Filsafat Kerja Masyarakat Minangkabau
Oleh: Willy Aditya[1]
Salah satu yang selalu menarik di Minangkabau ini ialah selalu adanya
usaha untuk memberikan makna terhadap kenyataan yang mengitari diri
berdasarkan paradigma adat yang dianggap masih tetap berlaku. (Taufik
Abdullah)
Kerja secara filsafat merupakan realisasi diri manusia sepenuhnya
dalam hidup ini. Selain itu dalam faktor produksi, kerja ditinjau dari
ekonomi politik merupakan bentuk interaksi manusia merubah nature
untuk membentuk culture, sementara secara sosiologisnya kerja adalah
relasi sosial pertama, dimana bekerja berati bekerja sama. Disinilah
kerja merupakan eksistensi manusia yang paling pokok dalam
merealisasikan sejarah hidupnya.
Kerja produksi merupakan sejarah pertama yang membentuk karakteristik
masyarakat/formasi sosial yang kemudian saling mempunyai relasi sosial
yang menciptakan strata sosial dalam masyarakat. Ada dua tipologi
kerja produksi; yang pertama adalah kerja yang koorporatif dimana
antar subjek tidak ada yang saling berposisi sub-ordinasi sementara
kerja kedua adalah kerja yang menciptakan karakteristik sub-ordinasi
pemilik (The Have) terhadap subjek yang menjadi pekerja (The Labour) .
Dalam sejarah perkembangan masyarakat Indonesia merupakan suatu
perkembangan yang kompleks ditinjau dari ekonomi-politik corak
produksi dan formasi sosial yang membentuk masyarakat. Dimana kultur
produksi agraris yang masih feodal dicangkok oleh para kolonial
Belanda yang membawa corak produksi berdagang diawal dan kemudian
berkembang menjadi masyarakat industri yang kapitalistik. Disinilah
terjadi pergeseran-pergeseran pola produksi dan relasi kerja dalam
masyarakat Indonesia. Pertama tergambar dalam novel Machavellar[2]
dimana seorang pekerja kebun pada tuan tanah yang selama ini bekerja
diberi sebagian hasil garapannya oleh si pemilik dengan istilah
maro[3]. Ketika Belanda datang si pekerja kebingungan hasilnya diambil
semua dan dia mendapat bayaran atas keringat dan kerjanya dengan
upah(uang). Disinilah masyarakat industri baru dikenal di Indonesia,
dimana masyarakat kapitalis primitif sebelumnya dalam bentuk
markantilis/perdagangan masih terlokus di daerah-daerah pesisir.
Setelah meninjau historis dalam konteks masyarakat Indonesia secara
umum, maka dalam meng-ekplorasi gagasan yang jauh lebih mikro dalam
konteks masyarakat Minangkabau merupakan bagian dari Indonesia yang
memiliki identitas sebagai masyarakat markantilis atau Cina[4]-nya
Indonesia, akan kita tilik dari corak produksi dan formasi sosial
masyarakat Minangkabau atau Sumatera Barat-nya sebagai basis historis
dan teoritis.
Dalam konsep kepemilikan masyarakat Minangkabau memiliki dua aturan;
yang pertama adalah tanah kaum yang dimiliki secara komunal, serta
harta pusaka yang bersifat matrilinial dan harta pencaharian yang
diturunkan oleh Ayah kepada anaknya. Dalam kepemilikan masyarakat
Minangkabau sangat ketat dimana tanah atau harta pusaka tidak boleh
diperjual-belikan, apalagi tanah kaum atau kepemilikan adat merupakan
suatu hal yang dikelola secara bersama.
Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan terhadap pergeseran
pola produksi masyarakat Minangkabau terlihat jelas pada fase tanam
paksa 1908-1912 terjadi, dimana rakyat disuruh menanam tanaman
komersil seperti karet, kopi, dan kelapa. Disinilah kata Schrieke
masyarakat Minang mulai mempunyai mentalitas pedagang.
Suatu revolusi dalam semangat yang serupa dengan yang terjadi pada
periode kapitalisme awal di Eropa seperti yang ditunjukkan oleh Max
Weber dan Sombart. (Schieke, 1955:98)
Bersamaan dengan hal ini terjadi pergeseran nilai (baca: corak
produksi) dan strata sosial baru dalam masyarakat, sehingga dengan
tepat Geertz mengemukakan (1976:133)
Dalam dua dasawarsa dari perjumpaan yang kurang akrab dengan
kapitalisme Eropa itu, petani ladang Minangkabau telah berubah menjadi
pedagang pengejar keuntungan yang terjerat erat-erat dalam tali-temali
keuangan ? suatu hal yang tak pernah dapat dicapai oleh petani sawah
Jawa, yang sudah lebih dari seabad lamanya harus berjuang membanting
tulang untuk bisa sekedar hidup.
Nah, disinilah kita dapat mengeksplorasi dalam berbagai tinjauan,
secara sosiologis perkembangan sejarah masyarakat Minangkabau terjadi
sesuatu hal yang unik, dimana banyak asumsi yang menjelaskan bahwa
masyarakat Minangkabau adalah masyarakat pendatang dan tidak ada suatu
kelompok pendatang atau penduduk asli yang dominan terhadap yang
lainnya. Layaknya tanah merdeka dan ditempati bersama-sama oleh para
pendatang yang beragam pula sehingga dalam konsep kepemilikan kaum
atau adat ia lebih bersifat komunal. Dalam hal pameo sering orang
menyebutkan:
Orang batak dengan ciri khas rahang yang besar, orang jawa dengan
mata yang agak sipit dan muka loncong, orang palembang dengan kulit
putih hampir mirip Cina sementara Orang Minangkabau sulit untuk
melihat kesamaan genetis karakteristik fisik dan paras yang mengarah
pada penunjukan suatu perwakilan umum terhadap identitas.
Masyarakat Minangkabau ditinjau dalam tinjauan historis feodal-nya
tidaklah merupakan suatu hal yang lahir dari proses pergeseran pola
produksi dari masyarakat perbudakan menuju kepemilikan tuan-tuan
tanah, tidaklah begitu. Feodalisme atau masa kerajaan di Minangkabau
lebih bersifat politis karena ada penundukkan daerah atau kawasan oleh
Majapahit terhadap Minangkabau. Dalam prosesi inipun Minangkabau tidak
ditundukkan dengan per-perang-an namun dengan negosiasi politik yang
melahirkan kekuasaan kerajaan Pagaruyung tidak begitu hegemonik.
Karena secara kepemilikan atau sistem kultural masih tetap memakai
pola komunal untuk harta kaum dan matrilinial dalam harta pusaka.
Secara politis juga keberpihakan kerajaan Pagaruyung serta kaum Adat
pada pemerintahan VOC lebih menimbulkan kontradiksi yang memaksa
masyarakat Minang untuk melakukan perlawanan. Dalam perspektif
geopolitis kerajaan merupakan sentrum kekuasaan yang akan menjadi
titik utama dari pemerintahan, ekonomi, serta interaksi masyarakatpun
tidak terbukti dengan demografisnya kerajaan Pagaruyung yang jauh
terpencil di Batusangkar serta kalah populer dengan kota-kota pesisir
seperti Padang atau Pariaman serta daerah Luhak yang jauh di dalam
yaitu Bukittinggi.
Disinilah dapat ditinjau secara kritis bagaimana komparasi antara Jawa
yang memiliki struktur produksi dan politik yang foedal seperti apa
yang dijelaskan oleh Greertz diatas, yang membedakan loncatan
perkembangan masyarakatnya secara produksi. Dalam masyarakat
Minangkabau yang tidak melewati fase feodal meloncat pada fase
markantilis atau kapitalisme primitif disini dapat kita tinjau relasi
tenaga produktif dengan alat produksinya yang untuk pembahasan kali
ini lebih fokus pada karakteristik kerja masyarakat Minangkabau.
Pola Produksi dan Munculnya Kelas Pedagang Tenaga produktif yang
tersingkirkan oleh faktor produksi akan lebih banyak mencari peluang
diluarnya, disinilah sebenarnya identitas atau pola ekonomi politik
masyarakat terbentuk. Dalam masyarakat pra feodal apalagi ditegaskan
dengan pola matrilinial dimana dominasi perempuan atas kepemilikan
alat produksi dan sekaligus menjadi tenaga produktif yang menggarap
lahannya telah membuat kaum laki mencari peluang lainnya. Dalam
masyarakat Minangkabau tradisi perantauan dimulai dari gejala
tersingkirnya tenaga produktif dalam proses produksi. Sebab akan
banyak pengangguran yang akan tercipta di kampung halaman bila tidak
mencari pekerjaan yang lainnya.
Masyarakat Minangkabau juga terstimulus oleh pandangan hidup mereka
yang mengatakan alam terkembang jadi guru, dimana mereka dituntut
untuk belajar dan hidup juga di luar negerinya sehingga dituntut untuk
mempunyai daya adaptasi dan interaksi yang organis dan instant. Hal
ini mengakibatkan tidak banyak dilakukannya pembukaan lahan baru dalam
lima puluh tahun terkhir ini. Apalagi opini atau mindstream masyarakat
Minangkabau yang tidak mau kerja kasar atau fisik telah membuat kosong
beberapa kerja secara fungsional, faktor inilah salah satunya yang
membuat migrasi atau transmigrasi penduduk dari daerah lain semakin
massif untuk mengsisi kerja-kerja seperti buruh kereta api, bangunan,
dan lainnya. Disamping faktor budaya yang permisif dan demokratis
terhadap budaya manapun.
Kecendrungan kerja masyarakat Minangkabau yang tersinggirkan dalam
proses produksi ini karena tidak memiliki SKILL[5] untuk membuka lahan
baru dalam produksi agraris apalagi membuka industri rumah tangga
(gilda) seperti masyarakat Eropa yang mampu untuk meningkatkan tenaga
produktif untuk mempunyai skill dan alat produksi yang terus
berkembang seperti apa yang terjadi di Inggris dengan penemuan mesin
uap sebagai cikal-bakal masyarakat industrialis. Disinilah pilihan
kerja untuk tetap menjadi kapitalis primitif yaitu pedagang apalagi
dengan kemampuan merantau dan berjualan apapun menjadi karakteristik
kerja yang tidak memerlukan skill yang unggul dan lama. Selain itu
berdagang atau berjaja masih tetap menjamin pemeliharaan watak
kebebasan untuk menetukan langkah sendiri yang tidak ter-sub ordinat
oleh orang lain.
Lebih baik jadi kepala semut dibandingkan ekor gajah atau lebih baik
jadi tuan kecil dibandingkan budak besar[6]
Kecendrungan karakteristik berdagang ini dituntun oleh budaya verbal
(petah-petitih) dan prosa dalam masyarakat Minangkabau sebab budaya
tulisan baru ditemukan dalam fase masyarakat feodal, sebab bentuk
hegemoni atau dominasi terhadap interpretasi sejarah kekuasaan raja
menjadi penting. Sampai sekarang dengan jaringan para pedagang
Minangkabau yang mengusai sektor informal atau kaki lima yang
seharusnya akan bertransformasi progresif juga tidak terbukti.
Soeharto pernah menggalakkan program GEBU MINANG (Gerakan Seribu) yang
memotivasi masyarakat perantauan minang untuk mengumpulkan seribu
setiap hari-nya dan akan dikelola sebagai bentuk koperasi atau lebih
maju bank (kapitalis finance). Beberapa cacatan yang perlu
digarisbawahi dimana dalam proses transformasi menuju masyarakat
kapitalis yang maju tidak memenuhi prasyaratnya. Dalam bentuk yang
ekstrim seorang kriminolog putra Minangkabau sendiri Amilijoes
Sadanoer menandaskan karena pendidikan yang rendah dan tidak mempunyai
skill akhirnya pekerjaan yang di kampung halaman tidak diterima dan
akhirnya diterima, apalagi persaingan ekonomis di kota-kota besar
seperti Jakarta dimana kemiskinan menciptakan tradisi kejahatan dan
disini pun para perantau Minangkabau tidak terelakkan untuk ambil
peran. Cuma peran yang jauh lebih cerdik dan bersih saja dimainkan
dengan memilih menjadi copet, tidak menjadi perampok atau maling yang
secara vis avis akan berkontradiksi secara fisik.
Kerja Intelektual Sebagai Patokan Kemuliaan
Karakteristik kerja yang cukup mengesankan bagi budaya emas
Minangkabau adalah kerja inteklual-nya. Karakter yang kedua ini
memiliki akar historis yang panjang dan kental sekali sampai sekarang
walaupun tinggal puing-puing kejayaannya masih bisa terlihat seperti
mayat dalam kuburan. Kultur petatah-petitih dan kaba yang sangat
menjunjung tinggi nilai-nilai intelegensia, yang dipandang sebagai
takdir historis kelebihan manusia dibandingkan mahluk lainnya serta
terhadap infrastruktur lainnya seperti tenaga fisik atau kekuatan
fisik. Keunggulan fisik atau kekuataan fisik acap kali diidentikkan
dengan hewan, sementara watak cadiak candokio (intelek) acap kali
tercermin dari kefasihan dalam bertutur kata.
Pentingnya kerja intelektual ini termanifeskan dalam sistem sosial
masyarakat Minangkabau dimana pengambilan keputusan selalu memakai
musyawarah untuk mufakat. Sistem sosial-politik musyawarah untuk
mufakat adalah mekanisme dimana mencari persesuaian, perbedaan
pendapat yang di-dialog-kan serta mencari kata mufakat. Disinih
masyarakat Minangkabau selain memaknai kekerasaan fisik yang cendrung
kurang manusiawi serta kondisi sistem sosial politik yang dialogis dan
egaliter yang tidak membuat banyak masyarakat Minangkabau tidak
menjadi serdadu atau militer.
Ada dua hal yang dilakukan masyarakat Minangkabau untuk pergi
merantau, selain pedagang yang sudah sedikit-banyaknya dibahas diatas
adalah belajar atau pergi menuntut ilmu. Tradisi ini sebenarnya dalam
klasifikasi kelas sosial adalah golongan yang berpunya atau kelas
menengah atas. Tidak jarang beberapa tokoh besar Indonesia dari
Minangkabau merupakan jebolan luar negeri seperti Sutan Ibrahim Datuk
Tan Malaka, Abdul Muis, Moehamad Hatta, Agus Salim. Juga beberapa
tokoh pelopor kebangkitan Islam Padri yang banyak terpengaruh oleh
pemikiran Timur Tengah. Sementara untuk Konteks internal Minangkabau
mempelopori beberapa pilar-pilar pendidikan Indonesia seperti INS
Kayutanam yang didirikan M Syafei pada tahun 1926, Perguruan Thawalib
dan Dinyah Putri di Padangpanjang yang pertama sekali mengajarkan
ilmu-ilmu sekuler di lingkungan agama, sekolah guru di Bukittinggi
yang mencetak banyak pemikir dan tokoh pergerakan. Disinilah
Minangkabau sangat kondusif bagi tradisi intelektual yang progresif
dimana pada masa 1945-1965 terjadi dialektika pemikiran agama Islam
dan Sosialisme yang mewarnai pemikiran mereka.
Bagaimana kegemilangan Kotogadang di Bukittinggi yang mempunyai 1000
orang dokter-dokter di Indonesia. Hal ini menegaskan bahwa orientasi
kelas menengah atas Minangkabau dalam eksplorasi intektual adalah
titik pijak penting dalam tradisi Minangkabau.
Posisi Engku Syafei Dalam Dekonstruksi Masyarakat Lewat Pendidikan
Keberadaan INS Kayutanam sekarang mungkin tidak sebesar sejarah dan
jasanya akan kemerdekaan Indonesia dan pembangunan karakteristik
masyarakat. M. Syafei nama itulah tokoh sentral di balik transformasi
sosial besar dan dialektika masyarakat Minangkabau dalam memecahkan
tantangan zamannya dan mengisi pembangunan resourches manusia-nya. INS
Kayutanam hadir pada posisi kritik fundamental terhadap masyarakat
Indonesia umumnya dan Minangkabau khususnya. Posisi kritik yang
berseberangan dengan karakter pendidikan umum yang menghamba sebagai
juru ketika atau posisi birokrasi baik di zaman kolonial ataupun
kondisi transisi pasca kemerdekaan bahkan sampai sekarang tentang
orientasi primitif dari kaum terpelajar Indonesia yang sesat.
M Syafei hadir dalam Tiga Dimensi pendidikan yang komprehensif dalam
membangun manusia Indonesia yang progresif dan tangguh. Dimensi
spiritual dan seni dalam basis kepercayaan, emosional dan daya imaji
manusia yang kreatif dimensi akal budi sebagai cerminan kekuatan
pikiran manusia dalam memecahkan persoalan hidup dan ilmu pengetahuan
akademik serta dimensi keterampilan produktif atau teknik dalam
menciptakan manusia yang aktif berkarya dan berproduksi sesuai dengan
alam-nya.
Pada posisi inilah INS Kayutanam hadir sebagai bangunan utuh dari
pendidikan yang paripurna dalam menjalankan 3 sekolah umum dalam satu
ruang pendidik asrama seperti tradisi pesantren, sekolah umum dan
sekolah teknik.
INS Kayutanam dalam prakteknya mencoba menjungkirbalikkan tradisi
produksi masyarakat dunia ketiga yang terbelakang dan tertinggal dalam
posisi ilmu pengetahuan serta teknologi. Dekonstruksi karakter
masyarakat yang tidak produktif menjadi produktif inilah yang ingin
dicapai oleh Engku Syafei sebagai pendidik yang banyak mempelajari
Eropa dalam pembangunan masyarakatnya.
Dalam posisi teori dan praktek INS Kayutanam setidak-tidaknya Engku
Syafei telah membuktikan bahwa kemunduran industri nasional dan
industri Sumatera Barat hancur luluh lantah diserbu oleh
Neo-liberalisme. Berproduksi di setiap rumah tangga, jangan hanya bisa
berkomsumsi karena kalau konsumsi lebih tinggi dari produksi maka yang
ada hanyalah hutang dan korupsi[7]
Senyata-nya pelajaran dari Engku Syafei telah melanda masyarakat
Indonesia umumnya dan Minangkabau khususnya dengan cacatan nomor wahid
sebagai negara penghutang dan penuh sesak oleh koruptor.
Penutup
Dalam dua kutub besar dapat digambarkan bagaimana lahirnya kerja
berdagang akibat seleksi tenaga produktif yang tidak memiliki skill
dan harus merantau untuk mencari pemenuhan eksistensi hidupnya di luar
kampung halaman yang lebih banyak merupakan cita-cita kelas bawah
dalam mencari pekerjaan di luar keluarga dan kampung halaman, entah
apapun pekerjaannya dan paling ekstrim adalah tindakan kriminalitas.
Sementara kerja intelektual adalah realisasi diri kelas menengah-atas
Minangkabau yang menyisakan banyak puing-puing ke-emas-an serta sampai
sekarang masih terus bergulir.
Dalam filsafat kerjanya masyarakat Minangkabau lebih menonjolkan sisi
intelektual/intelegensi yang lebih meninggalkan kerja kasar dan
kekerasaan fisik jikalau diperbolehkan memilih. Tetapi bukan untuk
konteks kontemporer sebab jangan untuk berdagang, untuk jadi buruh
bangunan saja sudah sulit!
Daftar Pustaka:
1. Dialektika Minangkabau dalam Kemelut Sosial dan Politik,
Genta Singgalang Press 1983
2. Alam Ta Kambang Jadi Guru, A A Navis, Grassindo
3. Copet dan Sistem Sosial Minangkabau suatu Perbincangan Permulaan,
Amilijoes Sadanoer
4. Kesempatan Kerja dalam Pembangunan bagi Minagkabau, Hendra Esmara
5. Minangkabau Dalam Dialektika Kebudayaan Nusantara, Muctar Naim
6. Ekonomi Politik strukturalis, Bintang Bersinar, 1960
---------------------------------
[1] Penulis adalah alumnus INS Kayutanam Sumatera Barat dan
Sarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---