"Benar juga yang kau katakan Lukman, terus terang saja aku masih penasaran dengan tabib itu, beliau sudah menjaga kita dari marabahaya dan melepaskan budi pula kepada kita, rasanya kita ini sudah begitu banyak menerima budi, tapi tidak tahu bagaimana membalasnya. Aku sependapat denganmu, Man, kita memang harus membantu beliau dan kalau bisa sesudah urusannya selesai kita bisa mengajak beliau ke rumah kita agar kita sekeluarga bisa menyampaikan terima kasih yang layak kepada beliau."
"Uda Lukman dan uda Malik, apa kalian lupa ibu sedang menunggu obat dari kita, apa kalian tidak rindu kepada ibu dan ingin melihat beliau segera sembuh," debat Kasman dengan mimik kebingungan mendengar pembicaraan kedua kakaknya itu. "Benar sekali Malik, apa kau tidak rindu kepada ibumu? Bukannya kau yang paling kuatir ketika ibumu sakit, apa kau tidak ingin tahu apakah ibumu bisa disembuhkan atau tidak?" Tanya Datuak Samolangik. Kedua pemuda itu terdiam mendengar pendapat adik dan paman mereka, di batin mereka berperang keinginan untuk mencari tabib itu dan melihat kesembuhan ibu mereka. "Uda berdua, aku mengerti perasaan uda, aku juga merasakan hal yang sama. Begini sajalah kita bertiga pergi mencari tabib itu, sedangkan yang lain pulang dengan membawa obat untuk diserahkan kepada ibu. Aku yakin berkat obat ini ibu pasti sembuh, karena tabib itu sudah terkenal kehebatannya jadi pasti beliau tidak akan merusak reputasinya dengan memberikan obat sembarangan untuk ibu. Bagaimana menurut kalian?" "Tuan muda Darman, kau ingin ikut juga?" Tanya Jamin menatap kuatir tuan muda kesayangannya itu, diantara ketiga anak Rangkayo Jati memang Darmanlah yang paling disayangi semua orang, dia seorang yang pemuda yang ramah dan sopan kepada siapa saja. Senyumnya dapat meluluhkan hati siapa saja yang melihatnya ditambah lagi dengan tutur katanya yang lembut membuat siapa saja tidak bisa marah kepadanya. Berbeda dengan Lukman yang memang dari kecil sudah menunjukan wataknya yang keras dan pendiam sehingga para pengawal agak sedikit sungkan kepadanya, sedangkan Kasman masih bertingkah laku kekanak-kanakan seperti anak kecil yang manja jadi mereka masih menanggapnya pemuda yang baru besar. Waktu pembagian rombongan untuk mencari sang tabib saja mereka juga berebutan ingin menemani Darman, bahkan Pandeka Konek yang memang dekat dengan Lukmanpun lebih memilih ikut rombongan Darman. Tapi setelah melihat orang berebutan ingin mendampingi Darman, akhirnya dia bersama Pandeka Tangan Siluman memutuskan untuk menemani Lukman dan Malik saja. "Paman, jangan kuatir seperti itu, kami pasti bisa menjaga diri kami, yang penting sekarang kalian pulang cepat untuk memberikan obat kepada ibu dan bersiaga kalau-kalau musuh akan menyerang kita karena mereka tahu banyak diantara kita yang tidak ada di tempat sekarang ini." "Kalau begitu biarlah aku ikut tuan muda, sedangkan yang lain pulang mengawal obat itu,"sahut Pandeka Konek cepat, dia ingin sekali berjumpa dengan Datuak Marindiang yang sedang mengejar tabib itu juga. "Kami juga ingin mengawal tuan muda, bagaimana pertanggunganjawab kami kepada ayah tuan muda sekiranya kami membiarkan tuan muda pergi begitu saja tanpa kami," Tanya Randu sambil memandang kepada Malik. Setelah berdebat panjang lebar, akhirnya mereka memutuskan rombongan Lukman dan Malik tetap mencari sang tabib, Darman tetap pulang bersama 2 rombongan lain membawa obat penawar racun tersebut. Mereka berpisah menuju arah yang berbeda, Lukman beserta rombongannya menuju arah mereka datang tadi sedangkan rombongan Darman bergerak ke Utara menuju pulang. Setelah beberapa hari mereka melacak jejak sang tabib akhirnya mereka menemukannya sedang menuju gunung Tandikat dari arah Timur gunung tersebut, dan hampir mereka berhasil menyusul tabib tersebut tapi kembali tabib itu bisa meloloskan diri. Mereka terus mengejar beliau dengan tidak kenal lelah kadang-kadang mereka mendapat petanda dari Datuak Marindiang yang ternyata diam-diam membantu mereka juga untuk menemukan sang tabib. Sampai akhirnya suatu ketika mereka menemukan jejak sang tabib yang menuju sebuah sungai yang mengalir di sebuah hutan yang mendekati kaki gunung Tandikat tersebut. Bersambung.... --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
