BELAIAN NAN LEMBUT
Oleh : dr. K. Suheimi
Banyak orang mendambakan kelembutan, lebih-lebih lagi jika ada
belaian nan lembut. Dari judulnya saya tertarik dan juga saya mendambakannya.
Nah belaian nan lembut inilah yang saat ini saya dengar dari Radio Classy FM.
Hari itu saya dengar suara Adi yang khas menyentuh dan menyejukkan,
dia membacakan bahan dan cerita yang telah diolah Yanti. Ingin saya ceritakan
juga pada pembaca, agar kita sama-sama berbagi.
Michael dan aku tidak tahu kapan pelayan meletakkan piring-piring
di meja kami, waktu itu kami duduk-duduk di sebuah restoran kecil, terlindung
dari kesibukan kota Third Street, di New York City. Aroma makanan yang baru
saja disajikan tidak mengusik keasyikkan kami mengobrol, malah makanan itu kami
b iarkan dingin, Kami terlalu asyik mengobrol sampai lupa makan.
Obrolan kami seru sekali, meskipun yang diobrolkan tidak penting.
Kami tertawa-tawa membicarakan film yang kami tonton malam sebelumnya, dan
berdebat tentang makna di balik teks yang baru saja kami pelajari untuk seminar
sastra. Dia bercerita waktu dia mengambil langkah penting menuju kedewasaan,
yaitu hanya mau dipanggil Michael dan pura-pura tidak mendengar bila dipanggil
“Mikey”. Waktu umur dua belas atau empat belas, dia lupa, tapi dia ingat ibunya
menangis dan berkata bahwa dia terlalu cepat menjadi dewasa. Ketika kami mulai
mencicipi makanan aku bercerita, dulu aku dan kakakku suka memetik buah mangga
tetangga. Kalau mengunjungi habis bagianku sebelum pulang ke rumah, dan bibiku
selalu memperingatkan bahwa perutku pasti akan sakit sekali. Tentu saja, itu
tak pernah terjadi.
Sementara obrolan kami yang menyenangkan terus berlanjut,
pandanganku melayang ke seberang ruangan dan berhenti di sudut. Sepasang orang
tua duduk berduaan di pojok itu. Si wanita mengenakan rok bermotif bung ayang
sudah pudar, sama pudarnya dengan bantal tempat dia meletakkan tas tangannya
yang kusam. Puncak kepala si lelaki mengilat seperti telur rebus yang sedang
dia nikmati pelan-pelan. Wanita itu mengunyah oatmel-nya pelan-pelan juga,
nyeris dengan susah payah.
Tetapi yang membuat pikiranku teralih kepada mereka adalah
keheningan yang melingkupi mereka. Aku seakan melihat kekosongan melankolis
melingkupi pojok tempat mereka duduk.; ketika obrolanku dengan Michael mereda
dari gelak tawa menjadi bisikan, dari pengakuan ke penilaian, keheningan
pasangan itu mengusik pikiranku. Alangkah menyedihkan, pikirku, kalau tak ada
lagi yang bisa diobrolkan. Tidak adakah halaman yang belum mereka baca dalam
kisah hidup masing-masing? Bagaimana kalau itu terjadi pada kami?
Setelah acara makan selesai dan aku juga tidak lagi memedulikan
tingkah pola dua pasangan yang sudah tua itu. Michael dan aku membayar makanan,
lalu beranjak meninggalkan restoran. Ketika kami melewati pojok tempat pasangan
itu duduk, dompetku terjatuh. Aku membungkuk untuk mengambilnya, dan aku
melihat, di bawah meja dengan tangan mereka saling berpegangan lembut. Mereka
makan dengan hening sambil bergandengan tangan! Aku menegakkan tubuhku. Aku
sangat tersentuh melihat tindak sederhana namun penuh makna yang mencerminkan
kedekatan hubungan pasangan itu. Aku merasa istimewa karena boleh
menyaksikannya.
Belaian lembut tangan lelaki tua itu pada jarin-jari istrinya yang
letih dan keriput, tidak hanya mengisi apa yang sebelumnya kuanggap sudut yang
secara emosional kosong, tetapi juga mengisi hatiku.
Keheningan mereka bukanlah keheningan yang tidak nyaman, seperti
ketidaknyamanan yang selalu kita rasakan setelah mendengar sebaris lelucon atau
canda-tawa waktu kencan pertama. Bukan itu, keheningan mereka adalah keheningan
yang nyaman dan rileks. Itu adalah ungkapan cinta yang lembut dan tidak selalu
membutuhkan kata-kata untuk mengekspresikannya. Mungkin telah bertahun-tahun
mereka bersama-sama menghabiskan jam-jam seperti ini di pagi hari, mungkin hari
ini tak ada bedanya dari kemarin, tetapi mereka menikmatinya dengan hati yang
damai. Mereka saling menerima pasangannya, apa adanya.
Aku berpikir mungkin, ketika aku dan Michael keluar dari restoran,
bukan sesuatu yang buruk bila kelak yang seperti itu kami alami. Mungkin, itu
akan menjadi ungkapan cinta yang lembut dan penuh kasih.
Untuk itu ingin saya petikkan sebuah Firman suci-Nya dalam
Al-qur’an; “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut
terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah
mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka,
mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan
itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
(QS. 3:159).
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---