Sanak palanta Yth : 
 
Satu lagi cerita pendek Zelfeni
Wimra yang bernuansa minang dan sangat menyentuh perasaan bagi siapa saja yang
membacanya . Cerpen ini bercerita tentang nasib seorang perempuan minang yang
hidup terlunta-lunta diusia senja . Padahal tokoh utama dalam cerita pendek ini
termasuk orang berpunya baik harta pusaka maupun anak-anak  Kalau dapat disebut 
kekurangan adalah dia
tidak punya anak perempuan , dan didalam kekerabatan minangkabau disebut sudah
punah . Satu lagi kekurangan semasa hidupnya  kurang mau bergaul dan menyatu 
dengan lingkungan  dan masyarakat menyebutnya sebagai induak
tubo atau pangka bala dan dalam bahasa Indonesia disebut “ Bigos “ = biang
gossip dan akhirnya oleh masyarakat dikucilkan hingga menemui ajal ditelan
rawang tanpa ada yang tahu , tragis nian !!
 
Zul Amry Piliang ( 61 th ) di jimbaran bali .
 
 
Induak Tubo  
 
Minggu, 22 Juni 2008 (Padangekspres)
 
Penulis : Zelfeni Wimra. 
 
“Dasar orang tua. Nyinyir. Berkali-kali saya ingatkan, tidak usah ke sawah 
lagi. Akan lebih baik, kalau sawah itu dipaduoi saja kepada orang yang lebih 
kuat. Selain tugas kita ringan, hasil tanaman juga akan lebih banyak. Orang 
setua dia tidak layak lagi menggarap sawah barawang itu. Bisa-bisa ia 
terjerembab dan ditelan rawang itu hidup-hidup!”. 
“Anak-anaknya yang tak tahu diri. Semuanya merantau. Seharusnya, salah seorang 
tinggal di kampung, menemani induk yang sudah bungkuk. Sekalipun tidak akan ke 
sawah-ke ladang dan hidup melarat seperti kita ini, paling tidak induk mereka 
punya teman di rumah. Sungguh, kalian akan tahu sendiri nanti, betapa 
berartinya teman di hari tua. Dan, kalian juga akan tahu nanti, betapa lengang 
ketika di hari tua tidak ada teman, meski hanya untuk sekadar bercerita. 
Boleh kalian bayangkan, bagaimana tiba-tiba malaikat pencabut nyawa datang 
tengah malam buta, sedangkan kita tidak punya teman untuk melepas kepergian 
kita. Huh, ini yang tidak disadari anak-anaknya. Kita lihat saja nanti, mereka 
pasti pulang membawa penyesalan. Induk membangkai di rumah, ee, kita terkurung 
di rantau orang. Saya kira, anak-anak seperti ini yang layak dikutuk!” sambut 
seorang yang paling tua di antara kelompok perempuan petani yang sedang bekerja 
itu. 
“Iya. Benar juga kata Kakak,” 
“Tapi kita bisa berbuat apa?” 
“Kita cuma bisa kasihan pada Odang Niro. Lihatlah, jalannya saja sudah oleng. 
Karena hidup harus makan, terpaksa jua ke sawah. Bahkan saya sering lihat, 
memasang buah baju saja sudah tidak benar. Pogotang-nya bogenjuik dan 
tingkuluak usangnya dililitkan apa adanya dan asal saja. Uban keritingnya 
tersembul di sana sini!”
“Ei! Ada yang tidak kalian ketahui. Dengar. Perutnya sudah jatuh: tumbuang!” 
Sekonyong-konyong, orang-orang yang sedang bosiang itu serentak berdiri 
memandang aneh ke arah Odang Niro yang tengah mereka pergunjingkan itu muncul 
terbungkuk-bungkuk dari arah belakang mereka. Odang Niro dengan kombuik di bahu 
memapah langkahnya pada jalan setapak yang mendaki dan kedua sisinya ditumbuhi 
belukar lebat. Ia terhenti sejenak meraba dadanya yang disesaki karena batuk. 
Seperti pagi-pagi biasa, Odang Niro akan pergi ke sawahnya di balik bukit, 
setengah jam berjalan kaki dari rumahnya. Sekilas, ia lihat rombongan 
ganti-ganti borisuak yang sedang masyuk bekerja. Mereka membungkuk mencabut dan 
membenam semak yang tumbuh di antara rumpun padi muda yang berumur dua bulan 
itu. Odang Niro tertarik untuk sejenak bersitirahat. Ia duduk pada sebuah 
pematang yang agak tinggi. Ia jatuhkan kakinya begitu saja dan mencoba mengatur 
nafas dan sebuah senyuman ingin bercengkerama. 
“Padi di sini aman-aman saja, ya. Padi saya tandeh dimakan moncik,” Odang Niro 
separo merintih. Suara seraknya seakan memecah keheningan pagi itu. 
“Padi di sini, ditanam serentak, Dang! Walaupun moncik banyak, tidak begitu 
berpengaruh bagi padi,”sahut salah seorang. 
“Makanya, Dang, kalau mau bertanam padi jangan menyisih dari orang lain. Hidup 
mesti bersama-sama,” ulas yang lain. Tekanan suaranya sama-sama ketus. Hati 
odang Niro seperti ditusuk duri dan di kepalanya seakan ada sekawanan lebah 
yang siap menyengat. Niat hati ingin berbagi cerita, tapi orang-orang 
menyambutnya lain. Dengan berat, ia berdiri dan mengayuh langkah tuanya. 
Sendiri. Sunyi. 
Sosok Odang Niro baru saja menghilang di rimbun belukar, pergunjinga pun 
kembali digelar seperti hentakan kecapi. Gemerisik air pancuran, cericit pipit, 
dan kulik elang di ketinggian seperti tidak restu mendengarnya. Tetapi 
mulut-mulut itu, lidah-lidah itu terlanjur bergetar, melafazkan kesumat yang 
entah karena apa tertuju pada Odang Niro. 
“Benar juga petuah nenek moyang kita: sekali-kali jangan terniat menaruh yang 
tidak baik dalam diri. Mudaratnya terasa bila kita sampai tua. Bila tidak orang 
lain, alam akan menghukum kita,” 
“Hei, jadi, Odang Niro menaruh yang tidak baik?’ 
“Alah, sudah menjadi rahasia umum. Semua orang tahu kalau Odang Niro itu induak 
tubo di kampung ini. Coba perhatikan, semua ciri-ciri induak tubo ada padanya. 
Dengar, biar saya jelaskan. Semua anak Odang Niro  laki-laki, bukan? Nah, 
secara perlahan keturunan Odang Niro akan punah, suami sudah mati pula. 
Tinggallah dia kini seorang diri. Anak-anak gila merantau. Badan sudah iduik 
sogan mati ndak omuah. Lalu, setiap usahanya menanam padi selalu diberantas 
hama. Ada-ada saja hama yang menghancurkan padinya!” 
“Kenapa dikatakan punah? Bukankah nanti dari anak laki-lakinya akan lahir 
cucu-cucu yang masih keturunan odang Niro?” 
“Itu dia tempat lain. Di tempat kita berbeda. Kita memandang keturunan itu dari 
pihak ibu. Laki-laki cuma tampang dan padusi seperti kebun tempat tampang itu 
tumbuh. Makanya tetua kita menghormati tempat tumbuh ini. Coba kalau kita 
hitung-hitung, yang paling banyak berkorban dan lebih banyak menanggung sakit 
dari sejak mengandung, melahirkan, hingga mengasuh anak adalah ibu!” 
“O, jadi karena itu Odang Niro dikatakan akan punah?” 
“Iya! Kasihan sekali pada induak tubo itu…” 
Kalimat-kalimat yang deras, pedas dan panas seperti api memamah kayu kering. 
Tapi siapa yang mau tahu kalau setiap kali sendiri Odang Niro mengemas dan 
merahasiakan tangisnya. Semua ia lakukan secara diam-diam. 
Seperti pagi menjelang siang itu, dalam kerelaannya menerima nasib, Odang Niro 
menyiang padinya. Padi muda yang bergelimpangan di permukaan lumpur karena 
dimamah tikus terus dipilihnya dengan ragam perasaan. Ada sakit, ada iba, dan 
ngilu. 
Batang-batang padi yang mulai hamil ia gumpal bersama semak lalu diinjaknya ke 
dalam lumpur. 
“Semua harus berakhir di perut bumi,” batinnya. 
“Kalau di permukaan bumi hidup hanya bergelimang lara, lebih baik membenam ke 
dalam tanah!” 
Tepat ketika gumpalan padi terakhir yang dipilihnya ia benamkan ke dalam 
lumpur, kakinya mendadak terasa dingin. Ia coba rasakan, ada kekuatan yang 
menghisapnya. Ternyata, saking larut dalam ragam perasaan Odang Niro lupa kalau 
ia sudah sampai di tengah-tengah sawah yang berawang. 
Kakinya semakin dingin. Separuh tubuh bungkuknya pun sudah tertelan lumpur. Ia 
dihisap rawang. Odang Niro bukannya cemas. Ia malah tersenyum. 
“Ternyata ada yang merindukanku,” lirihnya. Namun ketika dingin lumpur sampai 
di lehernya, Odang Niro tersentak. Wajah anak-anaknya yang berada entah di 
rantau mana seketika membayang. Mereka melambai sembari mengucapkan selamat 
jalan. Odang Niro tercekik. Lumpur hidup masuk ke tenggorokanya. Bayangan wajah 
anak-anakya terus berselingan. Tetapi segalanya mendadak gelap .
Tinggallah kini tingkuluak usangnya, terdampar di permukaan Lumpur menggantikan 
batang-batang padi, semak, juga dirinya: ibu tua yang pergi menuntaskan 
kesepian  ke dalam rawang. 
“Bukan. Dia  bukan ibu yang kesepian, tetapi, induak tubo,” bantah seorang 
perempuan anggota ganti-ganti borisuak. 
***
Kalau kau bertemu Uda Pian, Da Lawi, dan Da Karim, sampaikan pesanku bahwa 
sejak lima bulan lalu aku membawa anak-istriku pulang kampung. Kami jadi petani 
saja. Kalau hanya untuk terhindar dari kelaparan dan tanggungjawab 
menyekolahkan tiga orang anak, rasanya kami sanggup menjalaninya di kampung. 
Sawah dan ladang milik ibu kita masih ada dan tak tergarap sejak kami merantau 
enam tahun silam disusul pula dua tahun berikutnya kau kuliah ke kota. Rumah 
kita terlalu luas untuk tubuh bungkuk ibu. 
Sekalipun sesungguhnya kami amat sadar, kalau corak hidup di zaman gebalau ini 
tidak berpihak pada petani. Dan lagi, membawa istri ke rumah ibu dalam adat 
kita memang dipandang ganjil dan sebaiknya jangan dilakukan. Tapi, pikirkanlah, 
pewaris pusaka ibu cuma kita, laki-laki semua. Kalau bukan kita yang mengurus 
sawah dan ladang milik ibu, siapa lagi? Mencari orang yang mau menggarap tanah 
sekarang sukar, Lin. Bukan hanya tanah kita, tanah-tanah lain begitu banyak 
yang ditinggal pemiliknya. 
Malin, Kamu satu-satunya adik jantanku. Kamulah yang kuharapkan untuk mengerti. 
Berharap pada uda Pian, Da Lawi, dan Da Karim tidak akan berpengaruh apa-apa. 
Kau kan tahu sendiri, rantau telah menelan mereka. Pulang sekali setahun saja 
sudah sangat berat bagi mereka. 
Sedangkan ibu, dari hari ke hari selalu muram. Selalu ia risau, tak ingin 
dianggap induak tubo yang ditelan lumpur hidup-hidup. Ibu tidak ingin 
mengakhiri hayat seperti itu.  


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke