Sanak sapalanta

Sebagai selingan saja semoga di
Sumbar  dalam pilkada

Berpolitik dan berdemokrasi
dengan sehat

 

Salam-AJ (43+ Pku

 

---------------------------------



REALITA POLITIK DI RIAU

Oleh : Ir. Jupardi

 

Saat ini situasi politik di Riau
sedang panas dan berdenyut sehubungan akan dilaksanakan pemilihan kepala daerah
(Pilkada) pada bulan September 2008. Rusli Zainal (RZ) Gubernur Riau (Gubri) 
Incumbent
secara resmi telah mengundurkan diri dan telah ditetapkan KPUD Riau sebagai
Cagubri periode 2008-20013 berpasangan dengan Sekretaris Daerah   Mambang Mit. 
(MM).

 

Pasangan RM dan MM ini maju  untuk menjadi Gubri dan Wagubri melalui mesin
dan perahu Politik Partai Golkar dengan dukungan (koalisi) partai besar
lainnya.. Apa yang menarik disimak sitausi Politik di Riau saat  ini dan ramai 
dibicarakan oleh  segenap masyarakat di Riau  lebih khususnya Kota Pekanbaru  
yaitu disaat-saat akhir tenggang waktu
pendaftaran Cagub dan Cawagub mundurnya Wakil Gubernur Wan Abu Bakar (WAB) yang
merupakan pasangan Gubernur RZ selama ini.(Periode 2003-2008)

 

WAB adalah salah satu tokoh yang
membesar partainya  PPP selama ini jauh
sebelum reformasi bergulir, dalam masa kepemimpinannya sebagai Wagubri tokoh 
Riau
asal Bengkalis ini terkenal tegas, jujur dan jauh dari isu-isu KKN bahkan
sebagai Wagubri dia cukup vocal dan kritis menentang beberapa kebijakan 
“komandannya”
Gubri RZ yang dia anggap bertentangan dengan hati nuraninya sebagai
penyelenggara/pejabat Negara.

 

WAB telah dikhianati, ditohok
dari belakang dan digunting dalam lipatan oleh kadernya dan elite Politik PPP
di Riau, dimasa Injury Time (masa
akhir pendaftaran ke KPUD) DPP PPP serta DPW PPP Riau malah menetapkan dan
memberikan dukungan kepada pasangan RZ dan MM. Sungguh tragis yang dialami WAB
menurut logika dan nalar sehat sebagai kader murni yang jatuh bangun membesar
PPP apapun alasannya para elite PPP tentu harus menggunakan mesin dan perahu
politiknya untuk mendukung kadernya maju menjadi Gubri.

 

 

Bahkan lebih tragis lagi WAB
sebagai ketua PPP sebelum menjabat Wagubri rela melepas jabatannya di Partai,
sebuah langkah yang tidak populer dimata para Elite Partai dan Kekuasaan.,
disinilah kenegarawan WAB diuji ketika dia menjadi penyelenggarakan Negara maka
semua baju kepartaiannya dilepas, WAB menjadi milik semua lapisan masyarakat.
Apa boleh buat di dunia Politik juga bisa dinyanyikan lagu Vina Panduwinata
yang cukup populer “Cinta tak mengenal Logika” begitu juga “Politik bahkan jauh
dari Logika”

 

 

Anehnya lagi RZ dan MM tidak
pernah sedikitpun melirik PPP untuk mendukung dirinya, inilah sebuah tragedy
politik yang memalukan dan juga bagian dari pembunuhan berdemokrasi yang sehat
sehingga muncul kesan para Elite PPP di Riau bermain aman dengan segala
kepentingan dan janji-janji (deal) politik dan kekuasaan  nantinya jika RZ dan 
MM terpilih. Dalam
sebuah wawancara ekslusif WAB secara blak-blakan berkata “ya saya tidak cukup
punya uang untuk maju menjadi Gubri,
saya rela dan legowo”

 

Sementara para Elite PPP jika ditanya
tentang tragedy ini, seperti biasa  akan
berkata sebagaimana Idiom  didunia
Politik “ Inilah dunia politik tidak ada
kawan dan lawan yang abadi dan politik itu berubah setiap waktu, yang abadi itu
adalah kepentingan”.

 

 

Kepentingan siapa ?...jika menyimak
tragedy politik diatas sangat jelas kepentingan yang abadi itu buat sekelompok
Elit dan Kekuasaan bukan Rakyat banyak. Berbicara yang abadi itu adalah
kepentingan, tentunya menurut logika dan nalar sehat berdemokrasi adalah
kepentingan rakyat atau masyarakat yang merupakan basis dan akar rumput
(konstituen) partai. Rakyatlah yang membesarkan partainya, karena WAB lah para
konstituen memilih PPP. Kalah menang WAB nantinya bertarung dalam Pilkada itu
urusan lain tapi dari sisi moral dan psikologis PPP tentu merasa menang
dihadapan para pendukungnya dengan berani bertarung dengan RZ-MM yang  cukup 
populer dimata masyarakat Riau.

 

Sungguh sebuah pengkhianatan
dalam berdemokrasi yang dialami oleh WAB, jika demokrasi sebuah pohon, maka
inilah buah busuk dari Demokrasi yang selalu diagung-agungkan. Inilah bentuk
sebuah kejahatan yang dilakukan oleh Politik. Realita Politik di Riau juga
mencermin kondisi berpolitikan bangsa kita baik ditingkat Kabupaten, Propinsi
maupun Nasional.

 

Selamat berjuang Pak Wan Abu
Bakar, akan selalu ada ruang dan Wilayah bagi anda untuk mengabdi bagi
kepentingan Bangsa, Negara dan Masyarakat. Sikap anda yang legowo, sabar,
tawakal dan tidak emosional dalam pengkhianatan ini perjayalah para kader anda
(grass root) bangga melihat anda sebagai salah satu putra terbaik yang dimiliki
Riau.

 

 

Pku, 4 Juli 2008




 



http://jupardi.multiply.com
 



      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke