu lalu.
Pemkab Solok Selatan terus membenahi Nagari Kota Baru, karena 
kawasan itu dinilai bisa menjadi ikon pariwisata di sana.
Kepala Tata Usaha 
Kator Pariwisata, Seni, dan Budaya, Solok Selatan, Bujang Basri mengatakan, 
lokasi itu ditetapkan menjadi obyek wisata budaya andalan di kabupaten 
itu.
Kabupaten berpenduduk sekitar 130 ribu jiwa tersebut juga memiliki aneka 
rumah tempo dulu yang bersejarah, di antaranya rumah gadang Durian Taruang, 
sekitar 500 meter dari Padang Aro.

Rumah itu merupakan istana Raja dan 
Putri Intan Juri serta rumah gadang pertama yang dibangun di Nagari Durian 
Tarung, ratusan tahun lalu.
Juga ada rumah gadang "Datuak Rajo Disambah", 49 
kilometer dari Padang Aro yang memiliki atap "bagonjong lima", beranjungan satu 
dan merupakan rumah adat khas Sungai Pagu, Solok Selatan.
Dalam rumah itu 
tersimpan peninggalan adat budaya bernilai tinggi yang hanya digunakan pada 
upacara adat.
Rumah bersejarah lainnya, bangunan Ustano Rajo Balun di Jorong 
Balun, 47 kilometer dari Padang Aro yang merupakan kediaman keluarga Raja Adat 
Alam Serambi Sungai Pagu.

Rumah gadang itu berbentuk Istana Serambi Aceh 
dengan posisi menghadap ke timur dan di dalamnya menyimpan banyak peninggalan 
kuno, seperti naskah balun, perlengkapan penobatan raja, peralatan sekapur 
sirih, dan peralatan makan raja.
Berikutnya, Rumah Gadang 21 ruang di Nagari 
Abai, 40 kilometer dari Padang Aro. Rumah itu memiliki 21 ruang memanjang 
dengan 
arsitektur "bagonjong" yang dikenal sebagai rumah gadang terpanjang di 
Sumbar.
Banyak rumah gadang di Solok Selatan yang kini terus dibenahi 
pemerintah kabupaten setempat.
Upaya pembenahan terus dilakukan, kata Bujang, 
agar makin memikat wisatawan.

Monday, 12 May 2008 17:16
http://www.antara-sumbar.com 










      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke