Bpk Ajo Duta yth, sbenarnya bukan permasalahan detait tekis parawisata itu yang 
sangat krusial dibenahi. Banyak masalah besar yang belum menyentuh. Sedangkan 
masalah teknis itu akan berjalan kalau adanya kepemahaman dari pemerintah akan 
dampak apa saja yang ditimbulkan dari parawisata. Selama ini kita hanya 
menyoroti di danas teknis parawisata, sementara dinas yang lain tidak pernah 
kita dorong untuk dapat mensernergikan kepentingan parawisata dan dampaknya 
terhadap kesejahteraan pada bumi minangkabau nan tercinta ini.
Kita tidak pernah mempertanyakan dinas keternagakerjaan, dinas sosial, dianas 
agama dlsb nya. Disini dibutuhkan seorang yg dapat mempersatukan semua 
pelaksana teknis. Ini saja belum cukum, perlu seorang pemimpin yg dapat 
berkomunikasi dengan pemuka adat, agama, masyarakat dll.
Selama ini kejadian dikampuang kita mereka kerja secara parsial, tidak ada 
komunikasi lintas sektor dan linta kota dan daerah. INI ADALAH PERTANYAAN BESAR 
NYA?
Kemudian saya juga mohon maaf kepada urang rantau dari amerika nan pulang 
basamo ke kampuang halaman. Tetapi saya tidak ada melihat sedikitpun greget 
pulang basamo seDUNIA yang dicanangkan olehGUBERNUR SUMATERA BARAT. Ada apa 
ini, miris kita membaca laporan perjalanan dari bp. Ajo Duta. waktu diawal2 
dicetuskan, luar biasa gaungnya, semakin mendekati hari H, semakin menghilang 
semangat tersebut. ADA APA INI?.  Dulu Gubernur yang mencetuskan, kok tidak ada 
terjadi dialog antara gubernur dan para perantau dari Amerika tsb. kemana 
semangat tersebut,SAYA JADI BERTANYA-TANYA APA BETUL ADANYA PULANG BASAMO 
SEDUNIA INI. Kalau tidak jadi, sebuah kemunduran bagi kita bersama. Saya 
merasakan tidak adanya keinginan yang besar dari Para Penguasa Sumbar untuk 
benar@ membangun parawisata ini. Seharusnya dlm kepulangan Ajo Duta dan Rekan2 
bisa diambil ilmu bagaimana membuat sebuah promo dan pengolahan wisata. Mereka2 
itu kan lah di dunia dan mangarati dan juga mata
 mereka kan lebih terbuka, bak kata pepatah JAUH BAJALAN BANYAK DILIEK. 
Jadi, saya rasa para pencetus harus mempertanyakan komitmen dari Gubernur 
tentang PULANG BASAMO SEDUNIA INI.
 
Nanang, sadang di Banduang

----- Original Message ----
From: ajo duta <[EMAIL PROTECTED]>
To: "[email protected]" <[email protected]>
Sent: Thursday, July 3, 2008 11:01:46 AM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Lap. Pulang Basamo: Safety First


Assalaamu'alaikum sanak,

Slogan "Safety First" rasanya sudah mendunia. Realisasinya memang setiap
negara berbeda. Dinegara maju kesadaran atas slogan itu sudah dibina sejak
anak-anak. Disamping aturan yang sangat dipatuhi. Di Indonesia dalam berlalu
lintas kelihatannya sudah dipatuhi dengan baik. Sabuk pengaman pada mobil
dan helm pada pengendara motor sudah sangat dipatuhi. Barusan di Jakarta
untuk memenuhi tepat waktu untuk suatu janji, saya memilih naik ojek.
Supir ojek memberi saya helm untuk di pakai. Bagus sekali.

Dalam dunia wisata khususnya di Sumbar ada dua event yang kami alami
waktu acara pulang basamo, dimana dunia wisata kita kurang memperhatikan
keselamatan.

Pertama waktu acara pertunjukan kesenian oleh grup "Saayun Salangkah"
di Bukit Tinggi. Pertunjukannya sendiri sungguh memikat, khusus pada pertunjukan
tari piring sangat membuat decak kagum pengunjung disaat penari menjatuhkan
diri dan menginjak-injak pecahan piring. Sayangnya penyelenggara kurang
memperhatikan keselamatan pengunjung. Bayangkan kalau pecahanan kaca
yang berhamburan itu masuk kemata pengunjung. Padahal jarak penonton
dengan panggung dimana kaca berserakan hanya sekitar 2 meter saja.
Saran: Setiap pengunjung/penonton dipinjami kacamata google. Atau diujung
panggung dibuat pengaman pagar terbuat dari fiberglass bening.

Kedua waktu menyeberang naik boat ke Sikuai. Rasanya sudah menjadi standar
pelayaran adanya baju pelampung (lifevest) untuk setiap penumpang. Hal ini tak
ada sama sekali di speedboat yang berkapasitas lk 30 orang itu. Dalam perjalanan
pergi pulang tak hentinya saya berdoa agar tak ada ombak besar yang dapat
membalikkan perahu kayu yang menerjang Samudera Hindia ini. Otak berputar
tanpa solusi kalau perahu terbalik, apa yang harus dilakukan menyelamatkan diri
dan rombongan termasuk isteri/anak/mantu dan cucu cucuku yang masih kecil.

Sebagai perbandingan kalau anda suatu saat ke Niagara air terjun
terbesar didunia.
Kalau pengunjung ingin agak dekat dengan tempat jatuh air tersedia
kapal penumpang.
Menjelang naik kapal setiap penumpang dipakaikan pelampung. Padahal hulu sungai
itu tak bergelombang sama sekali. Kata kuncinya hanya pada kesadaran
"safety first".

Wassalam
ajoduta/61/usa



      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

  • ... asfarinal, asfarinal, asfarinal, asfarinal nanang, nanang, nanang, nanang
    • ... ajo duta
      • ... asfarinal2000
      • ... muhammad syahreza
    • ... Yulnofrins Napilus
      • ... H.syafril, Amd
        • ... asfarinal2000
      • ... Ramadhanil pitopang
      • ... muhammad syahreza

Kirim email ke