"Apalagi yang dikatakan beliau?" Tanya Malik.

"Beliau juga mengatakan agar kalian jangan mengejar beliau lagi, kita
disuruh segera balik dengan membawa obat penawar racun ini untuk digunakan
bilamana musuh menyerang dengan racun. Dan agar ibu bisa cepat sembuh
kembali. Beliau berani jamin ibu akan bisa disembuhkan dengan obat penawar
racun yang beliau berikan, jika ibu masih belum sembuh juga mungkin karena
racunnya sudah menyebar ke seluruh organ penting dalam tubuh ibu maka kita
diharuskan untuk pergi ke nagari Batang Agam menemui Nenek Ubek Sakti untuk
meminta daun Selasih Cicak agar dicampur dengan obat dari beliau dan rebus
untuk diminumkan. Guna daun ini untuk memulihkan luka akibat racun yang
merusak organ tubuh ibu, dan kita harus segera mengobati ibu agar jangan
sampai terlambat, karena waktu untuk mengobati ibu hanya tinggal 1½ bln
lagi, lewat dari masa itu biarpun Tabib Mato Tigo sendiri yang mengobati
tetap saja nyawa ibu bisa tidak tertolong lagi."

Mendengar penuturan Darman, mereka semua sepakat untuk cepat pulang membawa
obat yang dibutuhkan oleh ibu mereka, setelah kondisi yang terluka sudah
memadai. Obat yang diberikan oleh sang tabib memang sangat mujarab sekali,
sebentar saja mereka semua sudah pulih dari keracunan hanya tinggal luka
luar yang sudah mereka obati pula dengan obat yang mereka bawa dari rumah.
Setelah semua selesai pengobatannya mereka menaiki kuda mereka dan melarikan
kudanya ke arah pulang.

Selama melarikan kuda mereka menuju pulang masing-masing dari mereka tidak
lepas dari memikirkan sang tabib yang misterius itu apalagi Lukman dan
Malik, mereka masih penasaran terhadap sang tabib yang tidak berhasil mereka
temui itu. Baru mereka berjalan sebentar saja mereka menemui rombongan
ketiga pencari obat yaitu rombongan yang dipimpin oleh paman mereka, Datuak
Samolangik, adik dari ayahnya Malik.

Mereka juga mendengar kabar bahwa tabib yang mereka cari sedang menuju ke
daerah Gunung Tadikat, makanya mereka bisa sampai di daerah ini. Kebetulan
perjumpaan mereka ini sudah tengah hari dan mereka semua kelaparan, mereka
mengambil tempat yang agak teduh sambil membuka perbekalan mereka dan makan
dengan lahapnya. Selesai makan, mereka ingin mengaso sejenak setelah tadi
mereka bertempur mati-matian melawan musuh dan menceritakan pengalaman
mereka masing-masing silih berganti.

Terlihat Lukman diam membisu saja dari tadi sepertinya sedang memikirkan
sesuatu, yang lain tidak berani menganggu. Kemudian dia memandang kepada
mereka semua dengan wajah penuh pertimbangan, mereka sudah selesai bercerita
pengalamannya, dan sudah ingin bergerak untuk melanjutkan perjalanan.

"Kalian pulanglah semua dulu, bawa obat untuk ibu. Aku masih ingin tinggal
di sini,"kata Lukman kepada mereka semua.

"Mau apa tuan muda Lukman tetap tinggal di sini? Bukannya tuan ingin
cepat-cepat pulang bertemu dengan keluarga?" Tanya Pandeka Konek yang memang
paling dekat dengan Lukman sehingga beliau berani bicara terus terang apa
saja kepadanya.

"Aku ingin mencari tabib itu untuk menyampaikan maafku karena selalu salah
sangka dan terima kasih atas bantuan beliau kepada kita secara langsung."

"Tapi uda, beliau kan sudah katakan bahwa kita tidak perlu mencari beliau
lagi, harus cepat pulang untuk membawa obat untuk ibu."

"Aku tahu itu Darman, tapi aku tidak bisa menutupi rasa penasaranku akan
beliau, kenapa beliau selalu bersembunyi-sembunyi menolong kita dan kenapa
beliau tidak mau menemui kita? Apakah karena beliau tersinggung akan
perkataanku? Jika benar aku ingin sekali minta maaf langsung kepada beliau."

"Apa kalian juga tidak merasa aneh dan penasaran terhadap tabib ini ?
Bukannya aku meragukan kemampuan beliau untuk menyembuhkan ibu kita tapi
entah kenapa aku merasa harus bertemu dengan beliau untuk menuntaskan rasa
penasaran yang bercokol di hatiku ini. Aku juga mendengar bahwa beliau
menuju gunung Tandikat untuk mencari obat langka di sana , pasti tidak mudah
untuk melakukan hal ini. Aku ingin membantu beliau karena kita sudah
menerima budinya yang sangat besar itu, jadi menurutku inilah caranya agar
kita bisa membalas budinya, walau beliau tidak mengharapkan balasan apapun
dari kita. Bagaimana menurut kalian ?"

Bersambung……..


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke