Selasa, 08 Juli 2008
Foto Image :
<http://www.hariansinggalang.co.id/images/stories/demo/other/aini.jpg>
BUTUH BANTUAN= Saripah Aini dari keluarga tidak mampu di Pasbar yang lolos
PMDK di Unand butuh uluran tangan dari dermawan. Yulisman
PASBAR - "Sudah ibu cari ke sana kemari nak, tapi tak dapat juga, dipinjam
sama tetangga, tetangga miskin pula. Kalaulah bapakmu ada, nak..." Saripah
Aini, mengutip ucapan ibunya di kantor perwakilan Harian Singgalang, Simpang
Empat, Senin (7/7).
Matanya berkaca-kaca. Gadis desa kelahiran 1988 tamatan SMA 1 Lembah
Malintang, Pasbar ini, memiliki NEM 46,85. Ia kini menjadi siswi undangan
kuliah di fakultas peternakan Universitas Andalas (Unand), Padang.
Ini memang soal anak miskin yang pintar. Anak miskin, yang kematian bapak.
Anak miskin yang ibunya menjadi buruh di sawah orang. Anak gadis yang
tinggal di gubuk dengan dinding kayu somel. Ini bukan tentang dukalara, tapi
soal cita-cita.Cita-cita telah membuat Sarpiah Aini bekerja kerja menuntut
ilmu di jenjang pendidikan. Kini, ia mendapat kehormatan sebagai siswi
undangan di PMDK Unand fakultas peternakan. Kegembiraan itu ia rasakan
ketika mendapatkan surat yang mengatakan, ia mendapat undangan sebagai siswi
PMDK. Tapi kegembiraan itu hanya dirasakan sejenak. Ketika ia melihat syarat
untuk daftar ulang membayar sekitar Rp3.795.000. Bisa kuliah di Unand
merupakan cita-cita Saripah Aini sejak SD. Tidak tahu mau mengadu ke mana,
sanak keluarga semuanya tidak mempunyai uang. Dicoba meminjam uang kepada
tetangga juga tidak dapat. Setelah sekian hari berjalan untuk mencari uang,
akhirnya ia memutuskan untuk datang ke kantor Harian Singgalang Perwakilan
Pasaman Barat di Jalan Yaptip Simpang Empat.
"Sudah berhari-hari saya mencari bantuan kemana-mana untuk bisa melanjutkan
pendidikan di Unand, Pak, tapi tak juga dapat bantuan maupun tempat
berhutang. Lalu saya teringat dengan Harian Singgalang yang banyak menulis
tentang kisah-kisah orang susah bisa akhirnya melanjutkan pendidikannya
berkat bantuan orang banyak. Saya ingin seperti teman-teman di
kabupaten/kota lainnya Pak bisa melanjutkan pendidikan meskipun dari
keluarga kurang mampu," kata Saripah Aini kepada Singgalang di kantor
kemarin. Saripah adalah salah satu keluarga kurang mampu yang tidak lagi
punya bapak. Ia hanya tinggal bersama ibunya di rumah tidak layak huni yang
berukuran 4X6 meter berdindingkan kayu somel. Rumah kecil tanpa kamar itu
dihuni oleh ibu dan saudaranya di daerah Pondok Sapak Jorong Batang Gunung
Ujung Gading. Pekerjaan sehari-hari orangtuanya buruh di sawah orang,
sedangkan orang tua laki-lakinya sudah meninggal 12 tahun silam. Hanya
orangtua perempuan yang mendayung biduk keluarganya, sebagai buruh yang
bekerja di sawah orang hanya mempunyai upah sekitar Rp25 ribu/hari. Itupun
dalam seminggu hanya 2 kali dijemput orang. Uang Rp50 ribu seminggu tidak
cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Apalagi terkadang dalam satu minggu
tidak ada pekerjaan, sehingga apa adanya saja yang dimakan. Sementara uang
untuk anaknya Rp3.795.000, entah kemana akan dicari.
"Bagaimana lagi nak, ibu sudah berusaha mencari uang, berhutang ke sana
kemari tapi tidak dapat juga. Untuk biaya makan kita sehari-hari saja susah,
bagaimana mau sekolah," kata ibunya, sebagai dikutip Saripah. Mendegar hal
itu hati Saripah sedih dan matanya berkaca-kaca. Tidak tahu apa yang akan
diperbuat, tapi ia tetap berusaha sehingga akhirnya memutuskan untuk singgah
di kantor Harian Singgalang. "Tolonglah bantu saya Pak, bagaimana bisa masuk
kuliah di Unand, kami keluarga tidak mampu. Uang sebesar itu harus di setor
paling lambat tanggal 14-25 Agustus 2008. Sampai saat ini uang belum ada
satu sen pun, sudah dicoba untuk meminjam uang ke tetangga tapi tidak ada
dapat," kata Saripah. Sehari kemarin telah berhasil dikumpulkan dana
Rp1.750.000 di perwakilan Singgalang, Simpang Empat.
Saripah adalah keluarga tidak mampu tapi anaknya pintar, sejak mulai masuk
sekolah ia selau mendapat ranking 6 besar. Prestasinya terus naik sampai ia
tamat dari SMA, sehingga ia mendapat mahasiswa undangan dari Unand.
Dalam sehari-harinya, selain sekolah ia juga bekerja di kebun orang lain
sebagai buruh untuk mendapatkan sesuap nasi. Ditambah lagi adik-adiknya juga
membutuhkan biaya sekolah satu orang di SMP dan SMK.
Tidak ada waktunya untuk bermain-main. Karena ia harus bertarung dengan
kehidupan supaya bisa hidup seperti orang lain. "Saya sangat berharap kepada
dermawan bisa membantu saya untuk bisa masuk kuliah di Unand, bahkan saya
siap untuk menjadi anak angkatnya. Kalau ini saya dapat, maka saya berjanji
akan belajar sungguh-sungguh sehingga bisa mengabdi kepada orang tua, bangsa
dan negara," kata Saripah dari keluarga yang tinggal di pelosok desa yang
sangat memprihatinkan.*
http://www.hariansinggalang.co.id
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---