Assalamualaikum w.w para sanak sekalian,,
Sebagai seri paling akhir dari catatan-catatan lepas perjalanan saya ini, saya
ingin menyampaikan kesan pribadi saya tentang perdebatan para anggota Dewan
Perwakilan Rakyat Amerika Serikat, baik para anggota U.S. House of
Representatives yang secara langsung mewakili distrik-distrik pemilihan maupun
para anggota U.S. Senate yang mewakili negara-negara bagian. Perdebatan mereka
tersebut dapat diikuti melalui siaran langsung televisi C-SPAN.
Tentu saja pertama kali perlu kita sadari bahwa banyak perbedaan antara negara
federal Amerika Serikat yang sudah berusia 232 tahun, yang menggunakan sistem
dwipartai dan sistem distrik dalam pemilihan umum, dengan peran yang tidak
terlalu menonjol dari dewan pimpinan partai serta fraksi-fraksi partai di
parlemen, dengan pendapatan per kapita yang termasuk tinggi, dengan rakyat yang
rata-rata berpendidikan high school/college pada suatu sisi; dengan negara
kesatuan Republik Indonesia yang baru berusia 63 tahun, yang masih sarat dengan
kompleksitas masalah nation building dan state-building termasuk masalah
separatisme, menganut sistem multipartai, yang selain tanpa batas juga dengan
peranan yang sangat besar dari dewan pimpinan pusat partai serta fraksi-fraksi
partai di parlemen, dengan pendapatan per kapita yang termasuk rendah, serta
dengan rakyat yang rata-rata berpendidikan setingkat sekolah dasar pada sisi
yang lain.
Namun jangan kita lupakan bahwa juga banyak persamaan antara Amerka Serikat
dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan saja sama-sama mengakui
kemajemukan rakyat yang ingin tetap bersatu sebagai suatu bangsa (E Pluribus
Unum, Bhinneka Tunggal Ika), sama-sama menganut faham demokrasi dan prinsip
pembagian/ pemisahan kekuasaan, sistem pemerintahan demokrasi presidensial, dan
tekad untuk membangun masa depan yang baik bagi seluruh rakyat.
Yang menjadi perhatian saya adalah aspek institusionalnya, yaitu bagaimanakah
caranya para wakil rakyat di kedua negara ini melaksanakan tugasnya.
Saya sungguh terkesan melihat cara setiap anggota dewan perwakilan rakyat
Amerika Serikat menyampaikan pendapatnya. Walaupun secara formal dalam caption
televisi nama lengkap, afiliasi partai, serta distrik dan negara bagian yang
mereka wakili dicantumkan dengan jelas, namun jelas sekali bahwa mereka
berbicara sebagai seorang tokoh politik yang bertanggung jawab langsung kepada
konstituen yang mereka wakili. Ketua sidang secara jelas menyebutkan berapa
menit mereka boleh bicara, dan umumnya mereka mempersiapkan naskah singkat dari
pendapat yang akan mereka sampaikan. Setiap anggota boleh memberikan sebagian
dari jatah waktu bicaranya kepada anggota lain yang dipandangnya perlu. Hampir
tanpa kecuali pendapat mereka didukung oleh data dan fakta serta gambaran
slides grafik dari pokok-pokok pendapat yang akan mereka sampaikan. Saya
percaya persiapan pidato mereka dibantu secara umum oleh staf Library of
Congress serta secara khusus oleh staf profesional
yang membantu mereka. Sungguh menarik bahwa setiap pembicaraan bernada serius,
tak ada guyon atau dagelan. Kelihatannya juga tak ada yang membaca koran dalam
sidang atau yang mengantuk terangguk-angguk.
Juga sungguh menarik untuk memperhatikan bahwa masalah yang diperdebatkan
dalam dewan-dewan perwakilan rakyat tersebut adalah masalah-masalah konkrit
yang menjadi kepentingan bangsa dan negara Amerika Serikat, baik yang masalah
jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Pada saat saya menulis
catatan lepas ini yang sedang diperdebatkan adalah masalah kenaikan harga BBM,
bukan sekedar mengeritik atau membela pemerintah tetapi juga menggali faktor
penyebab kenaikan tersebut, [antara lain karena meningkatnya demand BBM di
India dan Cina serta berkurangnya suplai], membahas berbagai alternatif solusi,
dan menyarankan kebijakan yang perlu dianut. Tidak jarang, sewaktu saya
mendengarkan pidato para anggota dewan tersebut saya seakan-akan mendengarkan
kuliah pasca sarjana atau mendengarkan prasaran seorang pakar, karena tidak
jatang pidato tersebut dibumbui oleh kutipan hasil riset atau pendapat para
ahli.
