Mempertanyakan keputusan Gubernur
Semoga Pak Gubernur membacanya
Suatu hari aku membaca tulisan di koran Padang Ekspres
yang ditulis oleh Sutan Zaili Asril yang tak lain
adalah pemimpin umum di koran milik group Jawa Pos
itu.
Sebenarnya aku tidak mau membaca tulisan Uda Zaili,
karena memang dari awal sudah sangat susah dimengerti,
juga terasa menyebalkan membaca tulisan ornag satu
ini. Dia adalah seorang yang aneh dan tidak percaya
diri, atau bahkan cenderung menganggap orang tidak
semampu dia dalam membaca atau menganalisa sebuah
tulisan.
Dalam tulisan rutinnya Uda Zaili mengaku sebagai
wartawan senior dan sangat memiliki integritas moral,
serta sangat pulalah memiliki kemampuan dalam hal
manajerial.
Itu sebabnya dia kemudian diminta (tulis Zaili sendiri
dalam kolomnya) menjadi komisaris di PD Grafika
Sumbar. Bagi saya tidak soal Uda Zaili jadi komisaris
PD Grafika atau perusahaan apa saja. Tokh dia memang
memiliki latar belakang bekerja sebagai manajer di
perusahaan besar. Namun yang jadi pertanyaan dan
sedikit membuat saya tidak habis pikir adalah kenapa
Uda Zaili yang wartawan dan seorang Top Leader di
media ini yang jadi komisaris di perusahaan milik
pemerintah daerah.
Saya mencoba terus mencari-cari alasan Pemerintah
Propinsi Sumatera Barat untuk mengangkat Zaili atau
seperti info yang masuk ke telinga saya tentang adanya
beberapa nama wartawan senior lain yang saat ini sudah
menjadi top leader di media Padang yang juga beroleh
jabatan sebagai komisaris di perusahaan daerah.
Secara kemampuan, saya tidak meragukan Uda Zaili,
seperti yang tadi saya tulis, dia pernah menjadi
eksekutif di Bakrie (seperti pengakuannya) dan
perusahaan besar lainnya. Namun dalam hal Uda Zaili
sebagai pemimpin umum media yang sudah jelas dan tentu
bisa menghitam-putihkan sebuah media apakah pantas
atau etis mengangkat Uda Zaili menjadi bagian dari
pemerintah daerah.
Uda Zaili sendiri mempertanyakan pada dirinya, apakah
dia akan mampu menjaga sikap kritisnya terhadap pemda
yang selama ini tidak mampu memperlihatkan kemajuan
dalam berbagai hal.
Sama seperti Uda Zaili, saya juga meragukan apakah dia
mampu menjaga obyektifitasnya sebagai jurnalis yang
harus menjaga hati nurani agar tidak menjadi penjaga
jalannya pemerintahan.
Wartawan bagi saya yang pernah sesaat menjadi bagian
dari profesi itu adalah penjaga hati nurani, dan
selalu harus berada dalam posisi yang netral dan tidak
memihak. Wartawan professional juga tidak diizinkan
untuk memihak atau menerima atau juga menjadi bagian
dari pemerintahan.
Saya membayangkan betapa sulitnya nanti seorang Sutan
Zaili Asril yang sudah sangat senior, memiliki
intergritas dan selalu menjaga sikap kritis (seperti
dalam tulisannya) menjaga obyektifitasnya jika di
dalam perusahaan Grafika itu nanti terjadi
penyimpangan yang harus di publish kepada masyarakat
umum.
Bagaimana mungkin Uda Zaili yang komisaris di PD
Grafika diizinkan oleh statuta atau anggaran dasar PD
Grafika mempublish jika terjadi atau ditemukan
penyimpangan di perusahaan kepada pers yang mana itu
adalah juga Uda Zaili sendiri.
Saya tidak yakin Uda Zaili akan mampu. Jujur saja saya
tidak yakin saya meragukannya sekaligus meminta agar
Uda Zaili menolak pemberian jabatan itu dengan halus
demi kepentingan pers yang sudah lama digelutinya.
Saya hanya anak kecil yang seumuran jagung di dunia
pers, namun dengan sangat hormat saya minta kepada Uda
Zaili Asril untuk menolak jabatan itu. Meski Uda Zaili
menyebutkan bahwa dia tidak digaji sebagai komisaris,
itu jelas tidak masuk akal, bagaimana mungkin bekerja
sebagai komisaris tapi tidak menerima gaji. Uda Zaili
bukanlah malaikat yang matanya tiba tiba menjadi buta
dan tidak bisa melihat uang.
Saya hanya ingin wartawan tetap kritis dan mampu
menjalankan tugas dengan baik sebagai wartawan. Dan
tidak perlu pula rasanya wartawan bekerja rangkap
sebagai komisaris sebuah perusahaan daerah, yang jelas
dipertanyakan maksud pengangkatan itu.
Melalui tulisan ini saya juga bertanya kepada Gubernur
Sumbar, kenapa Uda Zaili yang wartawan yang diangkat
menjadi komisaris. Kalau mau juga yang bernama Zaili
carilah Zaili yang selama ini bekerja sebagai pegawai
atau Zaili yang sudah punya pengalaman sebagai manajer
namun bukan wartawan seperti Zaili Asril.
Semoga Pak Gubernur membaca kegelisahan saya.
Salam
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---