Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Saya teruskan posting dari seorang sahabat saya, sebagai peringatan untuk 
berhati-hati dengan penipu di ATM ini.

Wassalam,
Saafroedin Bahar  (L, 71 th, Jakarta)  Alternate e-mail address: [EMAIL 
PROTECTED]


--- On Fri, 7/4/08, sahabat saya tersbut menulis sebagai berikut.


Subject: PENIPUAN DI ATM

Peristiwa ini menimpa saya Hari Minggu yang lalu di salah satu ATM 
Mandiri(sebut saja ATM1). Semoga tidak terulang pada pembaca.


Kejadian ini berawal ketika saya mau menarik uang di ATM Mandiri. 

Seperti kadang-kadang terjadi setelah saya masukkan kartu ATM, layar 
ATM menyatakan bahwa …..out of service atau ….maaf sementara tidak 
dapat melayani. Tentu saja saya langsung tekan tombol Cancel untuk 
membatalkan transaksi. Namun ternyata kartu ATM tidak kunjung keluar 


walaupun saya ulangi berkali kali dan saya tunggu.
Di saat saya berharap kartu ATM segera keluar, tiba-tiba ada seseorang
laki-laki (sebut saja Mr X) yang membuka pintu ATM dan tindakan kurang
etis ini tentu agak mengejutkan saya. Orang tersebut yang tampil 


dengan sikap dan wajah innocent (tanpa dosa) dan dengan cukup santai 
bertanya:
Bisa Pak? Kartu saya tadi tertelan pak! Karena merasa senasib, sikap 
saya berubah dari curiga menjadi welcome. Setelah saya amati, 


ternyata kartu saya tampak sedikit (kurang lebih satu millimeter) di 
bibir lobang kartu ATM dan saya berusaha dengan menyelipkan dua kartu 
tipis untuk menjepit kartu tersebut agar dapat saya keluarkan. Usaha 


saya itu mendapat respon yang bersahabat dari Mr X dan segera pula ia 
membantu saya untuk menjepit dengan kertas yang saya gunakan tetapi 
kartu ATM saya juga tidak berhasil dikeluarkan.
Usaha berikutnya dilakukan oleh Mr X dengan menelpon "Bank" (katanya 


saya telpon bank saja pak, 14000 ya? tanyanya dan tidak saya jawab 
karena saya konsentrasi dengan usaha saya untuk mengeluarkan kartu 
ATM). Setelah dia menceritakan apa yang telah terjadi dan salah satu 
ungkapannya di telepon "kartu saya terganjal oleh bapak setelah saya 


pak!". Mr X segera menyerahkan HPnya karena pihak "Bank" mau bicara 
dengan saya. Pihak "Bank" setelah menanyakan beberapa data seperti 
nama, tanggal lahir, nama ibu kandung segera menuntun saya agar dapat 


mengeluarkan kartu ATM saya dan tentu saja saya turuti.
Tekan tombol di bawah angka 9; tekan tombol di bawah angka 7; tekan 
pin bapak; tekan ENTER. Keluar tidak pak? Tanyanya. Tidak, jawab 
saya. Ok pak saya akan bantu sekali lagi mengeluarkan kartu bapak. 


Ikuti petunjuk saya tekan tombol di bawah angka 9; tekan tombol di 
bawah angka 7; tekan pin bapak (pelan-pelan pak) dan saya sempat 
berpikir mengapa harus pelan?; tekan ENTER. Singkatnya saya menekan 
PIN saya sampai sekitar tiga kali yang disaksikan oleh Mr. X. Saya 


tidak sampai hati meminta Mr X keluar dari ruang ATM karena ia telah 
meminjami HP dan "menolong saya". Adegan ini berarkhir ketika 
pihak "Bank" tidak berhasil membantu saya dengan mengatakan: Ok pak, 


karena kartu bapak tidak bisa keluar, KARTU BAPAK SAYA BLOKIR SAJA 
DAN SAAT INI KARTU BAPAK SUDAH TIDAK BERFUNGSI. Besuk bapak segera ke 
Bank Mandiri setempat untuk minta terbitkan kartu baru. Karena merasa 
aman, saya segera tinggalkan ruang ATM dengan mengucapkan terima 


kasih kepada Mr. X setelah anak saya segera keluar dari mobil, 
menyusul ke ruang ATM menanyakan apa yang terjadi (kata saya: kartu 
sudah diblokir,kita pindah ATM lain saja nak).
Untungnya saya tidak menaruh semua telor saya dalam satu keranjang. 