Walaupun mungkin sekali ada pesan sponsor dari partai mereka masing-masing,
namun hal itu tidak demikian banyak pengaruhnya dalam pernyataan-pernyataan
mereka. Hal itu terlihat dalam kenyataan bahwa dalam setiap isu yang dibahas
bisa terjadi bahwa para anggota dewan perwakilan rakyat Amerika Serikat dari
partai yang sama bisa berbeda pendapat dalam pemungutan saudara. Terdapat kesan
kuat bahwa dalam pemberian suara, setiap anggota dewan perwakilan rakyat
Amerika Serikat hanya berpegang pada pikiran serta hati nuraninya dan
kepentingan para pemilihnya. Tidak lebih dan tidak kurang.
Saya percaya, bahwa hanya dengan menonton siaran langsung perdebatan para
anggota dewan perwakilan rakyat itu saja, setiap warganegara Amerika Serikat
bukan saja melihat politisi yang piawai dan bertanggungjawab, serta para
senator yang layak untuk mencalonkan diri menjadi presiden, tetapi juga sudah
memperoleh pendidikan politik. [Jangan kita lupakan bahwa tidak jarang calon
presiden memang sudah berpengalaman sebagai senator.] Saya tahu, bahwa untuk
kaum muda selain ada program kunjungan wisata ke dewan perwakilan rakyat juga
ada kesempatan untuk magang sebagai staf, bukan hanya di dewan perwakilan
rakyat, tetapi juga di The White House.
Tentu saja secara otomatis saya membandingkannya dengan cara kerja para anggota
dewan perwakilan rakyat kita, baik di tingkat nasional, provinsi, kabupaten dan
kota, yang – dengan perkecualian para anggota Dewan Perwakilan Daerah RI --
bekerja dalam sistem multipartai, sistem pemilihan umum proporsional, dengan
peran yang hampir mutlak dari pimpinan pusat partai politik dan pimpinan
masing-masing fraksi.
Tidak bisa saya lupakan kesan betapa membosankannya mendengarkan pidato
pimpinan dewan serta juru bicara fraksi dalam dewan-dewan perwakilan rakyat,
yang umumnya selain sarat dengan retorika juga hampir hampa makna, dan tidak
jarang dibumbui guyon murahan. Publik tidak bisa mengetahui bagaimana proses
perdebatan para anggota dewan tersebut mengenai masalah yang terkait dengan
kepentingan rakyat banyak. Kita juga tidak tahu bagaimana kualitas serta sikap
para anggota dewan perwakilan rakyat yang kita pilih dalam pemilihan umum,
karena mereka bisa bersembunyi di belakang keputusan ketua partai atau ketua
masing-masing fraksi.
Saya sungguh kesal bercampur marah melihat dalam tayangan televisi betapa
sebagian anggota dewan perwakilan rakyat kita – yang rata-rata berpenghasilan
Rp 60.000.000,- (enam puluh juta rupiah) sebulan, dengan santai saja membaca
koran, mengirim SMS atau menilpon dengan HP, atau lebih hebat lagi: tidur!
Masyallah.
Saya benar-benar muak membaca berita dan melihat tayangan televisi betapa para
anggota dewan perwakilan rakyat ini demikian sering terlibat dalam kolusi,
korupsi, dan nepotisme, dan wajah bagaikan tanpa dosa tampil di depan kamera
media massa
Lantas bagaimana seyogyanya? Secara pibadi saya berpendapat bahwa kita harus
menganut sistem pemerintahan demokrasi presidensial secara konsisten, dengan
menganut sistem dwi partai dan sepenuhnya sistem distrik, dimana satu distrik
diwakili oleh seorang wakil rakyat. Kita harus meredusir peranan partai
politik yang sudah berkelebihan itu, yang langsung atau secara tidak langsung
telah membajak demokrasi dan membajak Reformasi untuk kepentingan diri mereka
sendiri. Dalam hubungan itulah, pada bulan Mei yang lalu secara pribadi saya
mendukung upaya Dewan Perwakilan Daerah RI untuk memohonkan uji materil
Undang-undang Pemilihan Umum Nomor 10 Tahun 2008, yang memberi peluang kepada
para anggota partai politik untuk bisa mencalonkan diri dalam pemilihan anggota
Dewan Perwakilan Daerah RI.
Bagamana cara mewujudkan visi ini ? Untuk itu jelas perlu ada amandemen
pasal-pasal Undang-Undang Dasar 1945 serta pasal-pasal undang-undang bidang
politik yang terkait. Adalah mustahil untuk mengharapkan anggota dewan
perwakilan rakyat yang sekarang – yang sepenuhnya terdiri dari anggota partai
politik itu -- akan bersedia melakukan hal itu. Amandemen itu hanya mungkin
dilakukan oleh aliansi kekuatan non partai politik yang mempunyai visi yang
sama, dan bila mungkin oleh pimpinan partai-partai politik yang benar-benar
berfaham demokratis.
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, 71 th, kini sedang di San Ramon, California, USA)
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---