Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Karano kito urang Minang adolah juo warganegara Indonesia, ambo angkek topik ko
ka palanta, partai ma nan ka kito piliah ? Ma nan madakeki ABS SBK ?
Artikel pak Salahuddin Wahid no mungkin dapek jadi pambuka ota politik. [Dulu
kabanyo urang awak ko jago politik. Kini antah baa kolah, nampaknyo
dingin-dingin sajo, kalau ambo indak salah liek. Wacana kito nampaknyo kini
bakisa ka nan ketek-ketek ajo. ]
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, 71 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED]
SUARA PEMBARUAN DAILY 7 Juli 2008.
Perkiraan Peta Politik 2009
Oleh Salahuddin Wahid
PU belum memutuskan parpol mana yang boleh ikut Pemilu 2009, tetapi tampaknya
akan lebih banyak jumlahnya daripada peserta Pemilu 2004, lebih dari 30 partai.
Itu menunjukkan tingginya minat untuk mendirikan parpol di kalangan tokoh
masyarakat. Contohnya, Wiranto mendirikan Partai Hanura, Prabowo mendirikan
Gerindra, Sutiyoso membantu sejumlah partai, Harmoko juga. Selain itu, muncul
beberapa partai sebagai sempalan dari partai lama yaitu Partai Matahari Bangsa
dan PKNU.
Tentu timbul pertanyaan sejauh mana prospek sekian banyak partai itu? Partai
mana saja yang bisa menembus angka pemilih 2,5% dari jumlah pemilih yang
menggunakan hak suara sehingga bisa dihitung perolehan suaranya? Partai mana
yang bisa memperoleh kursi di atas 3% sehingga bisa membentuk fraksi di DPR.
Tentu tidak mudah menjawab pertanyaan itu kalau tidak menguasai peta politik
Indonesia.
Peta politik Indonesia dimulai pada pemilu pertama tahun 1955. Saat itu empat
partai teratas, yaitu PNI, Masyumi, NU, dan PKI, menguasai sekitar 72% kursi
DPR. Pemilu 1971 sampai 1997 bisa kita abaikan karena pemilunya tidak bebas dan
rahasia. Era Orde Baru berhasil memunculkan Golkar sebagai kekuatan politik
yang berarti sampai sekarang.
Kalau kita kaji secara sederhana, maka PNI menjelma menjadi PDI Perjuangan.
Masyumi menjelma menjadi PAN, PKS, PBB, dan sebagian ikut PPP. Partai NU
menjelma menjadi PKB dan sebagian ikut PPP dan Partai Golkar. Kalau pada tahun
1998 ketika PBNU (baca: Gus Dur) mendirikan partai mengikutsertakan tokoh-tokoh
NU di PPP dan Partai Golkar, bisa jadi partai yang dibentuk PBNU bagi warga NU
itu akan mendapat suara terbesar. PPP akan gembos dan pemilih Partai Golkar
akan berkurang cukup banyak. Tahun 1955 NU memperoleh 18% jumlah suara
Pemilu 2004 menghasilkan tujuh parpol yang menguasai 85% jumlah kursi, yaitu
Partai Golkar, PDI-P, PKB, PPP, PD, PKS, dan PAN. Dari tujuh partai itu,
beberapa mengalami perpecahan. Dari Golkar muncul partai Hanura, dari PDI-P
muncul PDP, dari PKB muncul PKNU, dari PAN muncul PMB. Dari peta 1955, hanya
PNI yang relatif masih utuh, walaupun ada PDP dan partai lain dari rahim PNI
yang sudah ada sejak 1998.
Partai Golkar adalah tempat berhimpun pengikut Pak Harto, yang merupakan salah
satu kekuatan politik yang amat berarti. Selain Golkar, mereka juga berhimpun
di Demokrat, Hanura, dan sejumlah partai lainnya. Tetapi yang bisa menjadi
fraksi di DPR selain Golkar dan Demokrat, tampaknya hanya Hanura, mungkin masih
ada satu partai lagi. Yang lain akan rontok.
Pewaris Masyumi yang masih dekat secara ideologis adalah PKS, yang jelas akan
bertahan bahkan mungkin meningkat perolehan suaranya. PPP hanya menampung
sebagian kecil pelanjut pemilih tradisional Masyumi. PAN dan PMB akan
memperebutkan suara warga Muhammadiyah, walaupun PAN sudah mencoba memperluas
wilayah pemilih. Tampaknya keduanya akan menembus batas 2,5% jumlah pemilih dan
menjadi fraksi kecil atau menengah di DPR. PBB masih belum jelas apakah bisa
menembus batas 2,5% jumlah suara.
Pewaris suara pemilih NU adalah PKB, PKNU, PPP, serta Golkar. PKB jelas akan
me- nurun suaranya akibat konflik internal, tetapi akan tetap bertahan sebagai
fraksi me-nengah kalau didukung Gus Dur. Kalau Gus Dur tidak mendukung, PKB
bisa men- jadi fraksi kecil di DPR. PKNU belum jelas prospeknya dan belum tentu
akan menjadi fraksi di DPR. PPP akan tetap bertahan menjadi fraksi menengah di
DPR.
Dari keempat partai utama Pemilu 1955, masih menjadi teka-teki ke mana para pe-
milih PKI pada Pemilu 1955 akan menyalurkan suaranya? Pada tahun 1999, mereka
memilih PDI-P sehingga partai itu menjadi pemenang per- tama. Tampaknya dalam
Pemilu 2004, banyak dari mereka yang tidak puas terhadap PDI-P dan menjadi
golput, sehingga suara PDI-P merosot tajam. Ke mana mereka akan menyalurkan
suaranya pada 2009? Mereka pasti tidak akan memilih Partai Golkar dan partai
sempalannya. Apakah akan memilih kembali PDI-P? Tampaknya tidak karena PDI-P di
mata mereka tidak lagi memperjuangkan kepentingan rakyat kecil. Kalau Partai
Buruh bisa menjadi peserta pemilu, tampaknya mereka akan memilihnya. Tapi itu
tidak berarti bahwa Partai Buruh itu identik dengan PKI, karena partai itu
berasas Pancasila dan memperjuangkan gagasan negara kesejahteraan dan tidak
anti-agama.
Partai Akan Terpangkas
Dari sekilas analisis di atas, partai yang akan bisa mempunyai fraksi di DPR RI
tidak akan lebih dari sepuluh, bahkan mungkin kurang dari itu. Pendiri dan
aktivis partai yang sekian banyak itu sama sekali tidak memperhatikan peta
politik 1955, 1999, dan 2004, sehingga mereka tidak sadar bahwa kursi yang
diperebutkan sekitar hampir 30 partai itu hanya sekitar 20% dari jumlah kursi.
Mereka terlalu yakin bahwa pemilih akan memilih partai mereka sehingga ada yang
tidak jera ikut dalam pemilu sejak 1999.
Jumlah fraksi sekitar 10 juga masih terlalu banyak, karena itu harus dilakukan
peningkatan batas perolehan suara untuk bisa menjadi fraksi. Angka 3% itu perlu
di tingkatkan menjadi 6% dan akhirnya 15%. Dengan langkah itu, diharapkan hanya
akan ada 4 atau 5 fraksi. Diharapkan dalam Pemilu 2019 batas minimal 15% itu
tercapai.
Pemilihan presiden hanya akan diikuti oleh dua peserta sehingga hanya perlu
pilpres satu putaran. Posisi partai oposisi dan partai pemerintah juga menjadi
jelas dan tegas, tidak seperti sekarang. Diharapkan, kehidupan politik
Indonesia akan menjadi sehat dan partai betul-betul bekerja untuk kepentingan
pemilih (rakyat) dan negara, bukan untuk kepentingan partai dan tokohnya.
Bagaimana masyarakat dan media bisa mengawal upaya penyederhanaan partai
seperti diuraikan dalam alinea di atas, bisa dijalankan? Kalau partai politik
masih meneruskan perilakunya yang lebih mementingkan parpol dan para tokohnya,
jangan heran kalau angka golput akan sangat tinggi.
Penulis adalah Pengasuh Pesantren Tebuireng.
Last modified: 7/7/08
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---