Masih ada keranjang lain tidak peduli ukurannya. Segera saya menuju 
ATM (sebut saja ATM2) yang lain karena saya sudah ditunggu di salah 
satu toko untuk suatu transaksi. Sebelum saya (bersama isteri dan 
anak saya) masuk ke ATM2 tiba-tiba SMS banking masuk dan menyatakan 


rekening saya terdebet Rp1.500.000, -. Ketika itu saya baru sadar 
(menurut saya bukan karena hipnotis, tetapi logis) bahwa MR X TADI 
TERNYATA PENIPU dan pihak "Bank" yang bicara dengan saya adalah 
anggota sindikatnya.


Segera saya menuju ATM1 dengan melanggar lampu merah di perempatan 
jalan sambil menghampiri Polantas setempat. Sampai di tempat 

kejadian, tentu saja pelaku sudah kabur dan selama saya menuju 
kembali ke ATM1, rekening saya selalu terdebet hampir setiap setengah 
menit Rp 1,5 juta dan berkali-kali. Saya berusaha keras untuk 
memblokir via 14000 tetapi selalu dijawab oleh mesin penjawab dan 


setelah sekian lama saya baru bisa bicara dengan operator untuk 
melakukan pemblokiran. Apa boleh buat saat pemblokiran saldo tinggal 
tersisa Rp 82 ribu. Setelah dihubungi oleh pihak kepolisian, tidak 
lama berselang petugas ATM Bank Mandiri datang dan membongkar mesin 


ATM. Ternyata di dalam ruang kartu masuk telah diselipkan SEBATANG 
KOREK API yang telah dipotong "pentolan" nya. Kata petuga bank: 
Inilah pak yang membuat kartu bapak tidak bisa masuk….kejadian ini 

sudah sekitar satu tahun tapi pelakunya belum juga tertangkap…. Dia 

(Mr X) bisa mengeluarkan kartu bapak dengan tang/penjepit 
kecil…..Minggu lalu juga kejadian.
Begitu memasuki hari kerja saya laporkan ke Bank Mandiri dan petugas 
Customer Service menyatakan kasus ini baru pak (wah rupanya pihak bank


ketinggalan juga, red) setelah dicek transaksi penarikan (oleh Mr X 
cs)tiga kali Rp1,5jt; 1xRp500rb; dan karena maksimum penarikan per 
hari Rp5jt, sisanya dihabiskan untuk belanja kilat (mungkin di toko 
emas) tentu dengan memalsukan tanda tangan saya. Maaf pembaca, total 


kehilangan tidak perlu saya beberkan semua, yang jelas tinggal Rp82rb 
alias habis dalam waktu transaksi 17 menit.

KESIMPULAN:
1. Sindikat penipu memilih ATM yang terpencil, bukan yang di kantor 
bank dan/ atau yang ada security-nya.


2. Mereka memilih hari libur agar nasabah tidak dapat menghubungi bank
setempat.

TIPS AGAR HAL SERUPA TIDAK TERULANG PADA PEMBACA:

1. Gunakan ATM yang ada Bank-nya atau yang dekat security, hindari ATM


terpencil walaupun di ATM terpencil kita tidak perlu antre.
2. Jika kartu macet dan tidak bisa keluar dengan usaha sendiri, 
tinggalkan saja karena orang lain tidak bisa menggunakan tanpa 
mengetahui PIN-nya dan segera lapor ke bank setempat (tentu pada hari 


kerja).
3. Pada saat pembaca panik karena jadwal padat, ditunggu dalam waktu
singkat, sehingga secara emosional tidak stabil, mungkin juga sedang
berantem sebaiknya hindari transaksi menggunakan ATM karena daya 


analisa menurun dan sangat memungkinkan terjadi kesalahan.
4. (Walau yang keempat ini tidak terkait dengan sub judul di atas)
rekening yang ber kartu ATM batasi jumlahnya. Yang lain simpan saja di
rekening tanpa kartu ATM dan jika terlanjur diberikan kartu ATM,


kembalikan saja ke bank dan bertransaksilah via kasir.

---      saya delete di sini -----




      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke