Mamak/Bapak/ nan tuo indak disabuakkan gala, Sdr2 nan mudo indak dipanggiakan 
namo, Ambo ingin menyampaikan pandapek ambo saketek, urang mudo nan kurang 
pangalaman. Kok seumpamo salah tolonglah dibetulkan, untuk ganti rotan akarpun 
jadi, demikianlah status pandapek nan ditebakan di galanggang palanta iko.
 
 Ambo hendak menceritakan sedikit satu hal yang menarik dari salah satu kata 
dalam bahasa Jepang. 
Adalah kata (bunyi/ucapan) "kami" (dalam bahasa Jepang) memiliki tiga arti yang 
semuanya sama-sama mendorong kemajuan serta harga diri masyarakatnya.

"kami", berarti Dewa, Tuhan, Langit.
"kami", berarti rambut di kepala, simbol harga diri atau kehormatan yang harus 
dijaga.
"kami", berarti kertas atau buku.

Dalam tulisan karakter (huruf), ketiga kata tersebut memiliki kanji yang 
berbeda. Sedangkan secara semantik, ketiga ucapan tadi memiliki sinonim makna 
sehingga menjiwai semangat dan kemajuan bangsa Jepang. 
Salah seorang guru ambo yang mempelajari semantik bahasa berkata bahwa secara 
budaya bangsa Jepang sangat menghormati ilmu (yang disampaikan melalui lembar 
kertas atau buku) karena memiliki "makna" yang sama dengan Tuhan dan harga 
diri. 
Seorang samurai akan sangat murka jika rambutnya ditebas atau terpotong, karena 
itu adalah simbol harga dirinya. 
Begitu pula dengan kertas yang dianggap sebagai bagian dari pencitraan Tuhan, 
langit dan harga diri. 
Dari sejarah akar katanya, entah mana yang hadir lebih dulu, namun yang jelas 
ketiga kata tersebut telah menjadikan masyarakat Jepang sangat menghormati 
ilmu. 
Guru ambo juga berkata bahwa budaya merupakan realisasi dari keyakinan, 
sedangkan keyakinan disampaikan melalui bahasa atau ucapan (ternyata sesuai 
dengan peribahasa: bahasa menunjukkan bangsa/status kebangsawanan seseorang).
Nah, sepertihalnya bangsa Jepang, urang Minangkabau juga memiliki ucapan yang 
sama untuk mengekspresikan tujuan nan berbeda. 
Misalnya ucapan aso, asa, asal (artikel http://www.nagari.or.id/?moda=tamu ) 
yang ternyata juga memiliki kesamaan makna. Begitu juga kata lainnya seperti 
pemakaian kata "aka" dalam percakapan sehari-hari. 
Soal budaya, ambo yakin adat istiadat Minangkabau adalah lebih paripurna dari 
bangsa budaya Jepang... (Saat urang awak alah sembahyang, urang Jepang masih 
menyembah dewa-dewa). Namun soal kemajuan ambo meraso "cerita kejayaan bangsa 
Minang" kini lah hampir menjadi sejarah.... Jika kita melihat angka-angka 
statistik, angka balita kurang gizi di ranah Minang termasuk memprihatinkan. 
Yang berarti dalam 20-30 tahun ke depan mayoritas calon pemimpin Minangkabau 
BERPOTENSI memiliki SDM yang rendah...

Nah, kini ambo ingin bertanya : bagaimana agar budaya awak mampu mendorong 
kemajuan urang Minang dan alam Minangkabau. 
Ambo yakin, urang awak juga pasti menginginkan untuk "maju" dan "berprestasi" , 
kalau boleh dikatakan "lebih maju" dan "lebih beprestasi". 

Wassalam
M.S. Gifari 27 lk. 
 
(Tokyo)




      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke